Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Weekly post

BLACK FAIRYS (Fantasy) Chapter 9




TENTANG SAMUDRA
Sebelum Insiden Pembunuhan Sugeng
            Pagi itu awan mendung menutupi langit kota Tasikmalaya, suasana kampus mulai ramai di padati mahasiswa yang lalu lalang. Setelah memarkirkan mobilnya Samudra melangkah dengan tergesa ke arah fakultas Pertanian, saat itu eskpresi Samudra tidak datar seperti biasanya, melainkan tampak gelisah dan ketakutan. Ia melirik arloji yang melingkari lenganya beberapa kali, kemudian celingukan melirik gerbang kampus yang saat itu tengah ramai di padati mahasiswa yang memasukinya. Pemain basket kebanggaan Fakultas Pertanian itu menghentikan langkahnya di dekat gerbang kampus, sekali lagi ia melirik arlojinya dan menghembuskan nafas berat.
            Saat mengamati para mahasiswa yang datang memasuki gerbang kampus, akhirnya Samudra menemukan seseorang yang di tunggunya. Orang itu mengenakan gaun merah bata dengan rambut ikal rapih, berjalan beriringan dengan seorang laki-laki yang tengah di gandeng perempua lain.  Ya benar, gadis itu tidak lain adalah Vanessa.
Setelah memastikan gadis itu telah memasuki area kampus Samudra pun meneruskan langkahnya, namun kali ini langkahnya itu di buat setenang dan se-cool mungkin.
            “SAMUDRA... AAAA... TUNGGGU AKU!!! Aku akan mengawalmu ke gedung fakultas Pertanian.”
            Ucapan yang setiap hari biasa di teriakan Vanessa seakan dapat meredakan kegelisahanya sedikit demi sedikit, meskipun tidak menoleh kebelakang ia bisa menebak bahwa saat ini gadis itu telah mengekorinya. Samudra tidak bisa menahan dirinya lebih lama, ia kemudian mengambil jalan ke arah yang lebih jauh untuk mencari tempat yang sepi. Ketika merasa semuanya telah aman di tempat yang tepat, Samudra menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Ia kemudian berbalik dan menatap lurus ke arah Vanessa yang saat itu melihatnya dengan tatapan heran.
            “Mengapa berhenti?” Tanya Vanessa dengan wajah bingung. “Teruslah berjalan, dan aku akan dengan senang hati mengikutimu dari belakang.” Lanjut Vanessa dengan segaris senyum mengembang di wajahnya.
            Samudra terpaku, ia terdiam dalam waktu yang cukup lama. Tanganya gemetar saat menatap gadis di hadapanya, ia merasakan ketakutan luar biasa memenuhi rongga dadanya. Dengan langkah pasti Samudra menggunakan kaki jenjangnya untuk mempersempit jarak dengan Vanessa, ia langsung merengkuh raga gadis itu dalam dekapanya.
            Vanessa membulatkan matanya kaget, namun pada akhirnya ia bisa mengendalikan semuanya. Karena ini bukanlah pertama kalinya Samudra melakukan hal itu kepadanya. Dia melakukanya lagi, sebenarnya apa alasanya?
            “Kumohon, jangan kamu..” Bisik Samudra yang sama sekali tidak dimengerti oleh Vanessa apa maksudnya. “Semoga bukan kamu.” Lanjutnya dengan nada bergetar yang jelas.
            Seperti sebelum-sebelumnya, setelah mengatakan hal-hal yang aneh Samudra melepaskan pelukanya. Ia kemudian berbalik dan beranjak pergi sebelum Vanessa sempat melontarkan pertanyaan.
*          *          *
            Tepat ketika matahari berada di atas ubun kepala, Samudra membuka penghubung dimensi dunianya dengan dunia manusia yang di tandai bunyi mendengung seperti lolongan kereta, dan dari dunianya itulah kabut aneh tersebut muncul. Kabut yang Samudra namai kabut pengeksekusi  akan turun mengelilingi sudut kampus untuk memilih calon korbanya, kabut itu tidak berpengaruh apa-apa pada orang lain tapi akan langsung menghilangkan korbanya. Begitu kabut itu turun pergerakan rotasi bumi terhenti untuk sementara, hal itu menyebabkan waktu pun otomatis berhenti. Selama hal itu berlangsung semua kenangan yang berkaitan dengan sang korban akan dihilangkan dari memori semua orang.
            Meskipun hal itu bertentangan dengan kata hatinya, Samudra memiliki bagian yang paling di sukainya saat hal itu terjadi. Yaitu ketika baju besi secara ajaib melekat di tubuhnya di sertai busur dan anak panah sebagai senjata penakluk Black Fairy. Suatu kebanggaan tersendiri ketika dirinya mengenakan perlengkapan paling populer diantara kaum Vampir pada masa itu.
            Dengan semangat penuh Samudra memulai pencarianya di tengah lautan kabut, ia bergerak dengan hati-hati dan menajamkan sensitifitas semua alat indranya. Namun seperti biasa, ia tidak bisa 100% memfokuskan diri pada misi pencarian Black Fairy. Setengah hatinya sedang mengkhawatirkan seseorang, dalam dirinya sedang berperang diri antara menyelamatkan orang itu atau tidak. Seandainya orang itu yang menjadi korban, Samudra tak bisa membayangkan akan jadi apa dia di dunia manusia.
            “Sial...........” Keluh Samudra saat fokusnya menemukan sosok Black Fairy, namun tidak sampai satu detik makhluk itu langsung menghilang sebelum dirinya sempat mengambil anak panah.
*          *          *
            Samudra telah mengenakan pakaian manusia lagi saat ia dengan terburu-buru mengunjungi gedung kesenian. Setelah menduga-duga dalam keadaan panik, akhirnya ia bisa menghembuskan nafas lega saat orang yang dicarinya tampak baik-baik saja. Dari balik jendela gedung, diam-diam matanya fokus ke arah Vanessa yang saat itu sedang bercanda dengan sahabat-sahabatnya. Ia mengamatinya cukup lama, dan setelah itu kembali ke gedung pertanian untuk mengambil tasnya.
*          *          *
            Samudra berjalan di koridor dengan perasaan lebih tenang, sehingga ia bisa mengatur ekspresi datar seperti image-nya selama ini. Bersikap sedingin mungkin pada manusia adalah benteng pertahananya agar tidak merasakan empati, namun konsekuensinya ia harus sendirian, tetap sendirian sampai akhir. Rasa empati terhadap manusia bertentangan dengan tugasnya dalam pembunuhan yang terlupakan.
Tapi lelaki yang di sapa dengan nama pendek Sam itu tidak mampu menghadapi Vanessa, gadis itu berhasil merusak benteng pertahananya sehingga harus merasakan empati luar biasa.  Vanessa yang sama sekali tidak menyerah dengan sikap dngin Samudra adalah bagian terbaiknya, poin lainya adalah Samudra mengetahui semua tentang kebaikan Vanessa, semuanya.
            Bayangan tentang Vanessa berakhir saat Samudra melihat sosok Hiro berjalan dengan cepat di ujung koridor, dalam hati ia merasa malas melihat suami palsu Vanessa itu. Saat jarak diantara mereka semakin dekat, Samudra dibuat terkejut dengan serangan Hiro yang tiba-tiba. Dirinya terhuyung ke belakang memegangi pelipis yang baru saja mendapatkan satu pukulan dari Hiro.
            “KEMBALIKAN DIAAAAAAAAAAAA!!!” Teriak Hiro dengan emosi meluap-luap dari sorot matanya. Samudra melihatnya dengan pandangan terheran-heran, tak lama kemudian ekspresinya berubah mengeras dan tampak siap melakukan perlawanan.
            Sea yang baru sampai di tempat itu membulatkan matanya terkejut, ia membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Detik selanjutnya ia menahan Hiro sekuat tenaga agar tidak terjadi serangan selanjutnya.
            “SALAH DIA APA? BANGSAT!!!!!!!!” Maki Hiro tampak uring-uringan di dalam rangkulan Sea.
            Mahasiswa yang berada di sekitar sana ikut tenggelam dalam situasi panik, mereka kemudian mengerumuni Hiro dan Samudra. Beberapa orang mencoba membantu Sea untuk menahan pergerakan Hiro, sementara itu Samudra tampak menahan diri untuk tidak melakukan penyerangan. Ia hanya menatap Hiro dengan tatapan tajam menusuk, seakan ingin menguliti Hiro dengan sorot matanya.
            Vanessa bergabung dalam kerumunan itu setelah seseorang memberitahunya bahwa Hiro terlibat suatu perkelahian. Sampai disana ia mendapati Hiro yang masih uring-uringan berada dalam penjagaan beberapa orang, tepat di hadapanya sosok Samudra berdiri kaku dengan tatapan lurus mematikan. Tanpa membuat jeda lebih lama Vanessa melangkahkan kaki menghampiri seseorang, dan diantara kedua orang itu hanya satu orang yang dipilihnya. Orang itu tidak lain adalah Samudra. Ia meraih tangan Samudra lalu menyeretnya keluar dari kerumunan, hal itu di lakukanya tanpa sempat melihat ke arah Hiro.
            Hal itu menyebabkan emosi Hiro semakin menjadi, ia tidak terima Vanessa pergi dengan orang itu.
            “JANGAN PERNAH MENDEKATINYA!!! ORANG ITU BRENGSEK, ORANG ITU IBLISS....” Raung Hiro menghabiskan volume suaranya untuk berteriak kata-kata itu.
*          *          *
            Samudra mendapati pikiranya kacau saat tanganya berada dalam genggaman Vanessa, bahkan rasa penasaran tentang siapa Hiro sebenarnya hilang begitu saja. Padahal beberapa detik yang lalu otaknya dipenuhi bayang-bayang Hiro dan insting melenyapkanya, ia bisa menebak alasan Hiro menyerangnya berhubungan dengan korban pembunuhan yang terlupakan.
            “Aku tidak apa-apa...” Kata Samudra dengan nada datar yang dibuat-buat, ia menahan langkah Vanessa hingga berhenti. Saat itu ia pura-pura memasang ekspresi dingin seperti yang biasa dilakukanya.
            Vanessa terdiam, ia melepaskan tangan Sam dan menunduk untuk beberapa detik. Kemudian ia berbalik menatap Samudra dengan ekspresi sulit di tebak. “Kumohon, jangan sentuh Hiro.”
            Permintaan Vanessa membuat Sam  tercengang, wajah dinginnya meluruh berganti menjadi ekspresi bingung dan tak percaya. Selama ini jika berhadapan dengan Samudra, Vanessa akan bersikap manja untuk menarik perhatianya. Namun kali ini gadis itu seakan menjadi orang yang berbeda.
            Samudra mundur selangkah, dengan bibir bergetar ia bertanya. “Si.. Siapa kau?”
            Vanessa menggigit bibir bawahnya, ia kemudian menatap Samudra sambil memohon. “Apa pun.. Akan kulakukan apa pun asal kau tidak menyakitinya.”
            Mendadak dadanya terasa sempit. Sam kesakitan melihat sorot peduli Vanessa terhadap Hiro, terlebih lagi karena dirinya juga sangat peduli pada gadis itu.
*          *          *
            “Kau bukan manusia, jadi siapa kau sebenarnya?” Tanya Sam ketika ia dan Vanessa sudah lebih santai duduk berdua di taman kampus.
            “Aku berasal dari dunia yang sama dengan Hiro.” Vanessa menjawab dengan nada putus asa, terdengar penyesalan dalam pengakuanya itu. “Aku diberi tugas rahasia untuk mengawasi Hiro selama berada di dunia manusia.”
            “Hiro mengetahuinya?”
            “Tidak, ayahnya menyuruhku untuk melakukanya diam-diam.” Katanya tak punya pilihan lagi selain mengatakan yang sebenarnya.
            “Kau pastinya sudah tau bahwa aku ini adalah seorang... Vampir”
            Vanessa mengangguk lemah.
            “Apa kau juga seorang mata-mata yang ingin menyelidikiku?” Tanya Sam ragu-ragu.
            Vanessa terdiam, ia semakin menundukan kepalanya.
            Sam menghela nafas panjang. “Apa karena itu kau mendekatiku?”
            Perlahan Vanessa mengangkat kepalanya dengan sorot penyesalan dimatanya.
            Sam menekuk kepalanya sendiri, Vanessa sudah siap untuk menerima semburan kemarahan dari Vampir itu. Namun saat Sam mendongakan wajahnya, ia beranjak dari duduk dengan senyum sumringah di wajahnya.
            “Aku sangat senang bahwa kau bukan manusia.” Seru Hiro membuat Vanessa tercengang, terlebih karena baru kali ini ia melihat makhluk dingin itu tersenyum.
            “Apa pun alasan kamu deketin aku, aku gak peduli. Yang jelas aku lega karena aku bisa berhenti mengkhawatirkanmu. Aku juga gak perlu ngasih penjelasan tentang diri aku sendiri karena kamu sudah tau semuanya.” Sam berlutut di hadapan Vanessa kemudian memegangi kedua tanganya. “Selama ini aku selalu ketakutan, aku takut kamu yang akan menjadi korban selanjutnya.”
            Vanessa membulatkan matanya kaget, ia tidak menyangka respon Sam akan selembut itu. “Aku tidak mengerti Samudra, apa yang kau lakukan?”. Katanya seraya menarik tanganya dari genggaman Samudra.
            “Kumohon jangan seperti ini Vanessa, tetaplah seperti dulu.” Pinta Sam. “Tetaplah menjadi gadis baik yang selalu mengejar Samudra. Kau selalu berupaya merebut perhatianku, dan sekarang kau mendapatkanya.”
            Vanessa dibuat semakin terkejut lagi mendengar permintaan Samudra. “Kau tahu sendiri bahwa itu adalah bagian dari tugasku, dan....”
            “Aku harap kau benar-benar menyukaiku, Vanessa.” Potong Samudra cepat. “Selama ini aku menahanya, aku menyimpan rasa empati untukmu rapat-rapat, karena aku sadar aku tidak boleh punya hubungan dengan manusia.”
“Selama ini aku selalu menghindar meski sebenarnya ingin menghampirimu, aku selalu diam padahal ingin menjawabmu, aku selalu dingin padahal ingin membalas senyumanmu. Rasanya benar-benar sulit saat melakukan itu dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengakhirinya.” Lanjut Samudra terdengar sungguh-sungguh.
            Vanessa tertegun menedengar kata-kata itu. Ibaratkan sebuah mimpi bahwa Samudra yang orang lain tahu adalah lelaki idamanya, saat ini tengah berlutut di hadapan Vanessa mengakui perasaanya sendiri.
            “Setelah tau bahwa kau bukan manusia,  rasanya semua kekhawatiran yang melilitku lepas begitu saja. Ini adalah sebuah mukjizat, sekaligus pertanda yang baik untuk hubungan kita kedepanya.” Kata Samudra mengakhiri kalimatnya dengan seulas senyum yang meluluhkan hati.
*          *          *
            Vanessa pulang terlambat hari itu, Samudra mengantarnya sampai ke rumah dengan mobilnya.
            “Awalnya aku sangat shok saat mendengar bahwa kalian telah menikah, tapi ketika tersiar kabar bahwa pernikahan kalian hanya pura-pura aku sangat lega.” Kata Samudra saat memasuki area perumahan. “Tapi aku tetap tidak suka kalian tinggal bersama.”
            “Sam..” Ujar Vanessa. “Kurasa empatimu berlebihan. Lagi pula, berada di samping Hiro adalah tugasku selama di dunia manusia.”
            “Aku tau, makanya aku sangat kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa.” Sam terdiam, kemudian meneruskan katanya-katanya dengan nada berbeda. “Apa kau juga membenciku?”
            “Hah?”
            “Kurasa Hiro sangat marah padaku karena teman nya menjadi korban pembunuhan yang terlupakan.”
            “Iya itu benar.. Berhenti disini, ini rumahku. “
            Sam menghentikan mobilnya otomatis dihalaman rumah mungil yang tampak elegan itu.
            “Apakah ada salah satu temanmu yang pernah menjadi korban pembunuhan yang terlupakan?” Tanya Sam hati-hati.
            Vanessa menggeleng. “Tapi jika suatu saat kau menyentuh Gisel, Yesi dan Hani, aku tidak akan pernah memaafkanmu.”
            Sam terdiam, ia tidak langsung merespon ucapan Vanessa.
“Aku juga ingin punya teman.” Sam merendahkan nada bicaranya. “Tapi tidak ada teman yang akan membunuh temanya sendiri.”
            “Kau terlalu banyak berpikir Sam, pulang dan istirahatlah.” Kata Vanessa kemudian membuka pintu mobil dan keluar. “Terimakasih sudah mengantarku pulang.”
            “Vanessa..” Panggilan itu membuat Vanessa kembali melongo ke dalam mobil. “Perasaanku padamu...... Lebih dari sekedar empati.”
            Vanessa membulatkan matanya, tubuhnya tiba-tiba saja menjadi kaku.
            “Tapi aku juga tidak akan terburu-buru.” Ujar Sam lembut. “Aku sudah sangat senang jika kau mau menjadi temanku.”
            Vanessa tidak merespon, ekspresinya tidak berubah.
            “Kumohon, selama ini aku selalu sendiri. Aku juga ingin punya teman.”
            Vanessa menghela nafas panjang. “Dalam situasi Hiro yang membencimu, akan sulit untuk kita bisa berteman.”
            “Jika kau mau menjadi temanku.... Aku tidak akan menyakiti Hiro, aku berjanji tidak akan pernah menyentuhnya sedikitpun.”
            Vanessa menggigit bibir bawahnya ragu, ia kemudian menatap Sam dalam-dalam.
            “Setidaknya Hiro memiliki teman, atau paling tidak dia bisa berteman dengan manusia. Semantara aku? Aku tidak bisa.”
            Vanessa menemukan sorot kesepian dalam pancaran mata lelaki itu, perlindungan Hiro yang di tawarkan Sam juga merupakan prioritasnya. Akhirnya tanpa sempat memikirkan pilihan lain Vanessa mengangguk beberapa kali, Sam menyambutnya dengan senyum penuh kemenangan. Senyum yang sudah sangat lama sekali tidak ia perlihatkan pada orang lain.
TBC
Seperti yang sudah disampaikan pada chapter sebelumnya, chapter ini khusus untuk menggambarkan siapa sosok Samudra sebenarnya. Penulisan yang diambil dari sudut pandang Samudra mudah-mudahan bisa membuat kalian mengerti dan mengakui karakternya. Untuk chapter selanjutnya akan kembali memfokuskan cerita pada Hiro.
Terimakasih kepada April yang selalu memberikan komentar tiap Chapternya, Eva yang selalu memeriksa ketepatan penulisanya, Resa yang entah masih suka membaca atau tidak hehehe Dan untuk pendatang baru teh Fildzah... Semoga kalian tidak bosan membaca cerita ini dan terus setia menunggu chapter selanjutnya.
            Dalam chapter 10 nanti, jarak antara Vanessa dan Hiro semakin jauh dengan adanya keberadaan Sea dan Samudra yang semakin mendominasi. Sea selalu menempel di dekat Hiro begitupun Samudra yang terus memaksa Vanessa berada disisinya. Sementara itu kebencian Hiro pada Samudra semakin tak terelakan lagi saat Vanessa lebih memilih Vampir tersebut.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar