TENTANG SAMUDRA
Sebelum Insiden Pembunuhan Sugeng
Pagi itu awan mendung menutupi langit kota Tasikmalaya, suasana
kampus mulai ramai di padati mahasiswa yang lalu lalang. Setelah memarkirkan
mobilnya Samudra melangkah dengan tergesa ke arah fakultas Pertanian, saat itu
eskpresi Samudra tidak datar seperti biasanya, melainkan tampak gelisah dan
ketakutan. Ia melirik arloji yang melingkari lenganya beberapa kali, kemudian
celingukan melirik gerbang kampus yang saat itu tengah ramai di padati
mahasiswa yang memasukinya. Pemain basket kebanggaan Fakultas Pertanian itu
menghentikan langkahnya di dekat gerbang kampus, sekali lagi ia melirik
arlojinya dan menghembuskan nafas berat.
Saat mengamati
para mahasiswa yang datang memasuki gerbang kampus, akhirnya Samudra menemukan
seseorang yang di tunggunya. Orang itu mengenakan gaun merah bata dengan rambut
ikal rapih, berjalan beriringan dengan seorang laki-laki yang tengah di gandeng
perempua lain. Ya benar, gadis itu tidak
lain adalah Vanessa.
Setelah memastikan gadis itu telah memasuki area kampus Samudra pun
meneruskan langkahnya, namun kali ini langkahnya itu di buat setenang dan
se-cool mungkin.
“SAMUDRA...
AAAA... TUNGGGU AKU!!! Aku akan mengawalmu ke gedung fakultas Pertanian.”
Ucapan yang setiap
hari biasa di teriakan Vanessa seakan dapat meredakan kegelisahanya sedikit
demi sedikit, meskipun tidak menoleh kebelakang ia bisa menebak bahwa saat ini
gadis itu telah mengekorinya. Samudra tidak bisa menahan dirinya lebih lama, ia
kemudian mengambil jalan ke arah yang lebih jauh untuk mencari tempat yang
sepi. Ketika merasa semuanya telah aman di tempat yang tepat, Samudra
menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Ia kemudian berbalik dan menatap
lurus ke arah Vanessa yang saat itu melihatnya dengan tatapan heran.
“Mengapa berhenti?”
Tanya Vanessa dengan wajah bingung. “Teruslah berjalan, dan aku akan dengan
senang hati mengikutimu dari belakang.” Lanjut Vanessa dengan segaris senyum
mengembang di wajahnya.
Samudra terpaku,
ia terdiam dalam waktu yang cukup lama. Tanganya gemetar saat menatap gadis di
hadapanya, ia merasakan ketakutan luar biasa memenuhi rongga dadanya. Dengan
langkah pasti Samudra menggunakan kaki jenjangnya untuk mempersempit jarak
dengan Vanessa, ia langsung merengkuh raga gadis itu dalam dekapanya.
Vanessa membulatkan
matanya kaget, namun pada akhirnya ia bisa mengendalikan semuanya. Karena ini
bukanlah pertama kalinya Samudra melakukan hal itu kepadanya. Dia
melakukanya lagi, sebenarnya apa alasanya?
“Kumohon, jangan
kamu..” Bisik Samudra yang sama sekali tidak dimengerti oleh Vanessa apa
maksudnya. “Semoga bukan kamu.” Lanjutnya dengan nada bergetar yang jelas.
Seperti
sebelum-sebelumnya, setelah mengatakan hal-hal yang aneh Samudra melepaskan
pelukanya. Ia kemudian berbalik dan beranjak pergi sebelum Vanessa sempat
melontarkan pertanyaan.
* * *
Tepat ketika
matahari berada di atas ubun kepala, Samudra membuka penghubung dimensi
dunianya dengan dunia manusia yang di tandai bunyi mendengung seperti lolongan
kereta, dan dari dunianya itulah kabut aneh tersebut muncul. Kabut yang Samudra
namai kabut pengeksekusi akan turun
mengelilingi sudut kampus untuk memilih calon korbanya, kabut itu tidak
berpengaruh apa-apa pada orang lain tapi akan langsung menghilangkan korbanya.
Begitu kabut itu turun pergerakan rotasi bumi terhenti untuk sementara, hal itu
menyebabkan waktu pun otomatis berhenti. Selama hal itu berlangsung semua
kenangan yang berkaitan dengan sang korban akan dihilangkan dari memori semua
orang.
Meskipun hal itu
bertentangan dengan kata hatinya, Samudra memiliki bagian yang paling di
sukainya saat hal itu terjadi. Yaitu ketika baju besi secara ajaib melekat di
tubuhnya di sertai busur dan anak panah sebagai senjata penakluk Black Fairy.
Suatu kebanggaan tersendiri ketika dirinya mengenakan perlengkapan paling
populer diantara kaum Vampir pada masa itu.
Dengan semangat
penuh Samudra memulai pencarianya di tengah lautan kabut, ia bergerak dengan
hati-hati dan menajamkan sensitifitas semua alat indranya. Namun seperti biasa,
ia tidak bisa 100% memfokuskan diri pada misi pencarian Black Fairy. Setengah
hatinya sedang mengkhawatirkan seseorang, dalam dirinya sedang berperang diri
antara menyelamatkan orang itu atau tidak. Seandainya orang itu yang menjadi
korban, Samudra tak bisa membayangkan akan jadi apa dia di dunia manusia.
“Sial...........”
Keluh Samudra saat fokusnya menemukan sosok Black Fairy, namun tidak sampai
satu detik makhluk itu langsung menghilang sebelum dirinya sempat mengambil
anak panah.
* * *
Samudra telah
mengenakan pakaian manusia lagi saat ia dengan terburu-buru mengunjungi gedung
kesenian. Setelah menduga-duga dalam keadaan panik, akhirnya ia bisa
menghembuskan nafas lega saat orang yang dicarinya tampak baik-baik saja. Dari
balik jendela gedung, diam-diam matanya fokus ke arah Vanessa yang saat itu
sedang bercanda dengan sahabat-sahabatnya. Ia mengamatinya cukup lama, dan
setelah itu kembali ke gedung pertanian untuk mengambil tasnya.
* * *
Samudra berjalan
di koridor dengan perasaan lebih tenang, sehingga ia bisa mengatur ekspresi
datar seperti image-nya selama ini. Bersikap sedingin mungkin pada manusia
adalah benteng pertahananya agar tidak merasakan empati, namun konsekuensinya
ia harus sendirian, tetap sendirian sampai akhir. Rasa empati terhadap manusia
bertentangan dengan tugasnya dalam pembunuhan yang terlupakan.
Tapi lelaki yang di sapa dengan nama pendek Sam itu tidak mampu
menghadapi Vanessa, gadis itu berhasil merusak benteng pertahananya sehingga harus
merasakan empati luar biasa. Vanessa
yang sama sekali tidak menyerah dengan sikap dngin Samudra adalah bagian terbaiknya,
poin lainya adalah Samudra mengetahui semua tentang kebaikan Vanessa, semuanya.
Bayangan tentang
Vanessa berakhir saat Samudra melihat sosok Hiro berjalan dengan cepat di ujung
koridor, dalam hati ia merasa malas melihat suami palsu Vanessa itu. Saat jarak
diantara mereka semakin dekat, Samudra dibuat terkejut dengan serangan Hiro
yang tiba-tiba. Dirinya terhuyung ke belakang memegangi pelipis yang baru saja
mendapatkan satu pukulan dari Hiro.
“KEMBALIKAN
DIAAAAAAAAAAAA!!!” Teriak Hiro dengan emosi meluap-luap dari sorot matanya.
Samudra melihatnya dengan pandangan terheran-heran, tak lama kemudian
ekspresinya berubah mengeras dan tampak siap melakukan perlawanan.
Sea yang baru
sampai di tempat itu membulatkan matanya terkejut, ia membekap mulutnya sendiri
agar tidak berteriak. Detik selanjutnya ia menahan Hiro sekuat tenaga agar
tidak terjadi serangan selanjutnya.
“SALAH DIA APA?
BANGSAT!!!!!!!!” Maki Hiro tampak uring-uringan di dalam rangkulan Sea.
Mahasiswa yang
berada di sekitar sana ikut tenggelam dalam situasi panik, mereka kemudian
mengerumuni Hiro dan Samudra. Beberapa orang mencoba membantu Sea untuk menahan
pergerakan Hiro, sementara itu Samudra tampak menahan diri untuk tidak
melakukan penyerangan. Ia hanya menatap Hiro dengan tatapan tajam menusuk,
seakan ingin menguliti Hiro dengan sorot matanya.
Vanessa bergabung
dalam kerumunan itu setelah seseorang memberitahunya bahwa Hiro terlibat suatu
perkelahian. Sampai disana ia mendapati Hiro yang masih uring-uringan berada
dalam penjagaan beberapa orang, tepat di hadapanya sosok Samudra berdiri kaku
dengan tatapan lurus mematikan. Tanpa membuat jeda lebih lama Vanessa
melangkahkan kaki menghampiri seseorang, dan diantara kedua orang itu hanya
satu orang yang dipilihnya. Orang itu tidak lain adalah Samudra. Ia meraih
tangan Samudra lalu menyeretnya keluar dari kerumunan, hal itu di lakukanya
tanpa sempat melihat ke arah Hiro.
Hal itu
menyebabkan emosi Hiro semakin menjadi, ia tidak terima Vanessa pergi dengan orang
itu.
“JANGAN PERNAH
MENDEKATINYA!!! ORANG ITU BRENGSEK, ORANG ITU IBLISS....” Raung Hiro
menghabiskan volume suaranya untuk berteriak kata-kata itu.
* * *
Samudra mendapati
pikiranya kacau saat tanganya berada dalam genggaman Vanessa, bahkan rasa penasaran
tentang siapa Hiro sebenarnya hilang begitu saja. Padahal beberapa detik yang
lalu otaknya dipenuhi bayang-bayang Hiro dan insting melenyapkanya, ia bisa
menebak alasan Hiro menyerangnya berhubungan dengan korban pembunuhan yang
terlupakan.
“Aku tidak
apa-apa...” Kata Samudra dengan nada datar yang dibuat-buat, ia menahan langkah
Vanessa hingga berhenti. Saat itu ia pura-pura memasang ekspresi dingin seperti
yang biasa dilakukanya.
Vanessa terdiam,
ia melepaskan tangan Sam dan menunduk untuk beberapa detik. Kemudian ia
berbalik menatap Samudra dengan ekspresi sulit di tebak. “Kumohon, jangan
sentuh Hiro.”
Permintaan Vanessa
membuat Sam tercengang, wajah dinginnya
meluruh berganti menjadi ekspresi bingung dan tak percaya. Selama ini jika
berhadapan dengan Samudra, Vanessa akan bersikap manja untuk menarik
perhatianya. Namun kali ini gadis itu seakan menjadi orang yang berbeda.
Samudra mundur
selangkah, dengan bibir bergetar ia bertanya. “Si.. Siapa kau?”
Vanessa menggigit
bibir bawahnya, ia kemudian menatap Samudra sambil memohon. “Apa pun.. Akan
kulakukan apa pun asal kau tidak menyakitinya.”
Mendadak dadanya
terasa sempit. Sam kesakitan melihat sorot peduli Vanessa terhadap Hiro,
terlebih lagi karena dirinya juga sangat peduli pada gadis itu.
* * *
“Kau bukan
manusia, jadi siapa kau sebenarnya?” Tanya Sam ketika ia dan Vanessa sudah
lebih santai duduk berdua di taman kampus.
“Aku berasal dari
dunia yang sama dengan Hiro.” Vanessa menjawab dengan nada putus asa, terdengar
penyesalan dalam pengakuanya itu. “Aku diberi tugas rahasia untuk mengawasi
Hiro selama berada di dunia manusia.”
“Hiro
mengetahuinya?”
“Tidak, ayahnya
menyuruhku untuk melakukanya diam-diam.” Katanya tak punya pilihan lagi selain
mengatakan yang sebenarnya.
“Kau pastinya
sudah tau bahwa aku ini adalah seorang... Vampir”
Vanessa mengangguk
lemah.
“Apa kau juga
seorang mata-mata yang ingin menyelidikiku?” Tanya Sam ragu-ragu.
Vanessa terdiam,
ia semakin menundukan kepalanya.
Sam menghela nafas
panjang. “Apa karena itu kau mendekatiku?”
Perlahan Vanessa
mengangkat kepalanya dengan sorot penyesalan dimatanya.
Sam menekuk
kepalanya sendiri, Vanessa sudah siap untuk menerima semburan kemarahan dari
Vampir itu. Namun saat Sam mendongakan wajahnya, ia beranjak dari duduk dengan
senyum sumringah di wajahnya.
“Aku sangat senang
bahwa kau bukan manusia.” Seru Hiro membuat Vanessa tercengang, terlebih karena
baru kali ini ia melihat makhluk dingin itu tersenyum.
“Apa pun alasan
kamu deketin aku, aku gak peduli. Yang jelas aku lega karena aku bisa berhenti
mengkhawatirkanmu. Aku juga gak perlu ngasih penjelasan tentang diri aku
sendiri karena kamu sudah tau semuanya.” Sam berlutut di hadapan Vanessa
kemudian memegangi kedua tanganya. “Selama ini aku selalu ketakutan, aku takut
kamu yang akan menjadi korban selanjutnya.”
Vanessa
membulatkan matanya kaget, ia tidak menyangka respon Sam akan selembut itu.
“Aku tidak mengerti Samudra, apa yang kau lakukan?”. Katanya seraya menarik
tanganya dari genggaman Samudra.
“Kumohon jangan
seperti ini Vanessa, tetaplah seperti dulu.” Pinta Sam. “Tetaplah menjadi gadis
baik yang selalu mengejar Samudra. Kau selalu berupaya merebut perhatianku, dan
sekarang kau mendapatkanya.”
Vanessa dibuat
semakin terkejut lagi mendengar permintaan Samudra. “Kau tahu sendiri bahwa itu
adalah bagian dari tugasku, dan....”
“Aku harap kau
benar-benar menyukaiku, Vanessa.” Potong Samudra cepat. “Selama ini aku
menahanya, aku menyimpan rasa empati untukmu rapat-rapat, karena aku sadar aku
tidak boleh punya hubungan dengan manusia.”
“Selama ini aku selalu menghindar meski sebenarnya ingin
menghampirimu, aku selalu diam padahal ingin menjawabmu, aku selalu dingin padahal
ingin membalas senyumanmu. Rasanya benar-benar sulit saat melakukan itu dan
sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengakhirinya.” Lanjut Samudra terdengar
sungguh-sungguh.
Vanessa tertegun
menedengar kata-kata itu. Ibaratkan sebuah mimpi bahwa Samudra yang orang lain
tahu adalah lelaki idamanya, saat ini tengah berlutut di hadapan Vanessa
mengakui perasaanya sendiri.
“Setelah tau bahwa
kau bukan manusia, rasanya semua
kekhawatiran yang melilitku lepas begitu saja. Ini adalah sebuah mukjizat,
sekaligus pertanda yang baik untuk hubungan kita kedepanya.” Kata Samudra
mengakhiri kalimatnya dengan seulas senyum yang meluluhkan hati.
* * *
Vanessa pulang
terlambat hari itu, Samudra mengantarnya sampai ke rumah dengan mobilnya.
“Awalnya aku sangat
shok saat mendengar bahwa kalian telah menikah, tapi ketika tersiar kabar bahwa
pernikahan kalian hanya pura-pura aku sangat lega.” Kata Samudra saat memasuki
area perumahan. “Tapi aku tetap tidak suka kalian tinggal bersama.”
“Sam..” Ujar
Vanessa. “Kurasa empatimu berlebihan. Lagi pula, berada di samping Hiro adalah
tugasku selama di dunia manusia.”
“Aku tau, makanya
aku sangat kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa.” Sam terdiam, kemudian
meneruskan katanya-katanya dengan nada berbeda. “Apa kau juga membenciku?”
“Hah?”
“Kurasa Hiro
sangat marah padaku karena teman nya menjadi korban pembunuhan yang
terlupakan.”
“Iya itu benar..
Berhenti disini, ini rumahku. “
Sam menghentikan
mobilnya otomatis dihalaman rumah mungil yang tampak elegan itu.
“Apakah ada salah
satu temanmu yang pernah menjadi korban pembunuhan yang terlupakan?” Tanya Sam
hati-hati.
Vanessa
menggeleng. “Tapi jika suatu saat kau menyentuh Gisel, Yesi dan Hani, aku tidak
akan pernah memaafkanmu.”
Sam terdiam, ia
tidak langsung merespon ucapan Vanessa.
“Aku juga ingin punya teman.” Sam merendahkan nada bicaranya. “Tapi
tidak ada teman yang akan membunuh temanya sendiri.”
“Kau terlalu
banyak berpikir Sam, pulang dan istirahatlah.” Kata Vanessa kemudian membuka
pintu mobil dan keluar. “Terimakasih sudah mengantarku pulang.”
“Vanessa..” Panggilan
itu membuat Vanessa kembali melongo ke dalam mobil. “Perasaanku padamu......
Lebih dari sekedar empati.”
Vanessa
membulatkan matanya, tubuhnya tiba-tiba saja menjadi kaku.
“Tapi aku juga
tidak akan terburu-buru.” Ujar Sam lembut. “Aku sudah sangat senang jika kau
mau menjadi temanku.”
Vanessa tidak
merespon, ekspresinya tidak berubah.
“Kumohon, selama
ini aku selalu sendiri. Aku juga ingin punya teman.”
Vanessa menghela
nafas panjang. “Dalam situasi Hiro yang membencimu, akan sulit untuk kita bisa
berteman.”
“Jika kau mau
menjadi temanku.... Aku tidak akan menyakiti Hiro, aku berjanji tidak akan
pernah menyentuhnya sedikitpun.”
Vanessa menggigit
bibir bawahnya ragu, ia kemudian menatap Sam dalam-dalam.
“Setidaknya Hiro
memiliki teman, atau paling tidak dia bisa berteman dengan manusia. Semantara
aku? Aku tidak bisa.”
Vanessa menemukan
sorot kesepian dalam pancaran mata lelaki itu, perlindungan Hiro yang di
tawarkan Sam juga merupakan prioritasnya. Akhirnya tanpa sempat memikirkan pilihan
lain Vanessa mengangguk beberapa kali, Sam menyambutnya dengan senyum penuh
kemenangan. Senyum yang sudah sangat lama sekali tidak ia perlihatkan pada
orang lain.
TBC
Seperti yang sudah disampaikan pada chapter sebelumnya, chapter ini
khusus untuk menggambarkan siapa sosok Samudra sebenarnya. Penulisan yang
diambil dari sudut pandang Samudra mudah-mudahan bisa membuat kalian mengerti
dan mengakui karakternya. Untuk chapter selanjutnya akan kembali memfokuskan
cerita pada Hiro.
Terimakasih kepada April yang selalu memberikan komentar tiap
Chapternya, Eva yang selalu memeriksa ketepatan penulisanya, Resa yang entah
masih suka membaca atau tidak hehehe Dan untuk pendatang baru teh Fildzah...
Semoga kalian tidak bosan membaca cerita ini dan terus setia menunggu chapter
selanjutnya.
Dalam chapter 10 nanti, jarak antara
Vanessa dan Hiro semakin jauh dengan adanya keberadaan Sea dan Samudra yang
semakin mendominasi. Sea selalu menempel di dekat Hiro begitupun Samudra yang
terus memaksa Vanessa berada disisinya. Sementara itu kebencian Hiro pada
Samudra semakin tak terelakan lagi saat Vanessa lebih memilih Vampir tersebut.








0 komentar:
Posting Komentar