Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Weekly post

BLACK FAIRYS (FANTASY) CHAP 2

DUNIA MANUSIA




Dunia Manusia
            Beberapa detik sebelumnya, Hiro berpegangan pada lengan Ramon di sebuah tempat gelap yang ia sebut lorong perbatasan. Lalu detik selanjutnya Hiro harus menyipitkan mata akibat cahaya yang tiba-tiba saja menyeruak memenuhi retina matanya, ia selalu bergidik di bagian ini ketika Ramon membawanya berteleport. Hanya dalam sekejap Hiro bisa merasakan perubahan atmosfir di sekelilingnya, dan ketika membuka mata sepenuhnya Hiro tak kuasa untuk menahan ekspresinya. Sambil menganga, tangannya terangkat menunjuk arah di depanya.
            “Apa maksudnya dengan tempat seperti ini?” Hiro bertanya dengan nada agak tinggi.
            Lalu Ramon menjawabnya dengan kalem. “Tempat tinggalmu di tataran sunda.”
            Hiro menelan ludah susah payah, ia kemudian menyapu tiap  sudut tempat itu dengan ekor matanya. Perumahan tua yang tampak tak berpenghuni itu terlihat tidak terurus dengan semak-semak liar disana-sini. Satu-satunya yang menarik bagi Hiro adalah sebuah sedan Chevrolet yang sedikit mengkilap di banding benda-benda yang lainya.
            “Ayah sudah berpesan agar tempatmu di jauhkan dari koloni manusia. Kau bisa jadi tidak terkendali Hiro, dan mereka akan curiga. Rumah ini akan jadi tempat yang tepat untukmu selama melaksanakan tugas.”
            Hiro mengerang, angan-anganya seperti di jatuhkan dari tempat yang tinggi. Hilang sudah harapanya tinggal di salah satu gedung pencakar langit yang saat ia menengok ke bawah jendela terdapat jalan yang membelah kota dengan kendaraanya yang padat. Ia ingin tinggal di tempat yang ramai, bukan rumah antah berantah yang terasing seperti ini.
            Ramon tak menghiraukan perubahan wajah Hiro, ia kemudian menuju salah satu rumah yang terparkir sedan Chevrolet itu di halamannya. Sebelumnya Ramon terlebih dahulu menepuk bagian depan mobil tua itu seraya berujar. “Ini hadiah dari ayah, kau akan terkejut ketika mengendarainya"
            Namun Hiro tidak menggubrisnya, ia lebih mengkhawatirkan tempat tinggal yang akan dihuninya, “Ramon, bisakah kau pindahkan aku ke tempat yang agak ramai sedikit. Aku terbiasa dengan kalian saudaraku 11 orang, bagaimana caraku bisa hidup di tempat ini sendirian?”
            “Kau tidak akan duduk diam disini, ayah bilang kau harus kuliah di salah satu Universitas di Tasikmalaya.” Ramon menjawab datar tepat ketika membuka pintu, sebelum masuk ia melirik Hiro terlebih dahulu. “Setidaknya tempat itu akan mendewasakanmu.”
            “Kuliah? Universitas?” Hiro mengerang. “Bukankah itu tempat manusia belajar pengetahuan, oh ayolah aku tidak membutuhkan itu semua. Lagipula aku pasti akan dewasa pada waktunya.”
            Bertepatan dengan itu mereka sudah tiba di ruang tengah, Ramon lalu duduk dengan santai sementara Hiro masih berdiri menatapnya dengan gelisah.
“Sebenarnya bisa saja kau melakukan aktifitas yang lain, tapi David si ahli aura itu sangat yakin merasakan Black Fairys terakhir kali ada di tempat itu.” Ujar Ramon.
            Hiro terdiam, lalu ia berujar. “Black Fairys, di Universitas itu?”
            “Benar, Universitas itu bukan tempat perkuliahan biasa. Banyak kejadian misterius tiap semesternya, seperti pembunuhan yang terlupakan.”
            “Apa maksudmu tentang pembunuhan yang terlupakan?”
            “Kau akan mengerti setelah berada disana.”
            “Jadi, dimana Universitasku itu?” Tanya Hiro dengan nada tertarik.
            “Setelah ini kita akan kesana, agar besok kau tidak akan merasa asing dengan tempat itu.”
*          *          *

            Hiro langsung berjalan dengan santai ke gedung fakultas setelah menyimpan mobilnya di parkiran, sepanjang jalan itu banyak mata yang mengikutinya diam-diam. Tampilan fisik Hiro memang mampu membuat wanita tergila-gila padanya, dengan tubuh tinggi semampai, kulit seputih porselen, rahang tegas dengan hidung runcing menjadi pahatan unggul di wajahnya. Belum lagi lesung pipi yang muncul ketika Hiro menarik sudut bibirnya, hal itu menjadi penutup yang sempurna untuk gambaran fisiknya dimata manusia biasa.
Ketika melewati segerombolan mahasiswi, Hiro menyempatkan diri melempar senyum ke arah mereka.
            “Apa dia malaikat yang tersesat dibumi?”
            “Ganteng, imut, berkarisma, manis dan menawan. Ia memiliki semua paket itu.”
            “Yakkk senyumnya membuatku mimisan.....”
            Celoteh itu sampai di telinga hiro, refleks ia membetulkan gaya rambutnya. Tersenyum senang Hiro merasa bangga pada dirinya sendiri, dan itu membuat fokusnya kurang sehingga “Brukkkkkkkk” Hiro meluncur ke selokan di depanya tanpa sempat berkelit.
            Semua orang yang menyaksikanya menganga lebar, tak terkecuali Hiro, ia mendadak ingin ingin mengubur dirinya jauh ke dasar bumi. Wanita yang berceloteh terkagum-kagum tadi berubah geli menahan tawa. Hiro lantas berdiri dan langsung merapihkan kembali penampilanya, saat itulah tawa gadis-gadis di belakangnya pecah.
            Bibir tipis Hiro bergetar, melihat bajunya yang kotor dan tawa mengejek gadis-gadis di belakangnya membuat ia merasa jadi orang paling malang di dunia ini.
            “Ayaahhhhh........” Rengeknya setengah menjerit seraya mengambil langkah cepat menuju kamar mandi terdekat.
            “Lihat bagaimana mereka memperlakukanku.” Hiro melangkah keluar dari kamar mandi dengan tetap menggerutu. “Jika saja ada Pery disini ia pasti akan menyembur mereka dengan nafas apinya.”
            Bertepatan dengan itu perhatian Hiro beralih pada gadis-gadis yang berjejer memagari pembatas lapangan basket, disana tengah berlangsung pertandingan antara dua fakultas berbeda. Hiro memandang gadis-gadis itu satu perstu, penampilan mereka bervariasi dengan gaya yang berbeda-beda
            “Adakah Black Fairys diantara mereka?” Gumamnya pelan, lalu mengingat-ingat kembali perwujudan Black Fairys sesuai yang dikatakan Thunder ‘Kau bayangkan saja seorang perempuan yang memiliki pesona tingkat dewa. S-E-M-P-U-R-N-A’.
Hiro meningkatkan ketajaman pengelihatanya. “Yang paling cantik, paling bohay, paling menawan, aduh yang mana kira-kira eohh?”
            Dahi Hiro mengkerut setengah mengerenyit, salah satu diantara mereka merusak pandangan matanya. Gadis dengan penampilan kumal mengenakan baju kedodoran, rambutnya yang ikal di tata dengan gaya jadul, kacamata bulatnya terletak di tengah tulang hidung menghiasi wajah hitam gadis itu. Belum lagi tingkahnya yang paling agresif diantara teman-temanya, mendadak Hiro merasa mual memperhatikan gadis itu lama-lama.
            Seraya meloncat-loncat centil, gadis itu berteriak untuk menyemangati salah satu pemain basket yang tengah bertanding di lapangan. “AAAAAAAAA, SAMUDRAAA!! SEMANGAT, GO GO GO!! KAMU HARUS MENANG.”
            Hiro menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu memalingkan wajah dengan muak. “Huhh dimana juga kira-kira aku bisa menemukan Sugeng dan Mario.” Keluhnya.
            Sebelumnya Ramon sudah memberitahunya tentang Sugeng dan Mario, dua sosok manusia yang katanya cocok berbaur dengan Hiro. Sugeng adalah seseorang yang terobsesi dengan hal-hal yang berbau spiritual, sementara Mario merupakan type yang cuek dan apa adanya. Ramon sudah lama memperhatikan kedua orang itu, lalu sengaja memberi mereka beberapa mantra dari Gellar ‘Si ahli manipulasi pikiran’ agar kedua orang itu secara otomatis bisa mengenal Hiro dengan baik.
*          *          *
            Hari itu berjalan lambat sekali bagi Hiro, duduk selama 30 menit di dalam kelas membuatnya begitu bosan. Singkat cerita Hiro sudah di apit oleh Sugeng dan Mario, tidak sulit menemukan mereka karena Ramon sudah mengaturnya sedemikian rupa.
            “Kau ikut Tourcamp kan Hiro?” Sugeng bertanya selepas Dosen pertama meninggalkan ruangan.
            “Hah? Apa?” Hiro tersentak kebingungan.
            “Hari pertama masuk kuliah dan kau tertidur, wahhh kau benar-benar awesome.” Mario mengacungkan kedua jempolnya.
            “Aku tidak tertidur.” Hiro membantah. “Hanya mengantuk saja. Memangnya orang botak tadi mengoceh apa saja.
            Sugeng menggeleng sambil berdecak. “Dia hanya menyampaikan informasi tentang Tourcamp minggu depan, di laut coyy keren gak?”
            “Kau harus ikut, disana kita bisa melihat gadis-gadis cantik dari jurusan lain.” Bisik Mario.
            “Gadis cantik?” Hiro mengulang dengan mata berbinar, fikiranya langsung tertuju pada Black Fairys.
            “Wah wah coba lihat orang ini, sepertinya dia maniak gadis cantik.” Celoteh Sugeng sambil tertawa.
            “Apa kalian bisa memberitahuku siapa gadis paling cantik di kampus ini?” Tanya Hiro dengan tatapan menyala-nyala.
            Sugeng dan Mario saling pandang lalu tersenyum simpul.
            “Banyak sekali gadis cantik di kampus ini, sampai aku tak bisa menghitungnya.” Mario mengangkat bahu.
*          *          *
            Tiga hari berikutnya Hiro menjalani kehidupanya dengan gelisah, bahkan ia semakin tidak tenang karena masih buta terhadap keberadaan Black Fairys. Apalagi harus berbaur dengan manusia adalah bagian yang paling dibencinya, ia takut julukan “mirip” manusia semakin melekat pada dirinya jika berlama-lama tinggal di lingkungan mereka. Ia benar-benar ingin kembali, kembali ke dunia yang gelap dan pengap tempat tinggal asalnya.
            Hari itu Hiro memutuskan untuk lebih gencar lagi mencari sosok Black Fairys, setidaknya dia harus mendapatkan petunjuk sedikit demi sedikit. Tidak boleh ada hari yang sia-sia selama ada di tempat manusia. Dan Hiro merealisasikan keputusanya dengan menyusuri tiap inci kampus mencari gadis-gadis berparas cantik dan menawan yang bisa di jadikan kandidat Black Fairys.
            “Mario telah membohongiku, omong kosong jika banyak gadis cantik di kampus ini. Bahkan aku belum menemukan satupun sampai saat ini.” Keluh Hiro ketika sudah menyusuri setengah lingkungan kampus. Selepas itu ia menggerutu sepanjang jalan sampai akhirnya tiba di aula Fakultas Seni, disana tengah berlangsung pagelaran drama dengan judul yang menarik perhatian Hiro, yaitu “Kebangkitan Black Fairys”.
            Tanpa babibu lagi Hiro memasuki gedung itu dengan langah cepat, ia tak bisa mengendalikan dirinya sehingga tanpa sengaja menabrak seseorang tepat ketika melewati pintu utama. Hiro akan mengacuhkanya jika saja orang itu tidak menahan lengannya.
            “Kamu?” Katanya dengan nada terkejut.
            Hiro lantas berbalik, kemudian mendengus malas pada detik berikutnya. Gadis kumal nan culun yang tempo hari merusak pemandangan matanya kini tengah berada di hadapanya, segera saja ia menarik tanganya dari genggaman gadis itu seraya memalingkan wajah.
            “Apa yang kamu lakukan disini?” Tanya nya lagi dengan tampang bingung.
            “Aku hanya ingin melihat pagelaran drama didalam.” Jawab Hiro ketus seraya melempar pandangan ke arah celah pintu yang terbuka, dan tanpa sengaja ekor matanya menemukan sesuatu yang menarik di sana. Dari celah pintu itu Hiro melihat seorang gadis yang sedang berceloteh di atas panggung, dia adalah gadis tercantik yang pernah Hiro temukan, tubuh dan wajahnya seperti Barbie, rambutnya hitam legam bergelombang, dan yang membuat Hiro merasa yakin adalah gaun hitam gadis itu lengkap dengan sayap hitam menempel di punggungnya.
            “Black Fairys..” Gumamnya tanpa sadar.
            “Apa kau.......” Ucapan gadis culun di hadapan Hiro terputus karena Hiro sudah terlebih dahulu melesat pergi memasuki gedung.
            Hiro menambah kecepatan langkahnya, setengah berlari ia menuju panggung dengan jantung berdebam-debam hebat. Semua mata di ruangan itu menatapnya dengan tatapan heran dan kebingungan, bahkan gadis yang dimaksud Hiro mendadak menghentikan celotehnya.
            Tanpa membuat jeda, Hiro langsung meraih tangan gadis yang di tujunya kemudian menariknya turun dari panggung. Aula seketika menjadi riuh, orang-orang menunjuknya dengan tatapan kesal, bahkan beberapa diantaranya mencoba menghentikan Hiro. Namun Hiro tetap memantapkan langkahnya tanpa mengurangi kecepatan, ia bahkan tak menghiraukan gerakan protes dari gadis yang dianggapnya adalah seorang Black Fairys.
            “HEIII.. DASAR GILA, MANIAK, COWOK STRESS.. LEPASIIIN GUE..” Begitulah teriakan protes gadis cantik itu yang sengaja tidak digubris Hiro.
*          *          *
            Karena tidak bisa diam, Hiro mengarungi gadis cantik yang di culiknya dari pementasan drama dengan karung goni yang ia temukan di pinggir jalan.
            “NOOO WAYYYYYYY, PLEASE JANGAN KARUNG GONI BAU INI...”
            “BRENGSEK LO, GUE BUNUH LO NANTI........ LEPASIN GUEEEEEEE.........”
            Hiro mengangkat bahu, lagi-lagi ia tak menghiraukan protes gadis yang dianggapnya Black Fairys. Setelah memasukanya ke kursi disebelahnya gadis itu akhirnya diam, mungkin tenaganya sudah habis dipakai teriak-teriak sepanjang jalan.
“Kita pulang, ke tempat tinggal ayahku..” Katanya seperti berkomunikasi dengan Chevrolet tua itu setelah menempatakan bokongnya di belakang kemudi.
Mobilnya melesat dengan kecepatan tinggi, sementara Hiro menikmati kepuasan dihatinya setelah mendapat kemenangan yang singkat. Ia menepuk-nepuk karung goni yang ada disebelahnya dengan perasaan bangga, perasaan tidak sabar, perasaan ingin segera sampai ke tempat asalnya.
Chevroletnya bukan sekedar mobil biasa, sejenis mobil modern masa depan yang bisa di melaju otomatis tanpa pengemudi. Hanya saja hal itu diciptakan bukan karena ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi menggunakan kelebihan makhluk-makhluk aneh yang berada di bawah permukaan tanah. Kaumnya, koloni yang diakui sebagai kaum Hiro. Seharusnya kalian bisa menebak, Hiro bahkan tidak punya waktu untuk belajar mengemudikan mobil secara manual di dunia manusia. Oleh karena itu ayahnya menciptakan kendaraan itu, cara mengemudikanya hanya dengan mengatakan arah dan tempat yang ingin dituju.
TBC
 


Sosok Black Fairys di panggung drama

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar