Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Weekly post

BLACK FAIRYS (Fantasy) Chapter 9




TENTANG SAMUDRA
Sebelum Insiden Pembunuhan Sugeng
            Pagi itu awan mendung menutupi langit kota Tasikmalaya, suasana kampus mulai ramai di padati mahasiswa yang lalu lalang. Setelah memarkirkan mobilnya Samudra melangkah dengan tergesa ke arah fakultas Pertanian, saat itu eskpresi Samudra tidak datar seperti biasanya, melainkan tampak gelisah dan ketakutan. Ia melirik arloji yang melingkari lenganya beberapa kali, kemudian celingukan melirik gerbang kampus yang saat itu tengah ramai di padati mahasiswa yang memasukinya. Pemain basket kebanggaan Fakultas Pertanian itu menghentikan langkahnya di dekat gerbang kampus, sekali lagi ia melirik arlojinya dan menghembuskan nafas berat.
            Saat mengamati para mahasiswa yang datang memasuki gerbang kampus, akhirnya Samudra menemukan seseorang yang di tunggunya. Orang itu mengenakan gaun merah bata dengan rambut ikal rapih, berjalan beriringan dengan seorang laki-laki yang tengah di gandeng perempua lain.  Ya benar, gadis itu tidak lain adalah Vanessa.
Setelah memastikan gadis itu telah memasuki area kampus Samudra pun meneruskan langkahnya, namun kali ini langkahnya itu di buat setenang dan se-cool mungkin.
            “SAMUDRA... AAAA... TUNGGGU AKU!!! Aku akan mengawalmu ke gedung fakultas Pertanian.”
            Ucapan yang setiap hari biasa di teriakan Vanessa seakan dapat meredakan kegelisahanya sedikit demi sedikit, meskipun tidak menoleh kebelakang ia bisa menebak bahwa saat ini gadis itu telah mengekorinya. Samudra tidak bisa menahan dirinya lebih lama, ia kemudian mengambil jalan ke arah yang lebih jauh untuk mencari tempat yang sepi. Ketika merasa semuanya telah aman di tempat yang tepat, Samudra menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Ia kemudian berbalik dan menatap lurus ke arah Vanessa yang saat itu melihatnya dengan tatapan heran.
            “Mengapa berhenti?” Tanya Vanessa dengan wajah bingung. “Teruslah berjalan, dan aku akan dengan senang hati mengikutimu dari belakang.” Lanjut Vanessa dengan segaris senyum mengembang di wajahnya.
            Samudra terpaku, ia terdiam dalam waktu yang cukup lama. Tanganya gemetar saat menatap gadis di hadapanya, ia merasakan ketakutan luar biasa memenuhi rongga dadanya. Dengan langkah pasti Samudra menggunakan kaki jenjangnya untuk mempersempit jarak dengan Vanessa, ia langsung merengkuh raga gadis itu dalam dekapanya.
            Vanessa membulatkan matanya kaget, namun pada akhirnya ia bisa mengendalikan semuanya. Karena ini bukanlah pertama kalinya Samudra melakukan hal itu kepadanya. Dia melakukanya lagi, sebenarnya apa alasanya?
            “Kumohon, jangan kamu..” Bisik Samudra yang sama sekali tidak dimengerti oleh Vanessa apa maksudnya. “Semoga bukan kamu.” Lanjutnya dengan nada bergetar yang jelas.
            Seperti sebelum-sebelumnya, setelah mengatakan hal-hal yang aneh Samudra melepaskan pelukanya. Ia kemudian berbalik dan beranjak pergi sebelum Vanessa sempat melontarkan pertanyaan.
*          *          *
            Tepat ketika matahari berada di atas ubun kepala, Samudra membuka penghubung dimensi dunianya dengan dunia manusia yang di tandai bunyi mendengung seperti lolongan kereta, dan dari dunianya itulah kabut aneh tersebut muncul. Kabut yang Samudra namai kabut pengeksekusi  akan turun mengelilingi sudut kampus untuk memilih calon korbanya, kabut itu tidak berpengaruh apa-apa pada orang lain tapi akan langsung menghilangkan korbanya. Begitu kabut itu turun pergerakan rotasi bumi terhenti untuk sementara, hal itu menyebabkan waktu pun otomatis berhenti. Selama hal itu berlangsung semua kenangan yang berkaitan dengan sang korban akan dihilangkan dari memori semua orang.
            Meskipun hal itu bertentangan dengan kata hatinya, Samudra memiliki bagian yang paling di sukainya saat hal itu terjadi. Yaitu ketika baju besi secara ajaib melekat di tubuhnya di sertai busur dan anak panah sebagai senjata penakluk Black Fairy. Suatu kebanggaan tersendiri ketika dirinya mengenakan perlengkapan paling populer diantara kaum Vampir pada masa itu.
            Dengan semangat penuh Samudra memulai pencarianya di tengah lautan kabut, ia bergerak dengan hati-hati dan menajamkan sensitifitas semua alat indranya. Namun seperti biasa, ia tidak bisa 100% memfokuskan diri pada misi pencarian Black Fairy. Setengah hatinya sedang mengkhawatirkan seseorang, dalam dirinya sedang berperang diri antara menyelamatkan orang itu atau tidak. Seandainya orang itu yang menjadi korban, Samudra tak bisa membayangkan akan jadi apa dia di dunia manusia.
            “Sial...........” Keluh Samudra saat fokusnya menemukan sosok Black Fairy, namun tidak sampai satu detik makhluk itu langsung menghilang sebelum dirinya sempat mengambil anak panah.
*          *          *
            Samudra telah mengenakan pakaian manusia lagi saat ia dengan terburu-buru mengunjungi gedung kesenian. Setelah menduga-duga dalam keadaan panik, akhirnya ia bisa menghembuskan nafas lega saat orang yang dicarinya tampak baik-baik saja. Dari balik jendela gedung, diam-diam matanya fokus ke arah Vanessa yang saat itu sedang bercanda dengan sahabat-sahabatnya. Ia mengamatinya cukup lama, dan setelah itu kembali ke gedung pertanian untuk mengambil tasnya.
*          *          *
            Samudra berjalan di koridor dengan perasaan lebih tenang, sehingga ia bisa mengatur ekspresi datar seperti image-nya selama ini. Bersikap sedingin mungkin pada manusia adalah benteng pertahananya agar tidak merasakan empati, namun konsekuensinya ia harus sendirian, tetap sendirian sampai akhir. Rasa empati terhadap manusia bertentangan dengan tugasnya dalam pembunuhan yang terlupakan.
Tapi lelaki yang di sapa dengan nama pendek Sam itu tidak mampu menghadapi Vanessa, gadis itu berhasil merusak benteng pertahananya sehingga harus merasakan empati luar biasa.  Vanessa yang sama sekali tidak menyerah dengan sikap dngin Samudra adalah bagian terbaiknya, poin lainya adalah Samudra mengetahui semua tentang kebaikan Vanessa, semuanya.
            Bayangan tentang Vanessa berakhir saat Samudra melihat sosok Hiro berjalan dengan cepat di ujung koridor, dalam hati ia merasa malas melihat suami palsu Vanessa itu. Saat jarak diantara mereka semakin dekat, Samudra dibuat terkejut dengan serangan Hiro yang tiba-tiba. Dirinya terhuyung ke belakang memegangi pelipis yang baru saja mendapatkan satu pukulan dari Hiro.
            “KEMBALIKAN DIAAAAAAAAAAAA!!!” Teriak Hiro dengan emosi meluap-luap dari sorot matanya. Samudra melihatnya dengan pandangan terheran-heran, tak lama kemudian ekspresinya berubah mengeras dan tampak siap melakukan perlawanan.
            Sea yang baru sampai di tempat itu membulatkan matanya terkejut, ia membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Detik selanjutnya ia menahan Hiro sekuat tenaga agar tidak terjadi serangan selanjutnya.
            “SALAH DIA APA? BANGSAT!!!!!!!!” Maki Hiro tampak uring-uringan di dalam rangkulan Sea.
            Mahasiswa yang berada di sekitar sana ikut tenggelam dalam situasi panik, mereka kemudian mengerumuni Hiro dan Samudra. Beberapa orang mencoba membantu Sea untuk menahan pergerakan Hiro, sementara itu Samudra tampak menahan diri untuk tidak melakukan penyerangan. Ia hanya menatap Hiro dengan tatapan tajam menusuk, seakan ingin menguliti Hiro dengan sorot matanya.
            Vanessa bergabung dalam kerumunan itu setelah seseorang memberitahunya bahwa Hiro terlibat suatu perkelahian. Sampai disana ia mendapati Hiro yang masih uring-uringan berada dalam penjagaan beberapa orang, tepat di hadapanya sosok Samudra berdiri kaku dengan tatapan lurus mematikan. Tanpa membuat jeda lebih lama Vanessa melangkahkan kaki menghampiri seseorang, dan diantara kedua orang itu hanya satu orang yang dipilihnya. Orang itu tidak lain adalah Samudra. Ia meraih tangan Samudra lalu menyeretnya keluar dari kerumunan, hal itu di lakukanya tanpa sempat melihat ke arah Hiro.
            Hal itu menyebabkan emosi Hiro semakin menjadi, ia tidak terima Vanessa pergi dengan orang itu.
            “JANGAN PERNAH MENDEKATINYA!!! ORANG ITU BRENGSEK, ORANG ITU IBLISS....” Raung Hiro menghabiskan volume suaranya untuk berteriak kata-kata itu.
*          *          *
            Samudra mendapati pikiranya kacau saat tanganya berada dalam genggaman Vanessa, bahkan rasa penasaran tentang siapa Hiro sebenarnya hilang begitu saja. Padahal beberapa detik yang lalu otaknya dipenuhi bayang-bayang Hiro dan insting melenyapkanya, ia bisa menebak alasan Hiro menyerangnya berhubungan dengan korban pembunuhan yang terlupakan.
            “Aku tidak apa-apa...” Kata Samudra dengan nada datar yang dibuat-buat, ia menahan langkah Vanessa hingga berhenti. Saat itu ia pura-pura memasang ekspresi dingin seperti yang biasa dilakukanya.
            Vanessa terdiam, ia melepaskan tangan Sam dan menunduk untuk beberapa detik. Kemudian ia berbalik menatap Samudra dengan ekspresi sulit di tebak. “Kumohon, jangan sentuh Hiro.”
            Permintaan Vanessa membuat Sam  tercengang, wajah dinginnya meluruh berganti menjadi ekspresi bingung dan tak percaya. Selama ini jika berhadapan dengan Samudra, Vanessa akan bersikap manja untuk menarik perhatianya. Namun kali ini gadis itu seakan menjadi orang yang berbeda.
            Samudra mundur selangkah, dengan bibir bergetar ia bertanya. “Si.. Siapa kau?”
            Vanessa menggigit bibir bawahnya, ia kemudian menatap Samudra sambil memohon. “Apa pun.. Akan kulakukan apa pun asal kau tidak menyakitinya.”
            Mendadak dadanya terasa sempit. Sam kesakitan melihat sorot peduli Vanessa terhadap Hiro, terlebih lagi karena dirinya juga sangat peduli pada gadis itu.
*          *          *
            “Kau bukan manusia, jadi siapa kau sebenarnya?” Tanya Sam ketika ia dan Vanessa sudah lebih santai duduk berdua di taman kampus.
            “Aku berasal dari dunia yang sama dengan Hiro.” Vanessa menjawab dengan nada putus asa, terdengar penyesalan dalam pengakuanya itu. “Aku diberi tugas rahasia untuk mengawasi Hiro selama berada di dunia manusia.”
            “Hiro mengetahuinya?”
            “Tidak, ayahnya menyuruhku untuk melakukanya diam-diam.” Katanya tak punya pilihan lagi selain mengatakan yang sebenarnya.
            “Kau pastinya sudah tau bahwa aku ini adalah seorang... Vampir”
            Vanessa mengangguk lemah.
            “Apa kau juga seorang mata-mata yang ingin menyelidikiku?” Tanya Sam ragu-ragu.
            Vanessa terdiam, ia semakin menundukan kepalanya.
            Sam menghela nafas panjang. “Apa karena itu kau mendekatiku?”
            Perlahan Vanessa mengangkat kepalanya dengan sorot penyesalan dimatanya.
            Sam menekuk kepalanya sendiri, Vanessa sudah siap untuk menerima semburan kemarahan dari Vampir itu. Namun saat Sam mendongakan wajahnya, ia beranjak dari duduk dengan senyum sumringah di wajahnya.
            “Aku sangat senang bahwa kau bukan manusia.” Seru Hiro membuat Vanessa tercengang, terlebih karena baru kali ini ia melihat makhluk dingin itu tersenyum.
            “Apa pun alasan kamu deketin aku, aku gak peduli. Yang jelas aku lega karena aku bisa berhenti mengkhawatirkanmu. Aku juga gak perlu ngasih penjelasan tentang diri aku sendiri karena kamu sudah tau semuanya.” Sam berlutut di hadapan Vanessa kemudian memegangi kedua tanganya. “Selama ini aku selalu ketakutan, aku takut kamu yang akan menjadi korban selanjutnya.”
            Vanessa membulatkan matanya kaget, ia tidak menyangka respon Sam akan selembut itu. “Aku tidak mengerti Samudra, apa yang kau lakukan?”. Katanya seraya menarik tanganya dari genggaman Samudra.
            “Kumohon jangan seperti ini Vanessa, tetaplah seperti dulu.” Pinta Sam. “Tetaplah menjadi gadis baik yang selalu mengejar Samudra. Kau selalu berupaya merebut perhatianku, dan sekarang kau mendapatkanya.”
            Vanessa dibuat semakin terkejut lagi mendengar permintaan Samudra. “Kau tahu sendiri bahwa itu adalah bagian dari tugasku, dan....”
            “Aku harap kau benar-benar menyukaiku, Vanessa.” Potong Samudra cepat. “Selama ini aku menahanya, aku menyimpan rasa empati untukmu rapat-rapat, karena aku sadar aku tidak boleh punya hubungan dengan manusia.”
“Selama ini aku selalu menghindar meski sebenarnya ingin menghampirimu, aku selalu diam padahal ingin menjawabmu, aku selalu dingin padahal ingin membalas senyumanmu. Rasanya benar-benar sulit saat melakukan itu dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengakhirinya.” Lanjut Samudra terdengar sungguh-sungguh.
            Vanessa tertegun menedengar kata-kata itu. Ibaratkan sebuah mimpi bahwa Samudra yang orang lain tahu adalah lelaki idamanya, saat ini tengah berlutut di hadapan Vanessa mengakui perasaanya sendiri.
            “Setelah tau bahwa kau bukan manusia,  rasanya semua kekhawatiran yang melilitku lepas begitu saja. Ini adalah sebuah mukjizat, sekaligus pertanda yang baik untuk hubungan kita kedepanya.” Kata Samudra mengakhiri kalimatnya dengan seulas senyum yang meluluhkan hati.
*          *          *
            Vanessa pulang terlambat hari itu, Samudra mengantarnya sampai ke rumah dengan mobilnya.
            “Awalnya aku sangat shok saat mendengar bahwa kalian telah menikah, tapi ketika tersiar kabar bahwa pernikahan kalian hanya pura-pura aku sangat lega.” Kata Samudra saat memasuki area perumahan. “Tapi aku tetap tidak suka kalian tinggal bersama.”
            “Sam..” Ujar Vanessa. “Kurasa empatimu berlebihan. Lagi pula, berada di samping Hiro adalah tugasku selama di dunia manusia.”
            “Aku tau, makanya aku sangat kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa.” Sam terdiam, kemudian meneruskan katanya-katanya dengan nada berbeda. “Apa kau juga membenciku?”
            “Hah?”
            “Kurasa Hiro sangat marah padaku karena teman nya menjadi korban pembunuhan yang terlupakan.”
            “Iya itu benar.. Berhenti disini, ini rumahku. “
            Sam menghentikan mobilnya otomatis dihalaman rumah mungil yang tampak elegan itu.
            “Apakah ada salah satu temanmu yang pernah menjadi korban pembunuhan yang terlupakan?” Tanya Sam hati-hati.
            Vanessa menggeleng. “Tapi jika suatu saat kau menyentuh Gisel, Yesi dan Hani, aku tidak akan pernah memaafkanmu.”
            Sam terdiam, ia tidak langsung merespon ucapan Vanessa.
“Aku juga ingin punya teman.” Sam merendahkan nada bicaranya. “Tapi tidak ada teman yang akan membunuh temanya sendiri.”
            “Kau terlalu banyak berpikir Sam, pulang dan istirahatlah.” Kata Vanessa kemudian membuka pintu mobil dan keluar. “Terimakasih sudah mengantarku pulang.”
            “Vanessa..” Panggilan itu membuat Vanessa kembali melongo ke dalam mobil. “Perasaanku padamu...... Lebih dari sekedar empati.”
            Vanessa membulatkan matanya, tubuhnya tiba-tiba saja menjadi kaku.
            “Tapi aku juga tidak akan terburu-buru.” Ujar Sam lembut. “Aku sudah sangat senang jika kau mau menjadi temanku.”
            Vanessa tidak merespon, ekspresinya tidak berubah.
            “Kumohon, selama ini aku selalu sendiri. Aku juga ingin punya teman.”
            Vanessa menghela nafas panjang. “Dalam situasi Hiro yang membencimu, akan sulit untuk kita bisa berteman.”
            “Jika kau mau menjadi temanku.... Aku tidak akan menyakiti Hiro, aku berjanji tidak akan pernah menyentuhnya sedikitpun.”
            Vanessa menggigit bibir bawahnya ragu, ia kemudian menatap Sam dalam-dalam.
            “Setidaknya Hiro memiliki teman, atau paling tidak dia bisa berteman dengan manusia. Semantara aku? Aku tidak bisa.”
            Vanessa menemukan sorot kesepian dalam pancaran mata lelaki itu, perlindungan Hiro yang di tawarkan Sam juga merupakan prioritasnya. Akhirnya tanpa sempat memikirkan pilihan lain Vanessa mengangguk beberapa kali, Sam menyambutnya dengan senyum penuh kemenangan. Senyum yang sudah sangat lama sekali tidak ia perlihatkan pada orang lain.
TBC
Seperti yang sudah disampaikan pada chapter sebelumnya, chapter ini khusus untuk menggambarkan siapa sosok Samudra sebenarnya. Penulisan yang diambil dari sudut pandang Samudra mudah-mudahan bisa membuat kalian mengerti dan mengakui karakternya. Untuk chapter selanjutnya akan kembali memfokuskan cerita pada Hiro.
Terimakasih kepada April yang selalu memberikan komentar tiap Chapternya, Eva yang selalu memeriksa ketepatan penulisanya, Resa yang entah masih suka membaca atau tidak hehehe Dan untuk pendatang baru teh Fildzah... Semoga kalian tidak bosan membaca cerita ini dan terus setia menunggu chapter selanjutnya.
            Dalam chapter 10 nanti, jarak antara Vanessa dan Hiro semakin jauh dengan adanya keberadaan Sea dan Samudra yang semakin mendominasi. Sea selalu menempel di dekat Hiro begitupun Samudra yang terus memaksa Vanessa berada disisinya. Sementara itu kebencian Hiro pada Samudra semakin tak terelakan lagi saat Vanessa lebih memilih Vampir tersebut.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BLACK FAIRY (Fantasy) Chapter 8


                                                            BIMBANG
“Ini aku, yang waktu itu kau culik dari pementasan drama.” Gadis itu mengerling manja.
            Hiro membulatkan matanya tak percaya, ia semakin dibuat terkejut dengan pengakuan gadis itu. Hiro baru bisa mencerna apa yang terjadi setelah beberapa detik kemudian, refleks ia melepaskan pelukan gadis itu dan menghindar. Setelah Hiro melihat dengan jelas gadis itu, ia bisa memastikan bahwa pengakuanya memang benar. Ia bisa mengenali gadis itu dari wajah dan tubuh idelanya yang seperti barbie. Namun yang membuatnya heran adalah, apa yang dilakukanya di tempat ini?
            “Sea...” Panggil Vanessa dengan nada terkejut, dan gadis itu langsung berpaling padanya. Ia kemudian melempar senyum akrab ke arah Vanessa, lalu menghampirinya.
            “Aku sudah mendengar tentang pernikahan palsu kalian.” Katanya. “Aku harap dia tidak banyak merepotkanmu selama berada disini.”
            “Kemana kau selama ini?” Tanya Vanessa dengan wajah khawatir, ia tidak menggubris perkataan Sea.
            “Aku pergi ke suatu tempat karena seseorang.” Sea melirik sedikit ke arah Hiro melalui ekor matanya, Hiro menghindar dari tetapan itu dengan membuang muka ke arah lain.
            “Mengapa kau bisa sesantai ini, dosen dan para mahasiswa semuanya mengkhawatirkanmu. Sebenarnya apa yang kau lakukan selama ini?”
            Sea memutar bola matanya. “Sekarang kau jadi lebih cerewet. Tenanglah nona buruk rupa, yang jelas aku sudah kembali.”
            “Tapi tetap saja kau seharusnya...”
            “Tunggu.” Potong Sea saat melihat Vanessa dari ujung kaki hingga ujung rambut. “Apa yang terjadi dengan penampilanmu? Wah, kau tampak lebih baik sekarang.”
            Vanessa terdiam, ia mengintip ke arah Hiro melalui ekor matanya.
            “Btw, aku mau minjem Hiro buat makan malam.” Sea mengerling ke arah Hiro.
            Hiro membulatkan matanya terkejut, ia langsung menolak. “Tidak bisa, kami sudah.....”
            “Silahkan.” Jawab Vanessa memotong perkataan Hiro.
            “Asyiiik...” Sea berbinar kemudian langsung menghambur ke arah Hiro dan menggandeng tanganya. “Ayo kita pergi.”
            Hiro sempat melakukan protes namun Vanessa maupun Sea tidak menggubrisnya sama sekali. Akhirnya dia hanya bisa pasrah ketika Sea menyeretnya masuk ke dalam mobil Sport merah menyala yang sudah terpakir di depan rumah Vanessa. Saat sudah berada di mobil itu, Hiro melihat ke arah Vanessa yang masih diam saja dengan ekspresi datar.
            “Jangan lihat dia seperti itu, orang lain akan mengira bahwa kau menyukainya.” Komentar Sea.
            Hiro tersentak, ia langsung mengalihkan pandangan dari jendela mobil kemudian membetulkan posisi duduknya salah tingkah. Ia berdehem gugup dan tetap menghindari  kontak mata dengan Sea, walau bagimana pun ia masih sulit jika berhadapan dengan gadis itu. Terlebih lagi jika mengingat insiden terakhir yang melibatkan dirinya.
*          *          *
            Sea menyantap steaknya dengan santai, sementara Hiro melihat sekelilingnya dalam keadaan gugup. Cafe tempatnya berada tampak tidak terlalu ramai, hanya beberapa meja saja yang terisi.
            “Kau tidak suka makananya?” Sea bertanya.
            Hiro menggeleng, ia kemudian menatap makanan di hadapanya dengan perasaan tidak enak. “Sebenarnya apa alasanmu mengajaku makan malam?”
            “Hanya ingin makan denganmu saja. Kenapa, kau takut aku memasukan sesuatu kedalam makananmu?”
            Hiro menelan ludahnya. “Hubungan kita tidak cukup baik untuk bisa makan malam dengan santai seperti ini. Bukankah kau menaruh dendam terhadapku atas insiden terakhir?”
            Vanessa menyimpan sendoknya kemudian menopang dagu sambil tersenyum. “Awalnya aku kesal, tapi karena saudara-saudaramu sangat tampan aku jadi betah di tempat itu.”
            “Tapi tempat kami bukan sesuatu yang bila kau betah, kau bisa tinggal disana sesuka hati.”
            “Memangnya tidak ada yang memberitahumu?” Mata Sea membulat sempurna. “Aku diterima disana dengan sangat baik.”
            Hiro tercengang. “Tapi kau tidak memenuhi standar sebagai kaum kami, bagaimana ceritanya kau diterima dengan baik disana?”
            “Sebenarnya aku punya 2 kepribadian.” Bisik Sea hati-hati. “Satu kepribadian manusia, dan satu lagi kepribadian yang memiliki kelebihan. Saat aku pingsan itu adalah saat kepribadian yang satu lagi berusaha muncul untuk mendominasi.”
            Hiro menerawang kejadian waktu itu kemudian mengangguk paham. “Saat ini, kepribadian mana yang muncul?” Tanya-nya hati-hati.
            “Dua-duanya, aku berhasil menyatukan kedua kepribadian itu sehingga menjadi setengah manusia.”
            “Dan kau bisa datang ke dunia ini sesuka hatimu?”
            Sea mengangguk. “Tentu saja karena aku masih termasuk manusia.”
            “Wahh..” Hiro terkagum, detik selanjutnya ia merasakan dadanya sempit sekali. “Kau benar-benar beruntung, mudah sekali untukmu mendapatkan pengakuan dari kaum kami. Padahal tadinya kau adalah seorang manusia.”
            Hiro menghembuskan nafas berat. “Sementara aku yang merupakan anak terakhir dari kepala kaum mereka, harus melewati proses yang rumit hanya untuk mendapatkan sebuah pengakuan.”
            “Kau akan mendapatkan pengakuan dalam tingkatan yang berbeda, jika berhasil menjalankan misi itu. Tenanglah, yang jelas suatu saat kau pasti mendapatkanya.” Ucap Sea menyemangati.
            Hiro tersenyum, meyakinkan hatinya untuk mempercayai kata-kata Sea. “Apa disana baik-baik saja? Bagaimana dengan keluargaku?”
            “Disana baik, bahkan mungkin lebih baik tanpamu.” Sea terkekeh. “Keluargamu juga baik-baik saja, mereka berharap kau bisa kembali secepatnya.”         
            “Oh iya, bagaimana dengan keluargamu?”
            “Keluargaku? Mereka tidak disini, mereka selalu berada di tempat yang jauh.” Jawab Sea dengan ekspresi sedih yang berusaha di tutupinya.
            “Tetap saja, mereka pasti khawatir bila kau menghilang tiba-tiba.”
            “Mereka hanya menghubungiku sebulan sekali, mungkin untuk sekedar memastikan apakah aku masih hidup atau tidak. Saat aku menghilang, orang tuaku selalu menganggap bahwa aku sedang bersenang-senang.”
            “Bagaimana bisa begitu?”
            “Karena uang di ATM-ku bertambah setiap harinya, mereka selalu mengirim dalam jumlah yang besar. Saat aku bosan aku akan memakai uang itu untuk bersenang-senang. Aku pernah keluar negri selama 2 bulan tanpa menghubungi siapa pun, dan itu tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap mereka.”
            Ekspresi Hiro berubah sendu, ia memandang Sea dengan perasaan tak enak. “Walau bagaimanapun aku sangat menyesal telah salah mengenalimu dan sembarangan membawamu ke tempat itu, aku minta maaf.”
            “Kau tidak perlu meminta maaf. Justu aku sangat berterimakasih karena telah mengenalkan  dunia yang berbeda, sehingga aku bisa mengenal orang-orang luar biasa seperti keluargamu.”
            “Melihat dari caramu bicara sepertinya kau benar-benar tidak masalah dengan tempat itu.” Ujar Hiro tersenyum lega.
            “Bagaimana denganmu?” Tanya Sea. “Apakah pencarian Black Fairys sudah mengalami perkembangan?
            Hiro menggeleng lemas, hatinya mencelos tiap mengingat Black Fairys. “Aku baru melihatnya sekali dan dia menghilang dengan sangat cepat. Berpikir ribuan kali pun tetap saja rasanya mustahil untuk menangkap Black Fairy.”
            “Kau tidak usah khawatir, mulai sekarang aku akan membantumu.” Kata Sea nampak serius.
            “Benarkah?” Mata Hiro berbinar-binar senang mendengarnya.
            Sea mengangguk. “Oleh karena itu, kau bisa menceraikan Vanessa dan tinggal denganku.”
            Binar di mata Hiro berangsur menghilang, mendadak hatinya diliputi kebimbangan tanpa sisa rasa senang sedikitpun. Ia tidak langsung menjawabnya seperti yang Sea harapkan.
*          *          *
            Bercerai dengan Vanessa? Hanya dengan memikirkanya saja hatiku merasa tidak enak seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
            Sepanjang malam itu Hiro merasakan dadanya sesak saat berpikir mengakhiri semuanya dengan Vanessa, ia merasa hal itu sangat konyol sekaligus aneh. Bukankah ia sudah mengetahui bahwa hubungan dengan Vanessa memang memiliki akhir  dan semuanya pasti selesai suatu saat nanti. Tapi mengapa hatinya seakan menolak kenyataan itu? Ia berpikir lama sekali sampai akhirnya bisa terlelap.
            Keesokan paginya mobil Sea sudah terparkir kembali di halaman rumah Vanessa. Ia tampak cantik mengenakan vest berbulu yang hangat di padukan kaos berkerah tinggi dengan jeans hitam panjang serta memakai wedges super tinggi di kakinya. Sea membiarkan rambut bergelombangnya tergerai cantik, ia kemudian melepas sunglasess nya saat melihat Hiro dan Vanessa berdiri di depan rumah mereka.
            “Ayo ke kampus bersamaku.” Seru Sea saat ia berlari ke arah Hiro dan mengapit tanganya.
            “Kenapa penampilanmu sangat berlebihan sekali, padahal kita hanya pergi ke kempus.” Komentar Hiro.
            “Ini adalah trend fashion saat ini.” Sea mengerucutkan bibirnya. “Kau tidak menyukainya? Ini bukan type mu? Apakah type yang kau sukai itu seperti yang Vanessa pakai sekarang?”
            Hiro terdiam, begitu juga Vanessa. Sea kemudian melempar pandangan tidak suka ke arah Vanessa yang saat itu tengah mengenakan dress merah bata yang di pilihkan Hiro.
            “Kita berangkat sekarang sebelum terlambat.” Seru Sea setelah ia melirik jam di pergelangan tanganya. “Ah kau juga bisa ikut, duduk di belakang ok.” Lanjutnya pada Vanessa.
            Vanessa berdiam diri saja saat Hiro sudah di seret ke dalam mobil. “Aku akan naik angkot saja.”
            “Tidak bisa.” Tegas Hiro, ia menatap Vanessa dalam-dalam. “Berangkatlah bersama kami.”
            Sea mengangguk . “Iya, kau tidak usah sungkan. Ikut saja.”
            Setelah menimang cukup lama, Vanessa pun akhirnya ikut bergabung masuk ke dalam mobil yang di kemudikan Sea.
*          *          *
            Saat Vanessa sumringah melihat Samudra dan mengejarnya ke gedung Fakultas Pertanian, Hiro mulai merasakan ada yang aneh di dadanya. Sementara itu Sea tidak menjauhkan diri sedikit pun dari Hiro dan terus menempel padanya kemana pun dia pergi. Meskipun merasa risih, ia tidak bisa melakukan apa-apa karena berhutang maaf pada gadis itu. Terlebih jika saat ini gadis itu adalah bagian dari kaumnya.
            “Katanya kau benci manusia..” Kata Sea, kala itu mereka sedang berjalan menuju kelas Hiro.
            “Benar, tapi kupikir mereka tidak brengsek semuanya.” Jawab Hiro.
            “Contohnya Vanessa? Memangnya dia sebaik apa?”
            Hiro membenarkan. “Tapi bukan hanya dia, ada juga Sugeng dan Mario. Mereka adalah teman-temanku.”
            “Tapi kan mereka sudah menerima bubuk manipulasi pikiran dari Gellar.”
            “Meskipun tidak diberi bubuk manipulasi pikiran, Mario dan Sugeng tetaplah orang yang baik. Ramon tidak salah memilih mereka untuk menjadi temanku selama di dunia manusia.”
            Sea hanya mengangguk-angguk paham. Sepanjang perjalanan itu banyak sekali mata yang melihat ke arah mereka dengan tatapan kagum, iri, sinis dan lain sebagainya. Pasalnya Hiro berstatus sebagai suami orang lain, namun di sisi lain mereka tidak bisa menolak pesona Sea yang luar biasa cantik.
            “Mereka pasangan yang sangat cocok jika saja Hiro belum menikah dengan orang lain..” Celoteh seorang gadis dari salah satu gerombolan mahasiswi yang mereka lewati.
            Sea tersenyum senang mendengarnya, sementara itu pikiran Hiro masih di liputi bayangan wajah buruk rupa Vanessa. Ia benar-benar tidak mengerti perasaanya sendiri, sepenuhnya ia menyalahkan bubuk manipulasi pikiran yang sudah mengubah image Vanessa dalam pandangan Hiro.
*          *          *
            “Kenapa sih kamu rakus banget jadi cowok.” Celoteh Mario saat Hiro sudah bergabung denganya di dalam kelas, Sea pergi ke direktorat untuk mengurus suatu  hal. “Kau kan sudah punya Vanessa, kenapa masih menggandeng cewek lain ke kampus.”
            “Dan dahsyatnya lagi dia itu Sea broooh.” Sugeng menambahkan. “Cewek yang 100% bertolak belakang dengan Vanessa.”
            “Kamu kalau mau pilih Sea, ceraikan dulu Vanessa. Jangan giniin mereka seenak jidat.” Protes Mario.
            Hiro memutar bola matanya malas. “Kalian kalo gak tau apa-apa jangan so tau.”
            “Tapi ngomong-ngomong gimana caranya kamu bisa merayu Sea?” Tanya Sugeng antusias. “Selain cantik, dia kan tajir luar biasa.”
            Mario ikut antusias “Betul itu.. Ko tiba-tiba kamu bisa berangkat bareng dia?”
            “Meskipun aku menceritakanya, kalian gak bakalan percaya.”
            Sugeng dan Mario mendengus kesal
            “Bilang saja kau tidak ingin menceritankanya pada kami.” Keluh Mario.
            “Oh iya, ibuku mengundang kalian ke rumah pulang kuliah nanti.” Ujar Sugeng.
            “Ke rumah kamu?” Ulang Hiro antusias, ia sangat berkesan dengan keramahan keluarga Sugeng terutama ibunya saat dulu ke rumah mereka. “Ada apa nih?”
            “Kemarin ibuku menyemblih sapi, dia ingin mengundang kalian mencicipi rendang buatanya.” Jawab Sugeng, ia kemudian melanjutkan dengan nada serius. “Dan ada suatu hal yang ingin ku tunjukan pada kalian.”
            “CD porno baru?” Tanya Mario antusias.
            Sugeng dan Hiro menjitaknya bersamaan. “Bokep mulu otak lu.”
            “Pokonya pulang kuliah kalian harus ikut ke rumah, ok!”
            “Siap.. Apa lagi kalo ada acara makan-makan.” Hiro menjawab dengan senyum penuh minat.
*          *          *
            Pada pertengahan siang itu langit memang sedikit mendung. Hiro mengikuti kelasnya dengan malas-malasan, ia melihat Sugeng dan Mario juga menguap beberapa kali karena bosan. Saat Hiro mengintip ke luar jendela ia menemukan langit mendung dengan pergerakan aneh, ia juga mendapati angin di luar bertiup kencang sehingga menerbangkan daun-daun. Feeling Hiro merasakan ada yang tidak beres dengan cuaca hari ini.
            Tak lama kemudian Hiro di buat terkejut oleh suara mendengung mirip lolongan kereta. Tiba-tiba saja ia merasakan bulu kuduknya berdiri, sekilas ia mengingat Anjani. Pembunuhan yang terlupakan. Hiro kemudian menyapu seisi kelas dengan pandangan matanya, dan seperti dugaanya, suasana disana tampak normal seperti biasa seakan tidak terjadi apa-apa. Hiro dilanda rasa penasaran luar biasa, namun ia teringat pesan Pery yang menyuruhnya tidak terlibat sedikit pun dalam kasus Pembunuhan yang terlupakan. Pada akhirnya ia hanya duduk berdiam diri dengan pikiran berkecamuk.
            Siapakah yang akan menjadi korban selanjutnya?
            Bagaimana cara mereka memilih korbanya?
            Bagaimana cara mereka membunuhnya?
            Apakah Black Fairy akan muncul?
            Ya, Black Fairy pasti muncul..
            Keadaan mencekam itu terjadi sekitar 5 menit, sebelum akhirnya suara mengerikan itu berhenti dan angin berangsur menghilang. Hiro beranjak dari duduknya dan berlari keluar ruangan, ia mengabaikan titah dosen di kelasnya untuk tetap disana. Hiro mengintip langit yang mulai menurunkan kabut tebal, ia kemudian berlari ke lapangan terbuka. Membiarkan kabut tebal itu turun mengerumuninya dan sengaja membiarkan dirinya sendiri dalam keadaan menggigil karena perubahan temperatur yang tiba-tiba.
            “Aku harus menemukan Black Fairy.” Gumam Hiro pada dirinya sendiri. Ia yakin Black Fairy akan muncul untuk menghilangkan kabut-kabut aneh itu, dan ia hanya perlu mengikuti kemana arah kabut itu menghilang untuk bisa melihat Black Fairy lagi.
            Tepat seperti perkiraanya kabut aneh itu akhirnya mulai menghilang dari sekitarnya dan pergi menuju suatu arah. Tanpa pikir panjang Hiro langsung bergegas mengikutinya, dan alangkah terkejutnya dia saat mendapati punggung kekar berbaju besi tepat berada di hadapanya. Dan ia sangat yakin bahwa sosok yang telah mengincar sesuatu itu benar-benar Samudra.
            Namun ia dan Samudra sama-sama harus menelan kekecewaan, pasalnya kehadiran Black Fairys hanya muncul sekilas. Ia tidak lagi membiarkan Hiro menatapnya dengan dada berdebar keras, melainkan segera meluncur kedalam plukan langit setelah hitungan detik kemunculanya. Hiro segera beranjak menjauh dari sana sebelum Samudra menyadari keberadaanya.
*          *          *
            Saat kembali ke kelas, Hiro sadar jam kuliahnya telah selesai. Ia kemudian menghampiri Mario yang sedang membereskan buku-bukunya.
            “Dari mana saja tadi? Dosen mencoret nama mu dari daftar hadir.” Tanya Mario heran.
            “Ada sedikit urusan, biarkan saja lah.” Jawab Hiro tak peduli. “Jadi ke rumah Sugeng kan? Lho, anaknya kemana?”
            Mario terdiam, ia melihat Hiro dengan wajah kebingungan. “Apa maksudmu? Ke rumah siapa?”
            “Rumah Sugeng, tadikan dia bilang kita..........” Ucapan Hiro menggantung, ia tersadar akan suatu hal. “Kau kenal orang bernama Sugeng di kelas ini?” Tanya Hiro hati-hati.
            Mario menggelengkan kepalanya. “Bahkan aku baru mendengar nama itu sekarang.”
            Hiro merasakan aliran listrik menyengat seluruh tubuhnya sehingga bergetar hebat, ia menggeleng tak percaya. “Tidak mungkin....” Apakah dia korban selanjutnya?
            “Sebenarnya apa yang kau bicarakan?” Tanya Mario masih kebingungan.
            Hiro tidak bisa mendengar pertanyaan itu karena seluruh pikirananya dipenuhi bayang Sugeng. Saat mengingatnya ia merasakan kehampaan luar biasa mendobrak hatinya, seketika amarahnya meluap-luap dan tanganya mengepal keras sampai buku jarinya memutih. Tidak mungkin Sugeng....... Hiro berusaha menolak kenyataanya meskipun ekspresi kebingungan Mario semakin meruntuhkan usahanya.
            “Aku akan diam saja jika itu orang lain, tapi jika dia temanku.......” Geram Hiro merasakan tubuhnya memanas. “Aku tidak akan tinggal diam!”
            Dengan langkah lebar di sertai emosi yang meluap-luap, Hiro melangkahkan kakinya menuju suatu tempat. Semakin jauh ia melangkah, semakin ia merasakan kemarahan menguasai seluruh tubuhnya.
“Hei., Kau mau kemana lagi?” Teriak Mario semakin kebingungan melihat Hiro yang mendadak emosi.
            Di saat yang sama Sea datang ke kelas dengan terburu-buru. “Hiro, kau melihat Black Fairy?” Tanyanya setengah panik.
Hiro tidak menghiraukan pertanyaan Sea, ia melewati gadis itu tanpa melihat ke arahnya. Pandangannya lurus ke depan dengan rahang terkatup.
“HIRO KAU MAU KEMANA?” Teriak Sea, namun Hiro malah mempercepat langkahnya. “Apa yang terjadi?”
Vanessa melempar pandangan menuntut penjelasan pada Mario, namun orang itu menggelengkan kepala karena sama-sama tidak tahu apa yang terjadi. Akhirnya Sea mengejar Samudra dengan langkah cepat, ia tidak bisa menebak-nebak sendiri kecuali bertanya langsung pada Hiro.
Hiro menemukan sosok Samudra berjalan santai di koridor gedung pertanian seorang diri, ia kemudian mempercepat langkahnya saat berhadapan dengan pemuda tinggi kekar tersebut.
            Brug............ Tanpa babibu lagi Hiro melayangkan satu pukulan di pelipis Samudra sehingga pemuda itu terhuyung kebelakang.
            “KEMBALIKAN DIAAAAAAAAAAAA!!!” Teriak Hiro dengan emosi meluap-luap dari sorot matanya. Samudra melihatnya dengan pandangan terheran-heran, tak lama kemudian ekspresinya berubah mengeras dan tampak siap melakukan perlawanan.
            Sea yang baru sampai di tempat itu membulatkan matanya terkejut, ia membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Detik selanjutnya ia menahan Hiro sekuat tenaga agar tidak terjadi serangan selanjutnya.
            “SALAH DIA APA? BANGSAT!!!!!!!!” Maki Hiro tampak uring-uringan di dalam rangkulan Sea.
            Mahasiswa yang berada di sekitar sana ikut tenggelam dalam situasi panik, mereka kemudian mengerumuni Hiro dan Samudra. Beberapa orang mencoba membantu Sea untuk menahan pergerakan Hiro, sementara itu Samudra tampak menahan diri untuk tidak melakukan penyerangan. Ia hanya menatap Hiro dengan tatapan tajam menusuk, seakan ingin menguliti Hiro dengan sorot matanya.
            Vanessa bergabung dalam kerumunan itu setelah seseorang memberitahunya bahwa Hiro terlibat suatu perkelahian. Sampai disana ia mendapati Hiro yang masih uring-uringan berada dalam penjagaan beberapa orang, tepat di hadapanya sosok Samudra berdiri kaku dengan tatapan lurus mematikan. Tanpa membuat jeda lebih lama Vanessa melangkahkan kaki menghampiri seseorang, dan diantara kedua orang itu hanya satu orang yang dipilihnya. Orang itu tidak lain adalah Samudra. Ia meraih tangan Samudra lalu menyeretnya keluar dari kerumunan, hal itu di lakukanya tanpa sempat melihat ke arah Hiro.
            Hal itu menyebabkan emosi Hiro semakin menjadi, ia tidak terima Vanessa pergi dengan orang itu.
          “JANGAN PERNAH MENDEKATINYA!!! ORANG ITU BRENGSEK, ORANG ITU IBLISS....” Raung Hiro menghabiskan volume suaranya untuk berteriak kata-kata itu.
TBC
            Maaf atas keterlambatanya, semoga kekecewaan kalian terbayar ketika membaca chapter ini :) Untuk chapter selanjutnya akan bercerita dari sudut pandang Samudra yang paling misterius, sekaligus mengungkap interkasi sebenarnya dengan Vanessa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS