DUNIA MANUSIA
Dunia Manusia
Beberapa detik
sebelumnya, Hiro berpegangan pada lengan Ramon di sebuah tempat gelap yang ia
sebut lorong perbatasan. Lalu detik selanjutnya Hiro harus menyipitkan mata
akibat cahaya yang tiba-tiba saja menyeruak memenuhi retina matanya, ia selalu
bergidik di bagian ini ketika Ramon membawanya berteleport. Hanya dalam sekejap
Hiro bisa merasakan perubahan atmosfir di sekelilingnya, dan ketika membuka
mata sepenuhnya Hiro tak kuasa untuk menahan ekspresinya. Sambil menganga,
tangannya terangkat menunjuk arah di depanya.
“Apa maksudnya
dengan tempat seperti ini?” Hiro bertanya dengan nada agak tinggi.
Lalu Ramon
menjawabnya dengan kalem. “Tempat tinggalmu di tataran sunda.”
Hiro menelan ludah
susah payah, ia kemudian menyapu tiap
sudut tempat itu dengan ekor matanya. Perumahan tua yang tampak tak
berpenghuni itu terlihat tidak terurus dengan semak-semak liar disana-sini.
Satu-satunya yang menarik bagi Hiro adalah sebuah sedan Chevrolet yang sedikit
mengkilap di banding benda-benda yang lainya.
“Ayah sudah
berpesan agar tempatmu di jauhkan dari koloni manusia. Kau bisa jadi tidak
terkendali Hiro, dan mereka akan curiga. Rumah ini akan jadi tempat yang tepat
untukmu selama melaksanakan tugas.”
Hiro mengerang,
angan-anganya seperti di jatuhkan dari tempat yang tinggi. Hilang sudah
harapanya tinggal di salah satu gedung pencakar langit yang saat ia menengok ke
bawah jendela terdapat jalan yang membelah kota dengan kendaraanya yang padat.
Ia ingin tinggal di tempat yang ramai, bukan rumah antah berantah yang terasing
seperti ini.
Ramon tak
menghiraukan perubahan wajah Hiro, ia kemudian menuju salah satu rumah yang terparkir
sedan Chevrolet itu di halamannya. Sebelumnya Ramon terlebih dahulu menepuk
bagian depan mobil tua itu seraya berujar. “Ini hadiah dari ayah, kau akan
terkejut ketika mengendarainya"
Namun Hiro tidak
menggubrisnya, ia lebih mengkhawatirkan tempat tinggal yang akan dihuninya, “Ramon,
bisakah kau pindahkan aku ke tempat yang agak ramai sedikit. Aku terbiasa
dengan kalian saudaraku 11 orang, bagaimana caraku bisa hidup di tempat ini
sendirian?”
“Kau tidak akan duduk
diam disini, ayah bilang kau harus kuliah di salah satu Universitas di Tasikmalaya.”
Ramon menjawab datar tepat ketika membuka pintu, sebelum masuk ia melirik Hiro
terlebih dahulu. “Setidaknya tempat itu akan mendewasakanmu.”
“Kuliah?
Universitas?” Hiro mengerang. “Bukankah itu tempat manusia belajar pengetahuan,
oh ayolah aku tidak membutuhkan itu semua. Lagipula aku pasti akan dewasa pada
waktunya.”
Bertepatan dengan
itu mereka sudah tiba di ruang tengah, Ramon lalu duduk dengan santai sementara
Hiro masih berdiri menatapnya dengan gelisah.
“Sebenarnya bisa saja kau melakukan aktifitas yang lain, tapi David
si ahli aura itu sangat yakin merasakan Black Fairys terakhir kali ada di
tempat itu.” Ujar Ramon.
Hiro terdiam, lalu
ia berujar. “Black Fairys, di Universitas itu?”
“Benar,
Universitas itu bukan tempat perkuliahan biasa. Banyak kejadian misterius tiap
semesternya, seperti pembunuhan yang terlupakan.”
“Apa maksudmu
tentang pembunuhan yang terlupakan?”
“Kau akan mengerti
setelah berada disana.”
“Jadi, dimana Universitasku
itu?” Tanya Hiro dengan nada tertarik.
“Setelah ini kita
akan kesana, agar besok kau tidak akan merasa asing dengan tempat itu.”
* * *
Hiro langsung
berjalan dengan santai ke gedung fakultas setelah menyimpan mobilnya di
parkiran, sepanjang jalan itu banyak mata yang mengikutinya diam-diam. Tampilan
fisik Hiro memang mampu membuat wanita tergila-gila padanya, dengan tubuh
tinggi semampai, kulit seputih porselen, rahang tegas dengan hidung runcing menjadi
pahatan unggul di wajahnya. Belum lagi lesung pipi yang muncul ketika Hiro
menarik sudut bibirnya, hal itu menjadi penutup yang sempurna untuk gambaran
fisiknya dimata manusia biasa.
Ketika melewati segerombolan mahasiswi, Hiro menyempatkan diri
melempar senyum ke arah mereka.
“Apa dia malaikat
yang tersesat dibumi?”
“Ganteng, imut,
berkarisma, manis dan menawan. Ia memiliki semua paket itu.”
“Yakkk senyumnya
membuatku mimisan.....”
Celoteh itu sampai
di telinga hiro, refleks ia membetulkan gaya rambutnya. Tersenyum senang Hiro
merasa bangga pada dirinya sendiri, dan itu membuat fokusnya kurang sehingga
“Brukkkkkkkk” Hiro meluncur ke selokan di depanya tanpa sempat berkelit.
Semua orang yang
menyaksikanya menganga lebar, tak terkecuali Hiro, ia mendadak ingin ingin
mengubur dirinya jauh ke dasar bumi. Wanita yang berceloteh terkagum-kagum tadi
berubah geli menahan tawa. Hiro lantas berdiri dan langsung merapihkan kembali
penampilanya, saat itulah tawa gadis-gadis di belakangnya pecah.
Bibir tipis Hiro
bergetar, melihat bajunya yang kotor dan tawa mengejek gadis-gadis di
belakangnya membuat ia merasa jadi orang paling malang di dunia ini.
“Ayaahhhhh........”
Rengeknya setengah menjerit seraya mengambil langkah cepat menuju kamar mandi
terdekat.
“Lihat bagaimana
mereka memperlakukanku.” Hiro melangkah keluar dari kamar mandi dengan tetap
menggerutu. “Jika saja ada Pery disini ia pasti akan menyembur mereka dengan
nafas apinya.”
Bertepatan dengan
itu perhatian Hiro beralih pada gadis-gadis yang berjejer memagari pembatas
lapangan basket, disana tengah berlangsung pertandingan antara dua fakultas
berbeda. Hiro memandang gadis-gadis itu satu perstu, penampilan mereka
bervariasi dengan gaya yang berbeda-beda
“Adakah Black
Fairys diantara mereka?” Gumamnya pelan, lalu mengingat-ingat kembali
perwujudan Black Fairys sesuai yang dikatakan Thunder ‘Kau bayangkan saja
seorang perempuan yang memiliki pesona tingkat dewa. S-E-M-P-U-R-N-A’.
Hiro meningkatkan ketajaman pengelihatanya. “Yang paling cantik,
paling bohay, paling menawan, aduh yang mana kira-kira eohh?”
Dahi Hiro
mengkerut setengah mengerenyit, salah satu diantara mereka merusak pandangan
matanya. Gadis dengan penampilan kumal mengenakan baju kedodoran, rambutnya
yang ikal di tata dengan gaya jadul, kacamata bulatnya terletak di tengah
tulang hidung menghiasi wajah hitam gadis itu. Belum lagi tingkahnya yang
paling agresif diantara teman-temanya, mendadak Hiro merasa mual memperhatikan
gadis itu lama-lama.
Seraya
meloncat-loncat centil, gadis itu berteriak untuk menyemangati salah satu
pemain basket yang tengah bertanding di lapangan. “AAAAAAAAA, SAMUDRAAA!!
SEMANGAT, GO GO GO!! KAMU HARUS MENANG.”
Hiro
menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu memalingkan wajah dengan muak. “Huhh
dimana juga kira-kira aku bisa menemukan Sugeng dan Mario.” Keluhnya.
Sebelumnya Ramon
sudah memberitahunya tentang Sugeng dan Mario, dua sosok manusia yang katanya
cocok berbaur dengan Hiro. Sugeng adalah seseorang yang terobsesi dengan
hal-hal yang berbau spiritual, sementara Mario merupakan type yang cuek dan apa
adanya. Ramon sudah lama memperhatikan kedua orang itu, lalu sengaja memberi
mereka beberapa mantra dari Gellar ‘Si ahli manipulasi pikiran’ agar kedua
orang itu secara otomatis bisa mengenal Hiro dengan baik.
* * *
Hari itu berjalan lambat
sekali bagi Hiro, duduk selama 30 menit di dalam kelas membuatnya begitu bosan.
Singkat cerita Hiro sudah di apit oleh Sugeng dan Mario, tidak sulit menemukan
mereka karena Ramon sudah mengaturnya sedemikian rupa.
“Kau ikut Tourcamp
kan Hiro?” Sugeng bertanya selepas Dosen pertama meninggalkan ruangan.
“Hah? Apa?” Hiro
tersentak kebingungan.
“Hari pertama
masuk kuliah dan kau tertidur, wahhh kau benar-benar awesome.” Mario
mengacungkan kedua jempolnya.
“Aku tidak
tertidur.” Hiro membantah. “Hanya mengantuk saja. Memangnya orang botak tadi
mengoceh apa saja.
Sugeng menggeleng
sambil berdecak. “Dia hanya menyampaikan informasi tentang Tourcamp minggu
depan, di laut coyy keren gak?”
“Kau harus ikut,
disana kita bisa melihat gadis-gadis cantik dari jurusan lain.” Bisik Mario.
“Gadis cantik?”
Hiro mengulang dengan mata berbinar, fikiranya langsung tertuju pada Black
Fairys.
“Wah wah coba
lihat orang ini, sepertinya dia maniak gadis cantik.” Celoteh Sugeng sambil
tertawa.
“Apa kalian bisa
memberitahuku siapa gadis paling cantik di kampus ini?” Tanya Hiro dengan
tatapan menyala-nyala.
Sugeng dan Mario
saling pandang lalu tersenyum simpul.
“Banyak sekali
gadis cantik di kampus ini, sampai aku tak bisa menghitungnya.” Mario
mengangkat bahu.
* * *
Tiga hari
berikutnya Hiro menjalani kehidupanya dengan gelisah, bahkan ia semakin tidak
tenang karena masih buta terhadap keberadaan Black Fairys. Apalagi harus
berbaur dengan manusia adalah bagian yang paling dibencinya, ia takut julukan
“mirip” manusia semakin melekat pada dirinya jika berlama-lama tinggal di
lingkungan mereka. Ia benar-benar ingin kembali, kembali ke dunia yang gelap
dan pengap tempat tinggal asalnya.
Hari itu Hiro
memutuskan untuk lebih gencar lagi mencari sosok Black Fairys, setidaknya dia
harus mendapatkan petunjuk sedikit demi sedikit. Tidak boleh ada hari yang
sia-sia selama ada di tempat manusia. Dan Hiro merealisasikan keputusanya
dengan menyusuri tiap inci kampus mencari gadis-gadis berparas cantik dan
menawan yang bisa di jadikan kandidat Black Fairys.
“Mario telah
membohongiku, omong kosong jika banyak gadis cantik di kampus ini. Bahkan aku
belum menemukan satupun sampai saat ini.” Keluh Hiro ketika sudah menyusuri
setengah lingkungan kampus. Selepas itu ia menggerutu sepanjang jalan sampai
akhirnya tiba di aula Fakultas Seni, disana tengah berlangsung pagelaran drama
dengan judul yang menarik perhatian Hiro, yaitu “Kebangkitan Black Fairys”.
Tanpa babibu lagi
Hiro memasuki gedung itu dengan langah cepat, ia tak bisa mengendalikan dirinya
sehingga tanpa sengaja menabrak seseorang tepat ketika melewati pintu utama.
Hiro akan mengacuhkanya jika saja orang itu tidak menahan lengannya.
“Kamu?” Katanya
dengan nada terkejut.
Hiro lantas
berbalik, kemudian mendengus malas pada detik berikutnya. Gadis kumal nan culun
yang tempo hari merusak pemandangan matanya kini tengah berada di hadapanya,
segera saja ia menarik tanganya dari genggaman gadis itu seraya memalingkan
wajah.
“Apa yang kamu
lakukan disini?” Tanya nya lagi dengan tampang bingung.
“Aku hanya ingin
melihat pagelaran drama didalam.” Jawab Hiro ketus seraya melempar pandangan ke
arah celah pintu yang terbuka, dan tanpa sengaja ekor matanya menemukan sesuatu
yang menarik di sana. Dari celah pintu itu Hiro melihat seorang gadis yang
sedang berceloteh di atas panggung, dia adalah gadis tercantik yang pernah Hiro
temukan, tubuh dan wajahnya seperti Barbie, rambutnya hitam legam bergelombang,
dan yang membuat Hiro merasa yakin adalah gaun hitam gadis itu lengkap dengan
sayap hitam menempel di punggungnya.
“Black Fairys..”
Gumamnya tanpa sadar.
“Apa kau.......”
Ucapan gadis culun di hadapan Hiro terputus karena Hiro sudah terlebih dahulu
melesat pergi memasuki gedung.
Hiro menambah
kecepatan langkahnya, setengah berlari ia menuju panggung dengan jantung
berdebam-debam hebat. Semua mata di ruangan itu menatapnya dengan tatapan heran
dan kebingungan, bahkan gadis yang dimaksud Hiro mendadak menghentikan
celotehnya.
Tanpa membuat
jeda, Hiro langsung meraih tangan gadis yang di tujunya kemudian menariknya
turun dari panggung. Aula seketika menjadi riuh, orang-orang menunjuknya dengan
tatapan kesal, bahkan beberapa diantaranya mencoba menghentikan Hiro. Namun
Hiro tetap memantapkan langkahnya tanpa mengurangi kecepatan, ia bahkan tak menghiraukan
gerakan protes dari gadis yang dianggapnya adalah seorang Black Fairys.
“HEIII.. DASAR
GILA, MANIAK, COWOK STRESS.. LEPASIIIN GUE..” Begitulah teriakan protes gadis
cantik itu yang sengaja tidak digubris Hiro.
* * *
Karena tidak bisa
diam, Hiro mengarungi gadis cantik yang di culiknya dari pementasan drama
dengan karung goni yang ia temukan di pinggir jalan.
“NOOO WAYYYYYYY,
PLEASE JANGAN KARUNG GONI BAU INI...”
“BRENGSEK LO, GUE
BUNUH LO NANTI........ LEPASIN GUEEEEEEE.........”
Hiro mengangkat
bahu, lagi-lagi ia tak menghiraukan protes gadis yang dianggapnya Black Fairys.
Setelah memasukanya ke kursi disebelahnya gadis itu akhirnya diam, mungkin
tenaganya sudah habis dipakai teriak-teriak sepanjang jalan.
“Kita pulang, ke tempat tinggal ayahku..” Katanya seperti
berkomunikasi dengan Chevrolet tua itu setelah menempatakan bokongnya di
belakang kemudi.
Mobilnya melesat dengan kecepatan tinggi, sementara Hiro menikmati
kepuasan dihatinya setelah mendapat kemenangan yang singkat. Ia menepuk-nepuk karung
goni yang ada disebelahnya dengan perasaan bangga, perasaan tidak sabar,
perasaan ingin segera sampai ke tempat asalnya.
Chevroletnya bukan sekedar mobil biasa, sejenis mobil modern masa
depan yang bisa di melaju otomatis tanpa pengemudi. Hanya saja hal itu
diciptakan bukan karena ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi menggunakan
kelebihan makhluk-makhluk aneh yang berada di bawah permukaan tanah. Kaumnya,
koloni yang diakui sebagai kaum Hiro. Seharusnya kalian bisa menebak, Hiro
bahkan tidak punya waktu untuk belajar mengemudikan mobil secara manual di
dunia manusia. Oleh karena itu ayahnya menciptakan kendaraan itu, cara mengemudikanya
hanya dengan mengatakan arah dan tempat yang ingin dituju.
TBC
Sosok Black Fairys di panggung drama








0 komentar:
Posting Komentar