Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Weekly post

BLACK FAIRYS (Fantasy) Chapter 4

SI GADIS KUMAL MENYEBALKAN
            Hiro melangkah dengan santai menuju gedung paling belakang, matanya menyapu deretan kamar yang berjejer disana. Suasan nampak sepi dan jajaran kamar yang lainya seperti tak berpenghuni.  Hiro melangkah menuju kamar di dekat WC terdekat, dan tanpa pikir panjang membuka kenop pintunya kemudian masuk ke ruangan gelap tersebut. Ia melihat handuk yang tersampir di belakang pintu lalu melangkah ke luar menuju kamar mandi, disana ia membasuh badanya yang penuh pasir dan mandi sekitar 5 menit.
            Saat ke luar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan sehelai handuk, Hiro ingat tas yang berisi baju-bajunya ada pada Mario. Ia mengerang dan menghembuskan nafas berat.
            “Aku akan menghubungi Mario besok, hari ini benar-benar melelahkan.” Katanya sambil melenggang pergi ke dalam kamar.
            Saat itu Hiro malas menyalakan lampu, ia langsung menuju tempat tidur yang berhasil di capainya. Setelah melempar handuk ke sembarang arah, Hiro menutupi tubuhnya dengan selimut dan memeluk tubuhnya sendiri sambil berusaha terlelap.
            30 menit berlalu, tampak bayangan beberapa orang berjalan hati-hati menyusuri lorong di jajaran kamar belakang. Mereka mengendap-ngendap menuju kamar ujung di dekat WC, lalu membuka kenop pintu dengan hati-hati.
            “Sssttttt, berhati-hatilah. Nanti kau membuat kacau rencana ini.” Bisik suara perempuan salah satu dari mereka.
            “Setelah aku menyalakan lilin ini cepat nyalakan lampunya.” Interupsi suara yang lain dengan nada rendah.
            “Iya aku mengerti, ayo kita lakukan sekarang...”
            Saat api lilin sudah dinyalakan, detik itu juga ruangan menjadi terang benderang. Kali ini nampak jelas ruangan persegi panjang dengan tempat tidur lebar dari kayu jati berhiaskan ukiran tradisional terletak berhadapan dengan pintu kamar.
            “HAPPY BIRTHDAY TO YOU............” Nyanyi gadis berjumlah 3 orang secara serentak dan lantang. “HAPPY BIRTHAY TO YOU, HAPPY BIRTHDAY VANESSA. HAPPY BIRTHDAY TO YOU..”
            Penghuni tempat tidur tampak terganggu dengan suara bising itu, seorang gadis berkulit hitam dengan rambut ikal yang berantakan muncul dibalik selimut sambil menggeliat dan menggisik-gisik matanya. Gadis bernama Vanessa itu hanya mengenakan pakaian dalam.
            Awalnya respon ketiga gadis itu biasa saja, namun pada detik selanjutnya tiba-tiba seorang pria muncul dari balik selimut tanpa mengenakan sehelai benangpun. Dan orang itu tidak lain adalah Hiro sendiri.
            “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” Ketiga gadis itu refleks menjerit dan bereaksi panik.
            Hiro dan Vanessa tidak menyadari apa pun sampai pandangan mereka bertemu. Saling melempar tatapan heran dan bingung, masing-masing menatap dimulai dari ujung rambut.
Si gadi kumal perusak suasana. Hiro bergumam dalam hati seraya mendelik tajam. Mengapa gadis hitam pecicilan ini ada di sampingku. Hahh? Disampingku? Kami berdua diatas ranjang?
Setelah dapat mencerna situasi yang terjadi, Hiro maupun Vanessa menjerit bersamaan.
            “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.” Keduanya refleks menelungkupkan kedua tanganya di depan dada, lalu saling tarik menarik selimut untuk menutupi bagian tubuh yang lain.
            Keributan dikamar itu sontak menimbulkan kehebohan, orang-orang yang ada di sekitar kamar mulai berdatangan satu persatu. Kemudian kehebohan semakin menjadi ketika  mereka menyaksikan sepasang manusia dengan pakaian minim saling berebut selimut di atas ranjang.
            Keributan itu mereda ketika seorang dosen berperawakan tinggi menakutkan memasuki area kamar sambil berkacak pinggang.
            “DIAM SEMUANYAAA..............” Teriaknya dengan nada tegas menakutkan.
            Refleks Hiro dan Vanessa pun menghentikan aktivitasnya, Vanessa dengan malu yang tidak terelakan lagi sembunyi di balik selimut. Sementara Hiro dengan bertelanjang dada tampak kebingungan untuk memulai penjelasanya kepada orang-orang,
            “Pak ini... Saya juga tidak mengerti.. Tiba-tiba.. Terang dan orang berteriak-teiak.......” Hiro terbata-bata menjelaskan situasi membingungkan yang dialaminya.
            “Saya butuh alasan yang jelas!!” Geram dosen itu dengan wajah semerah tomat.
*          *          *
            Setelah Hiro dan Vanessa sudah mengenakan pakaian yang pantas, mereka dibawa ke loby dengan di kelilingi sejumlah dosen dan beberapa petugas penginapan. Disana mereka duduk berdampingan, dengan dosen bu Dewi mengapit sisi Vanessa dan juga Pak Miko berada di samping Hiro yang lain. Sementara di sebrang mereka duduk dengan tegak dosen menakutkan yang biasa di sapa Pak Rudi, di sampingnya duduk pemilik penginapan.
            Ketiga teman Vanessa yaitu Hani, Gisel, dan Yesi berkumpul di sudut loby sebagai saksi. Sugeng dan Mario bergabung bersama mereka untuk memberikan kesaksian juga.
            “Mereka mengaku tidak saling kenal bahkan tidak pernah berinteraksi satu sama lain, apa itu benar?” Tanya seorang dosen perempuan biasa di sapa bu Tika.
            Gisel menggeleng. “Aku tidak tahu, tapi memang benar kalau kami baru mengenal Hiro dan tidak pernah berinteraksi denganya.”
            “Tapi..” Potong Yesi. “Kami pernah mendengar celetuk Vanes tentang Hiro.”
            “Celetuk apa?”
            “Dia bilang ‘Seharusnya dia tidak datang ke tempat ini’. Kami tidak tau apa maksudnya, tapi sejak saat itu dia terus memperhatikan Hiro.” Tutur Yesi.
            “Yesi ayolahh, kau kan tahu kalo aku hanya menyukai Samudra.” Vanessa mengelak. “Aku hanya merasa heran karna dia datang ke gedung teater dan tiba-tiba saja menarik turun Sea, kalian semua tau kan drama kita jadi berantakan gara-gara orang ini.” Vanessa menggerakan dagunya ke arah Hiro.
Hiro jadi mengingat peristiswa penculikan Black Fairys palsu beberapa hari yang lalu.
            “Siapa Samudra?”
            “Dia mahasiswa dari fakultas Pertanian.” Jawab Gisel. “Memang dari awal Vanessa sangat menyukai Samudra, dia sering menonton pertandingan basket dan mengirim banyak hadiah untuk Samudra.”
            “Lalu bagaimana ceritanya Vanessa dan Hiro bisa menyewa kamar terpisah?” Bu Tika melanjutkan pertanyaanya.
            “Hiro sudah berencana dari awal ingin menyewa kamar terpisah, kami juga heran.” Sugeng menjawab.
            “Vanessa memang cenderung tidur terpisah dengan kami sejak dulu. Kami tidak curiga sama sekali, kami kira dia hanya punya kebiasaan tidur sendirian.” Kali ini Hani yang menjawab.
            “Karena hari ini ulang tahun Vanessa, kami sengaja mengambil kunci kamarnya. Tapi saat kami masuk untuk memberikan kejutan, ternyata Hiro sudah ada disana... Tanpa baju.” Hani melanjutkan dengan nada malu.
            “Saya juga tidak mengerti kenapa orang ini bisa ada di kamar saya.” Vanessa kembali membuka suara, kali ini dengan nada yang lebih tinggi.
            “Siapa bilang itu kamar kamu?” Tanya Hiro dengan nada menyudutkan.
            “Hei aku duluan yang mesen kamar itu!” Tegas Vanessa.
            “Aku juga udah pesen kamar itu!!” Hiro tak mau kalah.
            “Tapi pak.” Pemilik penginapan angkat bicara. “Pihak kami tidak ada yang menerima pesanan dari saudara Hiro. Kalau Vanessa, memang benar dia meminta kamar terpisah pada pukul 18.00 kepada kami”
            “Tuh kan, jadi kalau bapak mau nyari pelakunya kita sudah tau siapa yang salah disini.” Ketus Vanessa sambil tersenyum sinis.
            Hiro mengerang.“Pak, saya berani bersumpah demi kepala kaum tidak pernah melakukan hal yang kalian bicarakan. Di tempat tinggal saya, saya adalah bungsu yang tidak mengerti apa-apa tentang hubungan orang dewasa. Jadi tolong percalayalah pak...”
            Bukanya memaklumi, justru orang-orang yang ada di loby malah mentertawakanya. Vanessa tampak memandanganya dengan cibiran. Anak ini benar-benar tidak membantu, gusarnya.
            “Walaupun kami tidak mengetahui kronologisnya, setidaknya apa yang kami lihat tadi bisa menyimpulkan sesuatu.” Kata bu Dewi.
            “ Itu hanya ketidaksengajaan, kami...”
            Penjelasan Hiro dipotong Pak Miko yang berkumis tebal. “Disengaja ataupun tidak, kasus ini telah mencoreng nama baik kampus kita. Kami tidak bisa tinggal diam dan akan segera memberikan tindakan.”
            “Benar, bisa jadi kalian melakukanya bukan hanya saat ini.” Timpal bu Dewi.
            “Melakukan apa?” Potong Vanessa. “Bahkan kami tidak mengetahui apa yang terjadi.”
            Dosen-dosen itu tidak menghiraukanya, dan melanjutkan musyawarah mereka.
            “Bisa jadi Vanessa hamil suatu saat nanti, dan itu akan semakin mencoreng nama baik kampus kita.” Bisik-bisik itu tetap sampai di telinga Vanessa, dan ia menekuk kepalanya frustasi.
            “Satu-satunya jalan terbaik adalah mengeluarkan mereka dari kampus, hal ini sekaligus menjadi pelajaran bagi mahasiswa yang lain.”
            “APA??” Hiro dan Vanessa tampak terkejut.
            “Saya tidak bisa meninggalkan kampus dengan cara seperti ini, saya tidak bisa menerimanya.” Protes Vanessa.
            “Saya bahkan belum menyelesaikan tugas saya, saya tidak bisa pergi sebelum menyelesaikanya.” Kali ini giliran Hiro yang menyerukan ketidak setujuan.
            “Di keluarkan atau tidak untuk masalah itu kita akan membicarakanya pada wali kalian. Dan keputusan akan di buat setelah kami berunding.” Kali ini suara Pak Rudi yang tegas terdengar memecah belah sunyi ruangan.
            “Kau tahu kan wali Vanessa bukanlah seseorang yang biasa .” Bisik bu Dewi pada Pak Rudi. “Tidak mudah untuk mengeluarkan dia.”
            “Sehebat apa pun wali Vanessa, kesalahan tetaplah kesalahan. Dan dia akan di hukum sesuai peraturan yang berlaku tanpa deskriminasi.” Tegas pak Rudi sambil melempar tatapan sinis pada Vanessa.
            “Karena kami tidak bisa menghubungi keluarga Hiro, jadi kami hanya akan menunggu kedatangan pihak dari Vanessa.” Lanjutnya.
            “Jangan bilang kalau kalian sudah menghubungi kakek-ku..” Selidik Vanessa dengan nada khawatir.
            “Kakekmu sudah ada dalam perjalanan menuju kesini.”
            Vanessa dengan susah payah menelan ludahnya, ia kemudian menghentak-hentakan kakinya tampak uring-uringan. Sekilas memandang sebal ke arah Hiro.
*          *          *
            Perjalanan dari Tasikmalaya menuju Cipatujah memakan waktu sekitar 3 jam. Waktu sudah merangkak semakin tua ketika kakek Vanessa tiba di loby hotel, pria berusia 60-an itu berjalan tergopoh-gopoh bertumpu pada tongkatnya di dampingi pria berseragam rapi dengan tubuh yang kekar. Dibalik kaca mata minusnya, bola mata kakek itu sibuk mencari sosok Vanessa diantara sekumpulan orang yang tersisa di loby.
            Pak Miko bangkit lalu menyambut kakek Vanessa dengan ramah. “Selamat datang pak Kedi, maaf mengganggu anda malam-malam begini.”
            “Aku tidak ingin meladeni basa basimu, aku ingin langsung mendengar pokok permasalahanya.” Ketus kakek Vanessa yang biasa di panggil Pak Kedi sambil berjalan ke arah Vanessa.
            Semua dosen di ruangan itu menurunkan pandangan matanya, pak Kedi adalah seorang konglomerat yang memiliki perkebunan karet terbesar di pulau Jawa. Tidak ada yang tidak mengenalnya, dan tidak ada yang berani membalas tatapan matanya apalagi menolak perintahnya.
            Bu Dewi bergeser dan memberikan ruang untuk Pak Kedi duduk disebelah Vanessa. Setelah itu pak Rudi menjelaskan kronologis kejadiannya dengan tenang.
            “Meskipun anda penyumbang terbesar di kampus kami, tapi kami akan tetap memberikan hukuman yang pantas. Vanessa tetap akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.” Tutur pak Rudi mengakhiri penjelasanya.
            Pak Kedi menarik sudut bibirnya, raut wajahnya masih tetap tenang. “Anda tidak bisa seenaknya mengeluarkan cucuku.”
            “Tapi kejadian ini akan selamanya menjadi lubang hitam bagi kampus kami, jika kami tidak mengambil tindakan tegas bukankah akan berpengaruh kepada mahasiswa yang lain.” Tambah bu Dewi.
            Suasana loby memanas, meskipun begitu pak Kedi tetap menampilkan air muka yang tenang. Vanessa dan Hiro hanya menjadi pendengar saja saat itu, saat mereka akan buka suara pak Miko mencegahnya.
            “Kejadian itu tidak sepatutnya kalian permasalahkan menjadi serumit ini.” Semua orang membelalakan matanya mendengar perkataan pak Kedi. “Karena sebenarnya kedua orang ini sudah menikah..” Lanjutnya kalem.
            Hiro dan Vanessa refleks bangkit dari tempatnya berdiri dengan wajah luar biasa terkejut.
            “Apa yang kau bicarakan Kek..” Vanessa menuntut penjelasan.
            “Orang tua ini tidak masuk akal..” Hiro menepuk jidatnya sendiri.
            “Kalian tidak perlu menutupinya lagi sekarang.” Pak Kedi menjawab dengan nada datar. “Mereka sebenarnya sudah menikah diam-diam satu bulan yang lalu.”
            Sebelum Hiro dan Vanessa sempat menyangkalnya, pak Kedi sudah menjelaskan panjang lebar seakan telah merencanakanya sedemikian rupa dari jauh-jauh hari.
            “Awalnya saya memerintahkan kepada mereka untuk merahasiakan pernikahan itu dari siapapun, karena saya takut hal itu akan berpengaruh terhadap konsetrasi belajar dan interaksi sosia mereka. Tapi karena sudah terlanjur seperti ini kejadianya. terpaksa saya katakan yang sebenarnya............”
            Bla bla bla bla................ Pak Kedi terus berbicara sampai semua orang di loby tidak bisa bereaksi  apa-apa lagi selain mengangguk-ngangguk.
*          *          *
            Vanessa dan Hiro duduk berdampingan dengan wajah kecut di kursi belakang, Sementara itu Pak Kedi duduk tenang di samping supirnya yang sedang mengemudi. Setelah menyelesaikan permasalahan di penginapan itu pak Kedi langsung membawa pulang keduanya.
            “Apa rencana kakek sebenarnya?” Vanessa bersuara setelah cukup lama berdiam diri. Keheningan di dalam mobil ahirnya terpecah dengan suaranya.
            Pak Kedi menoleh sebentar lalu bergumam.”Kalian berdua kelihatanya cocok juga.”
            Hiro bergidik, ia bergeser untuk memperjauh jarak dengan Vanessa. Selintas dalam pikiranya terbayang sosok kumal Vanessa saat pertama kali mereka bertemu, benar-benar membuatnya ingin muntah. Ia bertanya-tanya jenis kutukan apa yang telah diberikan kepadanya sampai bisa berurusan dengan gadi kumal yang amat dibencinya itu.
            “Ini satu-satunya cara agar tidak di depak dari kampus kalian.” Jawab pak Kedi akhirnya.
            “Kenapa kakek tidak merundingkanya terlebih dulu dengan kami, mungkin saja kami punya solusi lain yang lebih baik.”
            “Misalnya?”
            Vanessa tergagap, ia tidak bisa menjawab perkataan kakeknya. Begitu juga Hiro yang mendadak gugup.
            “Kita bahas masalah ini besok saja, lagi pula kakek sudah terlalu lelah. Kalian istirahatlah sesudah sampai di rumah, dan jangan mengkhawatirkan masalah apa pun.”
*          *          *
            Hiro menggeliat dan terbangun dari tidur nyenyaknya, ia mencium wangi lavender menyeruak memanjakan saluran pernafasanya. Cahaya matahari menerobos dibalik tirai yang sedikit terbuka. Hiro tersenyum-senyum sendiri ketika itu, kemudian menggelindingkan tubuhnya kesana kemari mengelilingi kasur empuk yang di tempatinya.
            Hiro masih ingat dengan jelas semalam ketika sampai di rumah Vanessa yang maha besar nan megah, ia begitu terkagum-kagum sampai lupa mengatupkan rahangnya.
            “Ahh aku ingin tinggal di tempat seperti ini..” Katanya sambil menggerak-gerakan kaki dan tanganya dalam posisi telungkup layaknya kupu-kupu.
            Hiro terperanjat ketika pintu berderak terbuka dan seseorang pelayan masuk ke kamarnya. Pelayan itu membawa nampan berisi segelas teh yang masih mengepulkan asap kecil, tak lama kemudian pak Kedi menyusul masuk ke dalam kamar.
            Hiro langsung beranjak dari tempat tidur dan menghampiri pak Kedi. “Apa bapak akan menyuruh saya pergi sekarang?”
            “Tidak, duduklah dulu.” Pak Kedi maupun Hiro duduk berdampingan di salah satu sofa mewah yang di letakan disana. “Ini tentang cucu kesayanganku, Vanessa.”
            Mendadak Hiro kehilangan selera untuk sekedar mengobrol, ia membuang nafas berat.
            “Kakek begitu menyayanginya tapi keadaan anak itu sangat memperihatinkan, ia tumbuh tanpa sempat mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Dan mungkin kau juga mengerti permasalahan lainya, dengan penampilannya yang....” Kata-kata pak Kedi menggantung.
“Yah kita sebut saja dia cuek terhadap penampilanya.” Lanjut pak Kedi “Kakek khawatir ia tidak bisa menemukan pasangan yang akan menjadi suaminya kelak, sementara umur kakek sudah semakin tua.”
Itu sih sudah pasti, kata Hiro dalam hati. “Memangnya orang tua Vanessa ada dimana?”
Wajah Pak Kedi berubah murung. “Mereka sudah pergi ke surga mendahului kami.”
            Hiro mengangguk dengan wajah ikut berbela sungkawa. “Lalu, maksud kakek mengatakan semua ini padaku?”
            “Yaaaaaa, maksud kakek sih ingin mewujudkan pernikahan kalian menjadi kenyataan.”
            Hiro terbelalak, ia menumpahkan minuman yang baru saja ingin di teguknya.
            “Kakek jangan bercanda..”
            “Ini tidak sesederhana yang kamu fikirkan, kakek juga sudah mempertimbangkanya matang-matang. Lagi pula berita tentang pernikahan kalian sudah menyebar di seluruh kampus, jadi tidak ada alasan untuk menolak status kalian sebagai suami istri.”
            Hiro memijit keningnya yang terasa berat, ia menyesal telah ikut berpartisipasi dalam studytour menyebalkan itu.
            “Jika kamu bersedia menjadi suami yang baik untuk cucuku, aku akan memberikan...... Apapun yang kamu mau.”
            Mata Hiro membulat sempurna, tergiur. Ia menatap lekat wajah pak Kedi memastikan kebenaranya.
            “Benarkah?”
            “Hmm, dan kau boleh tinggal di rumah ini sesuka hatimu.”
            Waaahhhh.. Dalam hati Hiro merasakan kegirangan, tapi kemudian fikiranya tergangu oleh sosok kumal Vanessa yang melintas dalam bayanganya.
            “Kakek juga akan memastika uang sakumu....”
            “Aku bersedia..” Seru Hiro kegirangan. “Aku akan menikahinya.”
            Masa bodoh dengan siapa aku menikah, yang terpenting saat ini adalah uang dan tempat tinggal.. Seru Hiro dalam hati, rasa terganggunya oleh sosok Vanessa akan lenyap jika tersedia jaminan memuaskan seperti yang di tawarkan pak Kedi.
*          *          *
            Jam 08.00 pagi ketika berada di ruang makan, Hiro sudah siap menyantap sarapan paginya saat Vanessa muncul dengan wajah dan rambut yang kusut. Hiro malas untuk melihat secara langsung penampilan calon istrinya, ia menundukan kepalanya dan fokus pada hidangan di meja. Namun selera makanya tiba-tiba saja hilang.
            “Cucuku tercinta yang semanis madu sudah bangun rupanya..” Pak Kedi merangkul Vanessa dengan penuh kasih sayang.
            Uhekkk... Apa kakek itu bercanda? Semanis madu pantatku. Gerutu Hiro dalam hati.
            “Ini minum dulu susunya sayang..” Tangan Vanessa meraih segela susu yang di sodorkan kakeknya, lalu setelah itu pak Kedi membelai-belai rambutnya.
            “Sudah cukup kakek.” Vanessa mengelak dengan lembut. “Aku tidak ingin di perlakukan seperti anak kecil di depan orang lain.”
            “Orang lain apa, orang ini akan segera menjadi suamimu.”
            “Sudah kuduga.” Vanessa membuang muka dari kakeknya. “Baiklah aku setuju. Asalkan kami di izinkan untuk tinggal di luar rumah ini.”
            “Apa maksudmu?” Pak Kedi nampak kebingungan, Hiro pun demikian.
            “Aku ingin memiliki rumah sendiri yang akan aku tempati bersama suamiku.”
            “Apa kau bergurau?” Hiro menyanggahnya.
            Vanessa mendelik, ia kemudian menatap kakeknya dengan tatapan memohon. “Bisakan kakek? Tolonglah.” Ujarnya manja.
            Pak Kedi tertawa. “Cucuku ini benar-benar sudah tumbuh menjadi gadis dewasa, ia tidak ingin ada yang mengganggunya bahkan kakeknya sendiri. Kurasa kau benar-benar menyukai Hiro.”
            Hiro tersedak makanannya sendiri, setelah menghabiskan minuman di gelasnya ia menatap Vanessa kesal.
            “Baiklah. Rumah untuk kalian akan kakek persiapkan.” Seru pak Kedi kemudian melenggang pergi dari ruang makan.
            “Apa rencanamu dengan meninggalkan rumah ini?” Tanya Hiro keberatan.
            Vanessa mengangkat sebelah bibirnya, dan malah balik bertanya. “Apa kau serius ingin menikah denganku?”
            “Kau bercanda? Bahkan aku akan memilih hidup dengan kecoak dari pada serius menikahimu.”
            “Oleh karena itu ikuti saja rencanaku, bodoh.”
            Hiro terperanjat. Bodoh?
            “Jika tinggal disini kita harus benar-benar bersikap sebagai suami istri, kakek akan memperhatikan setiap gerak gerik kita. Apa kau nyaman dengan semua itu?”
            Ohhh.. Hiro mengangguk-ngangguk tanda mengerti.
            “Kita rundingkan masalah ini lebih lanjut setelah menempati rumah baru.”
            “Tapi aku ingin mengajukan permintaan terlebih dahulu.” Hiro mengacungkan tanganya. “Berjanjilah di rumah baru itu kita akan tidur di tempat terpisah.”
            Vanessa memutas bola matanya. “Lalu kau fikir aku ingin tidur sekamar denganmu? Jangan harap!”
            “Baguslah..” Hiro menghela nafas lega, ia bahkan tidak bisa untuk sekedar membayangkan lagi peristiwa kemarin. Berada dalam satu ranjang dengan Vanessa adalah kenangan terburuk dalam hidupnya, yang selamanya akan menjadi lubang hitam di dalam pikiranya sendiri.
TBC
Meskipun pembaca fiksi ini baru satu orang, yaitu My Best Friend April yang setia menunggu chapter selanjutnya hehe tapi aku berharap cerita ini akan di nikmati oleh semua orang suatu saat nanti, dan mereka akan menyukainya Amiin Sertakan komentar dan pesan kesanmu Pril, jangan lupa kritikanya yang membangun!! See you di chapter selanjutnya..

Sekedar bocoran untuk chapter selanjutnya, Hiro akan mendapakan petunjuka tentang Black Fairys. Selain itu ia akan mengenal sosok Samudra, lelaki aneh yang di gilai Vanessa. Lalu bagaimanakah rumah tangga Hiro dan Vanessa yang tidak di landasi perasaan itu? Bagaimana interaksi mereka di rumah baru? Nantikan di chapter selantnya minggu depan ^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar