SI GADIS KUMAL MENYEBALKAN
Hiro melangkah
dengan santai menuju gedung paling belakang, matanya menyapu deretan kamar yang
berjejer disana. Suasan nampak sepi dan jajaran kamar yang lainya seperti tak
berpenghuni. Hiro melangkah menuju kamar
di dekat WC terdekat, dan tanpa pikir panjang membuka kenop pintunya kemudian
masuk ke ruangan gelap tersebut. Ia melihat handuk yang tersampir di belakang
pintu lalu melangkah ke luar menuju kamar mandi, disana ia membasuh badanya
yang penuh pasir dan mandi sekitar 5 menit.
Saat ke luar dari
kamar mandi dengan hanya mengenakan sehelai handuk, Hiro ingat tas yang berisi
baju-bajunya ada pada Mario. Ia mengerang dan menghembuskan nafas berat.
“Aku akan
menghubungi Mario besok, hari ini benar-benar melelahkan.” Katanya sambil
melenggang pergi ke dalam kamar.
Saat itu Hiro
malas menyalakan lampu, ia langsung menuju tempat tidur yang berhasil di
capainya. Setelah melempar handuk ke sembarang arah, Hiro menutupi tubuhnya
dengan selimut dan memeluk tubuhnya sendiri sambil berusaha terlelap.
30 menit berlalu,
tampak bayangan beberapa orang berjalan hati-hati menyusuri lorong di jajaran
kamar belakang. Mereka mengendap-ngendap menuju kamar ujung di dekat WC, lalu
membuka kenop pintu dengan hati-hati.
“Sssttttt,
berhati-hatilah. Nanti kau membuat kacau rencana ini.” Bisik suara perempuan
salah satu dari mereka.
“Setelah aku
menyalakan lilin ini cepat nyalakan lampunya.” Interupsi suara yang lain dengan
nada rendah.
“Iya aku mengerti,
ayo kita lakukan sekarang...”
Saat api lilin
sudah dinyalakan, detik itu juga ruangan menjadi terang benderang. Kali ini
nampak jelas ruangan persegi panjang dengan tempat tidur lebar dari kayu jati
berhiaskan ukiran tradisional terletak berhadapan dengan pintu kamar.
“HAPPY BIRTHDAY TO
YOU............” Nyanyi gadis berjumlah 3 orang secara serentak dan lantang.
“HAPPY BIRTHAY TO YOU, HAPPY BIRTHDAY VANESSA. HAPPY BIRTHDAY TO YOU..”
Penghuni tempat
tidur tampak terganggu dengan suara bising itu, seorang gadis berkulit hitam
dengan rambut ikal yang berantakan muncul dibalik selimut sambil menggeliat dan
menggisik-gisik matanya. Gadis bernama Vanessa itu hanya mengenakan pakaian
dalam.
Awalnya respon
ketiga gadis itu biasa saja, namun pada detik selanjutnya tiba-tiba seorang
pria muncul dari balik selimut tanpa mengenakan sehelai benangpun. Dan orang
itu tidak lain adalah Hiro sendiri.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”
Ketiga gadis itu refleks menjerit dan bereaksi panik.
Hiro dan Vanessa
tidak menyadari apa pun sampai pandangan mereka bertemu. Saling melempar
tatapan heran dan bingung, masing-masing menatap dimulai dari ujung rambut.
Si gadi kumal perusak suasana. Hiro
bergumam dalam hati seraya mendelik tajam. Mengapa gadis hitam pecicilan ini
ada di sampingku. Hahh? Disampingku? Kami berdua diatas ranjang?
Setelah dapat mencerna situasi yang terjadi, Hiro maupun Vanessa
menjerit bersamaan.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.”
Keduanya refleks menelungkupkan kedua tanganya di depan dada, lalu saling tarik
menarik selimut untuk menutupi bagian tubuh yang lain.
Keributan dikamar
itu sontak menimbulkan kehebohan, orang-orang yang ada di sekitar kamar mulai
berdatangan satu persatu. Kemudian kehebohan semakin menjadi ketika mereka menyaksikan sepasang manusia dengan
pakaian minim saling berebut selimut di atas ranjang.
Keributan itu
mereda ketika seorang dosen berperawakan tinggi menakutkan memasuki area kamar
sambil berkacak pinggang.
“DIAM SEMUANYAAA..............”
Teriaknya dengan nada tegas menakutkan.
Refleks Hiro dan
Vanessa pun menghentikan aktivitasnya, Vanessa dengan malu yang tidak terelakan
lagi sembunyi di balik selimut. Sementara Hiro dengan bertelanjang dada tampak
kebingungan untuk memulai penjelasanya kepada orang-orang,
“Pak ini... Saya
juga tidak mengerti.. Tiba-tiba.. Terang dan orang berteriak-teiak.......” Hiro
terbata-bata menjelaskan situasi membingungkan yang dialaminya.
“Saya butuh alasan
yang jelas!!” Geram dosen itu dengan wajah semerah tomat.
* * *
Setelah Hiro dan
Vanessa sudah mengenakan pakaian yang pantas, mereka dibawa ke loby dengan di
kelilingi sejumlah dosen dan beberapa petugas penginapan. Disana mereka duduk
berdampingan, dengan dosen bu Dewi mengapit sisi Vanessa dan juga Pak Miko
berada di samping Hiro yang lain. Sementara di sebrang mereka duduk dengan
tegak dosen menakutkan yang biasa di sapa Pak Rudi, di sampingnya duduk pemilik
penginapan.
Ketiga teman
Vanessa yaitu Hani, Gisel, dan Yesi berkumpul di sudut loby sebagai saksi. Sugeng
dan Mario bergabung bersama mereka untuk memberikan kesaksian juga.
“Mereka mengaku
tidak saling kenal bahkan tidak pernah berinteraksi satu sama lain, apa itu
benar?” Tanya seorang dosen perempuan biasa di sapa bu Tika.
Gisel menggeleng.
“Aku tidak tahu, tapi memang benar kalau kami baru mengenal Hiro dan tidak
pernah berinteraksi denganya.”
“Tapi..” Potong
Yesi. “Kami pernah mendengar celetuk Vanes tentang Hiro.”
“Celetuk apa?”
“Dia bilang
‘Seharusnya dia tidak datang ke tempat ini’. Kami tidak tau apa maksudnya, tapi
sejak saat itu dia terus memperhatikan Hiro.” Tutur Yesi.
“Yesi ayolahh, kau
kan tahu kalo aku hanya menyukai Samudra.” Vanessa mengelak. “Aku hanya merasa
heran karna dia datang ke gedung teater dan tiba-tiba saja menarik turun Sea, kalian
semua tau kan drama kita jadi berantakan gara-gara orang ini.” Vanessa
menggerakan dagunya ke arah Hiro.
Hiro jadi mengingat peristiswa penculikan Black Fairys palsu
beberapa hari yang lalu.
“Siapa Samudra?”
“Dia mahasiswa
dari fakultas Pertanian.” Jawab Gisel. “Memang dari awal Vanessa sangat
menyukai Samudra, dia sering menonton pertandingan basket dan mengirim banyak
hadiah untuk Samudra.”
“Lalu bagaimana
ceritanya Vanessa dan Hiro bisa menyewa kamar terpisah?” Bu Tika melanjutkan
pertanyaanya.
“Hiro sudah
berencana dari awal ingin menyewa kamar terpisah, kami juga heran.” Sugeng
menjawab.
“Vanessa memang
cenderung tidur terpisah dengan kami sejak dulu. Kami tidak curiga sama sekali,
kami kira dia hanya punya kebiasaan tidur sendirian.” Kali ini Hani yang
menjawab.
“Karena hari ini
ulang tahun Vanessa, kami sengaja mengambil kunci kamarnya. Tapi saat kami
masuk untuk memberikan kejutan, ternyata Hiro sudah ada disana... Tanpa baju.”
Hani melanjutkan dengan nada malu.
“Saya juga tidak
mengerti kenapa orang ini bisa ada di kamar saya.” Vanessa kembali membuka
suara, kali ini dengan nada yang lebih tinggi.
“Siapa bilang itu
kamar kamu?” Tanya Hiro dengan nada menyudutkan.
“Hei aku duluan
yang mesen kamar itu!” Tegas Vanessa.
“Aku juga udah
pesen kamar itu!!” Hiro tak mau kalah.
“Tapi pak.”
Pemilik penginapan angkat bicara. “Pihak kami tidak ada yang menerima pesanan
dari saudara Hiro. Kalau Vanessa, memang benar dia meminta kamar terpisah pada
pukul 18.00 kepada kami”
“Tuh kan, jadi
kalau bapak mau nyari pelakunya kita sudah tau siapa yang salah disini.” Ketus
Vanessa sambil tersenyum sinis.
Hiro mengerang.“Pak,
saya berani bersumpah demi kepala kaum tidak pernah melakukan hal yang kalian
bicarakan. Di tempat tinggal saya, saya adalah bungsu yang tidak mengerti
apa-apa tentang hubungan orang dewasa. Jadi tolong percalayalah pak...”
Bukanya memaklumi,
justru orang-orang yang ada di loby malah mentertawakanya. Vanessa tampak
memandanganya dengan cibiran. Anak ini benar-benar tidak membantu, gusarnya.
“Walaupun kami
tidak mengetahui kronologisnya, setidaknya apa yang kami lihat tadi bisa
menyimpulkan sesuatu.” Kata bu Dewi.
“ Itu hanya
ketidaksengajaan, kami...”
Penjelasan Hiro
dipotong Pak Miko yang berkumis tebal. “Disengaja ataupun tidak, kasus ini
telah mencoreng nama baik kampus kita. Kami tidak bisa tinggal diam dan akan
segera memberikan tindakan.”
“Benar, bisa jadi
kalian melakukanya bukan hanya saat ini.” Timpal bu Dewi.
“Melakukan apa?”
Potong Vanessa. “Bahkan kami tidak mengetahui apa yang terjadi.”
Dosen-dosen itu
tidak menghiraukanya, dan melanjutkan musyawarah mereka.
“Bisa jadi Vanessa
hamil suatu saat nanti, dan itu akan semakin mencoreng nama baik kampus kita.”
Bisik-bisik itu tetap sampai di telinga Vanessa, dan ia menekuk kepalanya
frustasi.
“Satu-satunya
jalan terbaik adalah mengeluarkan mereka dari kampus, hal ini sekaligus menjadi
pelajaran bagi mahasiswa yang lain.”
“APA??” Hiro dan
Vanessa tampak terkejut.
“Saya tidak bisa
meninggalkan kampus dengan cara seperti ini, saya tidak bisa menerimanya.”
Protes Vanessa.
“Saya bahkan belum
menyelesaikan tugas saya, saya tidak bisa pergi sebelum menyelesaikanya.” Kali
ini giliran Hiro yang menyerukan ketidak setujuan.
“Di keluarkan atau
tidak untuk masalah itu kita akan membicarakanya pada wali kalian. Dan
keputusan akan di buat setelah kami berunding.” Kali ini suara Pak Rudi yang
tegas terdengar memecah belah sunyi ruangan.
“Kau tahu kan wali
Vanessa bukanlah seseorang yang biasa .” Bisik bu Dewi pada Pak Rudi. “Tidak
mudah untuk mengeluarkan dia.”
“Sehebat apa pun
wali Vanessa, kesalahan tetaplah kesalahan. Dan dia akan di hukum sesuai
peraturan yang berlaku tanpa deskriminasi.” Tegas pak Rudi sambil melempar
tatapan sinis pada Vanessa.
“Karena kami tidak
bisa menghubungi keluarga Hiro, jadi kami hanya akan menunggu kedatangan pihak
dari Vanessa.” Lanjutnya.
“Jangan bilang
kalau kalian sudah menghubungi kakek-ku..” Selidik Vanessa dengan nada
khawatir.
“Kakekmu sudah ada
dalam perjalanan menuju kesini.”
Vanessa dengan
susah payah menelan ludahnya, ia kemudian menghentak-hentakan kakinya tampak
uring-uringan. Sekilas memandang sebal ke arah Hiro.
* * *
Perjalanan dari
Tasikmalaya menuju Cipatujah memakan waktu sekitar 3 jam. Waktu sudah merangkak
semakin tua ketika kakek Vanessa tiba di loby hotel, pria berusia 60-an itu
berjalan tergopoh-gopoh bertumpu pada tongkatnya di dampingi pria berseragam
rapi dengan tubuh yang kekar. Dibalik kaca mata minusnya, bola mata kakek itu
sibuk mencari sosok Vanessa diantara sekumpulan orang yang tersisa di loby.
Pak Miko bangkit
lalu menyambut kakek Vanessa dengan ramah. “Selamat datang pak Kedi, maaf
mengganggu anda malam-malam begini.”
“Aku tidak ingin
meladeni basa basimu, aku ingin langsung mendengar pokok permasalahanya.” Ketus
kakek Vanessa yang biasa di panggil Pak Kedi sambil berjalan ke arah Vanessa.
Semua dosen di
ruangan itu menurunkan pandangan matanya, pak Kedi adalah seorang konglomerat
yang memiliki perkebunan karet terbesar di pulau Jawa. Tidak ada yang tidak
mengenalnya, dan tidak ada yang berani membalas tatapan matanya apalagi menolak
perintahnya.
Bu Dewi bergeser
dan memberikan ruang untuk Pak Kedi duduk disebelah Vanessa. Setelah itu pak
Rudi menjelaskan kronologis kejadiannya dengan tenang.
“Meskipun anda
penyumbang terbesar di kampus kami, tapi kami akan tetap memberikan hukuman
yang pantas. Vanessa tetap akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan yang
berlaku.” Tutur pak Rudi mengakhiri penjelasanya.
Pak Kedi menarik
sudut bibirnya, raut wajahnya masih tetap tenang. “Anda tidak bisa seenaknya
mengeluarkan cucuku.”
“Tapi kejadian ini
akan selamanya menjadi lubang hitam bagi kampus kami, jika kami tidak mengambil
tindakan tegas bukankah akan berpengaruh kepada mahasiswa yang lain.” Tambah bu
Dewi.
Suasana loby
memanas, meskipun begitu pak Kedi tetap menampilkan air muka yang tenang.
Vanessa dan Hiro hanya menjadi pendengar saja saat itu, saat mereka akan buka
suara pak Miko mencegahnya.
“Kejadian itu tidak
sepatutnya kalian permasalahkan menjadi serumit ini.” Semua orang membelalakan
matanya mendengar perkataan pak Kedi. “Karena sebenarnya kedua orang ini sudah
menikah..” Lanjutnya kalem.
Hiro dan Vanessa
refleks bangkit dari tempatnya berdiri dengan wajah luar biasa terkejut.
“Apa yang kau
bicarakan Kek..” Vanessa menuntut penjelasan.
“Orang tua ini
tidak masuk akal..” Hiro menepuk jidatnya sendiri.
“Kalian tidak
perlu menutupinya lagi sekarang.” Pak Kedi menjawab dengan nada datar. “Mereka
sebenarnya sudah menikah diam-diam satu bulan yang lalu.”
Sebelum Hiro dan
Vanessa sempat menyangkalnya, pak Kedi sudah menjelaskan panjang lebar seakan telah
merencanakanya sedemikian rupa dari jauh-jauh hari.
“Awalnya saya
memerintahkan kepada mereka untuk merahasiakan pernikahan itu dari siapapun,
karena saya takut hal itu akan berpengaruh terhadap konsetrasi belajar dan interaksi
sosia mereka. Tapi karena sudah terlanjur seperti ini kejadianya. terpaksa saya
katakan yang sebenarnya............”
Bla bla bla
bla................ Pak Kedi terus berbicara sampai semua orang di loby tidak
bisa bereaksi apa-apa lagi selain mengangguk-ngangguk.
* * *
Vanessa dan Hiro
duduk berdampingan dengan wajah kecut di kursi belakang, Sementara itu Pak Kedi
duduk tenang di samping supirnya yang sedang mengemudi. Setelah menyelesaikan
permasalahan di penginapan itu pak Kedi langsung membawa pulang keduanya.
“Apa rencana kakek
sebenarnya?” Vanessa bersuara setelah cukup lama berdiam diri. Keheningan di
dalam mobil ahirnya terpecah dengan suaranya.
Pak Kedi menoleh
sebentar lalu bergumam.”Kalian berdua kelihatanya cocok juga.”
Hiro bergidik, ia
bergeser untuk memperjauh jarak dengan Vanessa. Selintas dalam pikiranya
terbayang sosok kumal Vanessa saat pertama kali mereka bertemu, benar-benar
membuatnya ingin muntah. Ia bertanya-tanya jenis kutukan apa yang telah
diberikan kepadanya sampai bisa berurusan dengan gadi kumal yang amat
dibencinya itu.
“Ini satu-satunya
cara agar tidak di depak dari kampus kalian.” Jawab pak Kedi akhirnya.
“Kenapa kakek
tidak merundingkanya terlebih dulu dengan kami, mungkin saja kami punya solusi
lain yang lebih baik.”
“Misalnya?”
Vanessa tergagap,
ia tidak bisa menjawab perkataan kakeknya. Begitu juga Hiro yang mendadak
gugup.
“Kita bahas
masalah ini besok saja, lagi pula kakek sudah terlalu lelah. Kalian
istirahatlah sesudah sampai di rumah, dan jangan mengkhawatirkan masalah apa
pun.”
* * *
Hiro menggeliat
dan terbangun dari tidur nyenyaknya, ia mencium wangi lavender menyeruak
memanjakan saluran pernafasanya. Cahaya matahari menerobos dibalik tirai yang
sedikit terbuka. Hiro tersenyum-senyum sendiri ketika itu, kemudian
menggelindingkan tubuhnya kesana kemari mengelilingi kasur empuk yang di
tempatinya.
Hiro masih ingat
dengan jelas semalam ketika sampai di rumah Vanessa yang maha besar nan megah,
ia begitu terkagum-kagum sampai lupa mengatupkan rahangnya.
“Ahh aku ingin
tinggal di tempat seperti ini..” Katanya sambil menggerak-gerakan kaki dan
tanganya dalam posisi telungkup layaknya kupu-kupu.
Hiro terperanjat
ketika pintu berderak terbuka dan seseorang pelayan masuk ke kamarnya. Pelayan
itu membawa nampan berisi segelas teh yang masih mengepulkan asap kecil, tak
lama kemudian pak Kedi menyusul masuk ke dalam kamar.
Hiro langsung
beranjak dari tempat tidur dan menghampiri pak Kedi. “Apa bapak akan menyuruh
saya pergi sekarang?”
“Tidak, duduklah
dulu.” Pak Kedi maupun Hiro duduk berdampingan di salah satu sofa mewah yang di
letakan disana. “Ini tentang cucu kesayanganku, Vanessa.”
Mendadak Hiro
kehilangan selera untuk sekedar mengobrol, ia membuang nafas berat.
“Kakek begitu
menyayanginya tapi keadaan anak itu sangat memperihatinkan, ia tumbuh tanpa
sempat mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Dan mungkin kau juga mengerti
permasalahan lainya, dengan penampilannya yang....” Kata-kata pak Kedi
menggantung.
“Yah kita sebut saja dia cuek terhadap penampilanya.” Lanjut pak
Kedi “Kakek khawatir ia tidak bisa menemukan pasangan yang akan menjadi
suaminya kelak, sementara umur kakek sudah semakin tua.”
Itu sih sudah pasti,
kata Hiro dalam hati. “Memangnya orang tua Vanessa ada dimana?”
Wajah Pak Kedi berubah murung. “Mereka sudah pergi ke surga
mendahului kami.”
Hiro mengangguk
dengan wajah ikut berbela sungkawa. “Lalu, maksud kakek mengatakan semua ini
padaku?”
“Yaaaaaa, maksud
kakek sih ingin mewujudkan pernikahan kalian menjadi kenyataan.”
Hiro terbelalak,
ia menumpahkan minuman yang baru saja ingin di teguknya.
“Kakek jangan
bercanda..”
“Ini tidak
sesederhana yang kamu fikirkan, kakek juga sudah mempertimbangkanya
matang-matang. Lagi pula berita tentang pernikahan kalian sudah menyebar di
seluruh kampus, jadi tidak ada alasan untuk menolak status kalian sebagai suami
istri.”
Hiro memijit
keningnya yang terasa berat, ia menyesal telah ikut berpartisipasi dalam
studytour menyebalkan itu.
“Jika kamu
bersedia menjadi suami yang baik untuk cucuku, aku akan memberikan...... Apapun
yang kamu mau.”
Mata Hiro membulat
sempurna, tergiur. Ia menatap lekat wajah pak Kedi memastikan kebenaranya.
“Benarkah?”
“Hmm, dan kau
boleh tinggal di rumah ini sesuka hatimu.”
Waaahhhh.. Dalam
hati Hiro merasakan kegirangan, tapi kemudian fikiranya tergangu oleh sosok
kumal Vanessa yang melintas dalam bayanganya.
“Kakek juga akan
memastika uang sakumu....”
“Aku bersedia..”
Seru Hiro kegirangan. “Aku akan menikahinya.”
Masa bodoh
dengan siapa aku menikah, yang terpenting saat ini adalah uang dan tempat
tinggal.. Seru Hiro dalam hati, rasa terganggunya oleh sosok Vanessa akan
lenyap jika tersedia jaminan memuaskan seperti yang di tawarkan pak Kedi.
* * *
Jam 08.00 pagi
ketika berada di ruang makan, Hiro sudah siap menyantap sarapan paginya saat
Vanessa muncul dengan wajah dan rambut yang kusut. Hiro malas untuk melihat
secara langsung penampilan calon istrinya, ia menundukan kepalanya dan fokus
pada hidangan di meja. Namun selera makanya tiba-tiba saja hilang.
“Cucuku tercinta
yang semanis madu sudah bangun rupanya..” Pak Kedi merangkul Vanessa dengan
penuh kasih sayang.
Uhekkk... Apa
kakek itu bercanda? Semanis madu pantatku. Gerutu Hiro dalam hati.
“Ini minum dulu
susunya sayang..” Tangan Vanessa meraih segela susu yang di sodorkan kakeknya,
lalu setelah itu pak Kedi membelai-belai rambutnya.
“Sudah cukup
kakek.” Vanessa mengelak dengan lembut. “Aku tidak ingin di perlakukan seperti
anak kecil di depan orang lain.”
“Orang lain apa,
orang ini akan segera menjadi suamimu.”
“Sudah kuduga.”
Vanessa membuang muka dari kakeknya. “Baiklah aku setuju. Asalkan kami di
izinkan untuk tinggal di luar rumah ini.”
“Apa maksudmu?”
Pak Kedi nampak kebingungan, Hiro pun demikian.
“Aku ingin
memiliki rumah sendiri yang akan aku tempati bersama suamiku.”
“Apa kau
bergurau?” Hiro menyanggahnya.
Vanessa mendelik,
ia kemudian menatap kakeknya dengan tatapan memohon. “Bisakan kakek?
Tolonglah.” Ujarnya manja.
Pak Kedi tertawa.
“Cucuku ini benar-benar sudah tumbuh menjadi gadis dewasa, ia tidak ingin ada
yang mengganggunya bahkan kakeknya sendiri. Kurasa kau benar-benar menyukai
Hiro.”
Hiro tersedak
makanannya sendiri, setelah menghabiskan minuman di gelasnya ia menatap Vanessa
kesal.
“Baiklah. Rumah
untuk kalian akan kakek persiapkan.” Seru pak Kedi kemudian melenggang pergi
dari ruang makan.
“Apa rencanamu
dengan meninggalkan rumah ini?” Tanya Hiro keberatan.
Vanessa mengangkat
sebelah bibirnya, dan malah balik bertanya. “Apa kau serius ingin menikah
denganku?”
“Kau bercanda?
Bahkan aku akan memilih hidup dengan kecoak dari pada serius menikahimu.”
“Oleh karena itu
ikuti saja rencanaku, bodoh.”
Hiro terperanjat. Bodoh?
“Jika tinggal disini kita harus benar-benar bersikap sebagai suami
istri, kakek akan memperhatikan setiap gerak gerik kita. Apa kau nyaman dengan
semua itu?”
Ohhh.. Hiro
mengangguk-ngangguk tanda mengerti.
“Kita rundingkan
masalah ini lebih lanjut setelah menempati rumah baru.”
“Tapi aku ingin
mengajukan permintaan terlebih dahulu.” Hiro mengacungkan tanganya.
“Berjanjilah di rumah baru itu kita akan tidur di tempat terpisah.”
Vanessa memutas
bola matanya. “Lalu kau fikir aku ingin tidur sekamar denganmu? Jangan harap!”
“Baguslah..” Hiro
menghela nafas lega, ia bahkan tidak bisa untuk sekedar membayangkan lagi
peristiwa kemarin. Berada dalam satu ranjang dengan Vanessa adalah kenangan
terburuk dalam hidupnya, yang selamanya akan menjadi lubang hitam di dalam
pikiranya sendiri.
TBC
Meskipun pembaca fiksi ini baru satu orang, yaitu My Best Friend April yang setia menunggu chapter selanjutnya hehe tapi aku berharap cerita ini akan di nikmati oleh semua orang suatu saat nanti, dan mereka akan menyukainya Amiin Sertakan komentar dan pesan kesanmu Pril, jangan lupa kritikanya yang membangun!! See you di chapter selanjutnya..Sekedar bocoran untuk chapter selanjutnya, Hiro akan mendapakan petunjuka tentang Black Fairys. Selain itu ia akan mengenal sosok Samudra, lelaki aneh yang di gilai Vanessa. Lalu bagaimanakah rumah tangga Hiro dan Vanessa yang tidak di landasi perasaan itu? Bagaimana interaksi mereka di rumah baru? Nantikan di chapter selantnya minggu depan ^^








0 komentar:
Posting Komentar