PENUMPANG
TERAKHIR
Mentari bulan Februari bersinar
pucat dalam bingkaian awan di langit barat. Pertengahan sore yang sedikit
mendung itu, aku menaiki bus yang akan membawaku ke Cipatujah. Sudah 3 tahun
aku tak berkunjung kesana. Emak menceritakan banyak hal di telepon, katanya
tempat kelahiranku itu sudah banyak berubah.
Kunikmati perjalanan ini sambil
membayangkan rumahku, membayangkan riak ombak menyambutku pulang. Tapi ucapan
Emak yang juga ikut berputar-putar di kepalaku, menjadi pengganjal dalam perjalanan
ini. Aku tak pernah berharap melihat Pantai Cipatujah menjadi sebuah tempat
yang berbeda. Aku ingin tetap mengenalnya sebagai tempat bermain semasa
kecilku, yang nyaman dan damai.
“Ongkosnya, Mas!” Setengah terkejut,
aku merogoh saku dan mengeluarkan selembar uang 50 ribu. Kondektur bus yang
berperawakan gendut itu memberiku kebalian 10 ribu. Ternyata, ongkos bus
Tasik-Cipatujah lebih mahal di banding saat aku SMA dulu. Ah, hal itu memang
sudah lama sekali.
Aku menghela nafas berat dan menyandarkan
kepalaku yang pening ini ke sandaran kursi. Perjalanan yang ku tempuh dari
Jakarta tadi pagi sudah cukup membuatku lelah. Bisa saja aku menunda kepulangan
ini, selama mobilku yang mendadak mogok di Bandung itu di perbaiki. Tapi aku
sudah tak bisa menahan kerinduan pada Emak dan kampung halamanku, lagi pula aku
ingin bernostalgia dengan kendaraan umum bernama Bus.
* * *
Aku terjaga saat seseorang
mengguncang-guncang bahuku. Kudapati langit di luar sana sudah gelap. Setelahnya,
aku mengucek mata untuk menyesuaikan sinar remang-remang yang menyeruak ke
dalam mataku. Detik berikutnya, kudapati gadis berambut ikal berdiri membungkuk
ke arahku.
“Hai. Aku tidak bermaksud
mengganggu, tapi supir itu menyuruhku untuk bertanya. Kau turun dimana?” Tanya
gadis itu, sambil tersenyum begitu manis ke arahku.
Aku mengintip keluar jendela, dan
meyakini tempat gelap itu adalah perkebunan karet. “Kukira aku tidak akan
turun.” Jawabku. ” Tujuanku bahkan masih jauh dari pemberhentian bus ini.”
“Benarkah? Berarti kau juga
penumpang terakhir.” Gadis itu tampak berbinar, membuatku mengerutkan kening.
“Boleh
aku duduk denganmu?” Pintanya, dan akupun mempersilahkanya duduk di kursi kosong
sebelahku.
“Terimakasih.” Katanya seraya
mengatur posisinya senyaman mungkin. Gadis berkameja biru tua itu, meski
wajahnya nampak lelah namun ekspresi wajahnya menunjukan orang yang sangat
bersemangat.
Duduk
berdampingan dengan seorang gadis membuatku sedikit tidak nyaman. Yang aku tau,
makhluk seperti mereka pasti cerewet dan banyak bicara. Aku bukan tipe orang
yang suka membicarakan hal yang tidak penting, itulah sebabnya aku kesulitan selalu
mencairkan suasana, Dan tidak tau topik
apa yang harus di bicarakan dalam kondisi seperti ini. Akhirnya akupun memilih
diam saja, menikmati perjalanan.
Ekor
mataku mengintip gadis itu saat dia berdehem. Baru saja aku merasakan firasat
yang tidak enak. Dan tepat sekali, detik berikutnya gadis itu menyerangku
dengan beberapa pertanyaan. Menggunakan nada cerewet yang sebenarnya sangat
mengganggu pendengaran.
“Apa
kau baru kali ini ke Cipatujah? Kau wisatawan?” Cerocosnya. Aku memutar bola
mataku malas, dan hanya mengangguk untuk menanggapi ucapanya.
Ia merespon jawabanku sambil
tersenyum. “Aku senang masih ada orang di bus ini, apa lagi seorang wisatawan
sepertimu. biasanya aku menjadi penumpang terakhir seorang diri. Tak ada yang
bisa ku ajak bicara kecuali si supir bus yang menyebalkan itu, kondekturnya
sudah turun sebelum penumpang di bus ini berkurang.”
Aku berusaha tidak mendengar suara
cerewet itu dengan memusatkan perhatian ke luar jendela. Tapi gadis ini enggan
berhenti bicara meski sudah ku acuhkan seperti ini, ocehanya malah semakin
panjang lebar. Membuatku teringat seseorang, tapi aku lupa siapa dia.
“Tuan wisatawan, siapkan
kekecewaanmu melihat pantai Cipatujah yang sekarang. Kini mereka sudah tak
seindah dulu. Setahun belakangan ini, banyak perusahaan asing yang
berlomba-lomba mengeruk pasirnya. Truk-truk besar yang beroprasi untuk
perusahaan itu merusak jalan dan mencemari lingkungan.”
Setengah terkejut, aku menatapnya
untuk pertama kali. Dan mendapati air mukanya yang murung. Emak tidak
menceritakanya secara rinci, jadi ini penyebab perubahan itu.
“Mereka merombak tepi pantai, dan
lupa memperbaikinya. Aku ingin sekali membakar mesin-mesin besar itu, tapi
tangan ini tak punya kuasa apa-apa untuk melakukanya. Aku punya harapan besar
untuk petinggi-petinggi negara di istana sana, agar membuka mata lebar-lebar
atas keadaan ini. Tapi sampai saat ini mereka diam saja.”
Gadis itu menghela nafasnya. Lalu
melanjutkan. “Tapi tenang saja, karena kau sudah bertemu denganku maka kau
tidak akan menjadi wisatawan yang kecewa. Aku masih punya tempat yang belum
terjamah perusahaan kotor itu. Tempat itu adalah tempat bermainku semasa
kecil.” Lanjutnya bangga.
Aku membuang nafas berat, dia mulai
lagi. Ingin sekali ku tutup kedua telinga ini.
“Dulu, tempat itu menjadi tempat
favoritku dengan temanku. Sampai suatu ketika, aku tak sengaja menjatuhkanya
dari perahu. Hal itu membuat dia hampir mati tenggelam. Entah kenapa sejak saat itu kami bermusuhan,
dan tak pernah lagi pergi ke sana bersama-sama.”
Tunggu, kenapa tiba-tiba saja ada
satu hal dari ceritanya yang merangsang fikiranku kembali ke masa lalu. Sesuatu
yang membuatku mengorek-ngorek memori masa kecil.
“Aku sudah berusaha minta maaf
padanya, tapi dia tidak pernah memberiku kesempatan. Bahkan sampai dia
meninggalkan desa, permintaan maafku tidak pernah sampai di telinganya.”
Mataku
semakin lekat memandangi gadis itu, mencocok kan wajahnya dengan seseorang di potret
masa laluku. Wajah oval dibingkai rambut ikal sebahu, kulit putih dengan bola
mata coklat terang. Dan senyum gadis itu, ada lesung di pipinya. Membuatku
merindukan seseorang, tapi tidak tau siapa dia.
“Aku
jadi merindukan anak itu.” Katanya, dengan nada sedikit terharu. “Dia sangat
pintar, dan ku dengar dia juga meraih beasiswa sekolah ke luar negri. Walaupun
dia tidak mengingatku, kuharap dia akan baik-baik saja dimana pun dia berada”
Gadis itu terseyum pahit.
Tak
lama ia bergumam lagi. “Aku ingin sekali, mendengar suara cemprengnya lagi.
Memanggilku Emot, dan menyamakan wajahku dengan seekor marmut peliharaanya.”
Mataku
membulat sempurna, itu dia! Aku menemukan memori itu. Aku begitu gembira
sampai-sampai ingin berteriak. Semakin lekat ku pandangi perawakanya, kali ini
sambil berdehem pelan menahan tawa.
“Kau merindukannya?” Kini aku
bersuara, dengan nada setengah tolol.
“Tentu.” Gadis itu menekuk wajahnya
dengan guratan sedih. “Sungguh, aku menyesal. Aku sudah berusaha meminta maaf,
tapi ucapan maafku mungkin tak kan pernah sampai di telinganya. Karna hingga
saat ini, aku tak tau ia dimana__.”
“Aku disini.” Potongku, sambil
menatap matanya dalam-dalam. “Dan satu lagi. Aku tidak ingat kau pernah
berusaha meminta maaf padaku.” Cibirku, melempar senyum penuh arti padanya.
Gadis itu menatapku dalam-dalam
cukup lama. Sejurus kemudian ia membekap mulutnya dengan mata terbuka lebar.
Lalu ku beri dia senyum kecil agar ia yakin, bahwa aku memanglah seseorang yang
di kenalinya.
“Sam?” Panggilnya dengan suara
melengking. Menyaingi suara deru mesin bus. “Samudra. Ini benar kamu? Ya ampun,
aku bahkan tidak mengenalmu. Kau benar-benar berubah.” Pekiknya, tampak luar
bisa terkejut.
“Harusnya tadi aku langsung ingat,
orang paling cerewet di dunia ini kan Cuma kamu.” Aku terkekeh, dan gadis
bernama Emma itu juga ikut tertawa lepas. Ia bahkan memukuli ku berkali-kali. Sekarang,
aku mulai menyukai cara tersenyumnya. Emma, teman kecilku yang manis.
“Jadi sekarang kamu berprofesi
sebagai penumpang terakhir?” Sindirku di tengah ledakan tawa kami berdua.
“Aku emang kerja di Karang Sam, tapi
berhubung kesehatan Bapak lagi menurun. Terpaksa harus bolak-balik tiap hari.”
Katanya, dengan nada innocent yang membuatku gemas.
Setelah
insiden perahu, ini pertama kalinya kami berbincang lagi. Padahal aku dan Emma
menghabiskan masa SMP di sekolah yang sama, tapi tidak pernah saling menyapa
apalagi bicara. Dia juga termasuk siswa yang cerdas, kami pernah menjadi
partner dalam olimpiade matematika. Aku baru sadar dulu sempat menyukainya. Tapi
karena kami tidak saling bicara, aku berusaha melupakan perasaan itu.
“Terus kamu darimana saja, kenapa
gak pernah balik ke kampung?” Tanya Emma.
“Kerja mot.” Jawabku, menggunakan panggilan
lamaku. Emmot.
“Kerja dimana kamu Sam?”
Mendadak tubuhku menegang, lidahku
terasa kelu. Aku ragu untuk menjawabnya, tapi dengan satu helaan nafas akhirnya
ku putuskan untuk menjawab pertanyaan itu. “Aku kerja di ibu kota, kau boleh
menyebutku petinggi negara.”
Emma mendelik tajam, dan bisa ku
lihat bola matanya melebar tak percaya.
Sebelum Emma sempat berkomentar, aku
segera angkat bicara.
“Aku
minta maaf Emma, tapi aku janji akan memperbaiki semuanya.”Ucapku mantap, tepat
saat bus berhenti di tempat pemberhentian. Mengantar kami sebagai penumpang
terakhir.
END






0 komentar:
Posting Komentar