TENTANG VANESSA
Hiro mendapati
dirinya dalam keadaan bingung saat keluar dari bagian Administrasi Mahasiswa. Anjani
benar-benar menghilang tanpa menyisakan jejak sedikitpun, baik dalam semua dokumen
mahasiswa maupun dalam ingatan semua
orang. Hiro merasakan setengah hatinya di landa kehampaan, Anjani adalah
Kandidat Black Fairy paling unggul diantara semua gadis di kampusnya. Jika dia
hilang secara misterius seperti ini. bagaimana Hiro bisa melanjutkan
perncariannya?
Apa mungkin
Anjanilah sang Black Fairy? Ia menghilang karna sudah ketahuan olehku.
Untuk kesekian
kalinya Hiro memijit pelipisnya sendiri, hari sudah semakin sore namun tak satu
pun dari ribuan pertanyaan dikepalanya bisa terjawab.
Samudra.. Tiba-tiba
Hiro teringat pemuda berbaju besi itu. Dialah satu-satunya orang yang bisa
memberiku jawaban.
Dengan langkah lebar, Hiro memutar haluan menuju Fakultas
Pertanian. Saat ini ia tidak memikirkan apapun selain keinginan mendapatkan
petunjuk.
“Kau mau kemana
buru-buru begitu?” Kata suara dengan nada khas yang sangat dikenali Hiro.
Hiro menghentikan langkahnya seketika, saat berbalik ia mendapati
Vigo dan Pery ada di belakangnya. Dari sana Hiro merasakan hatinya lebih lega
dengan kemunculan mereka.
“Vigo... Pery..”
Hiro tak kuasa menahan pilu untuk berlari menghambur ke arah mereka. “Aku kira
kalian tak akan menjenguk-ku lagi”.
“Bagaimana bisa
kami setega itu padamu.” Pery dengan nada bewibawanya bicara sambil
menepuk-nepuk bahu Hiro.
“Pery, bawa aku pulang
ke tempat kita. Aku sudah tidak bisa lagi tinggal di dunia manusia, Black Fairy
telah pergi dari tempat ini. Dia menghilang.” Rengek Hiro.
“Apa maksudmu..”
Vigo tampak terkejut.
“Coba ceritakan
pada kami!” Pery mempersiapkan telinganya untuk mendengar penjelasan Hiro.
Hiro menghirup
nafas dalam-dalam lalu mulai bercerita panjang lebar dari mulai merasakan keanehan
cuaca sampai akhirnya melihat Black Fairy secara langsung.
“Kau yakin bahwa
Black Fairy itu asli?” Tanya Vigo ragu, mengingat kejadian terakhir saat Hiro
membawa pulang Black Fairy yang salah.
“Aku sangat yakin
Vigo, untuk kali ini percayalah padaku.”
“Sepertinya kali
ini Hiro benar.” Ucap Pery, Vigo langsung mengangguk percaya ketika Pery yang
menyatakannya.
“Lalu hubungan Black Fairy dengan gadis bernama Anjani yang kau
ceritakan itu bagaimana?” Lanjut Pery.
“Setelah Black
Fairy menghilang aku langsung mencari Anjani. Tapi anehnya aku tak bisa
menemukan dia dimanapun, padahal tadi pagi saat bertemu denganya ia masih
baik-baik saja.”
“Bagaimana bisa
kau langsung menghubungkanya dengan Black Fairy, siapa tau gadis itu sedang
tidak berada di kampus saat kau mencarinya.” Sanggah Vigo.
“Aku tidak
seceroboh itu sekarang.” Hiro mendelik tak terima. “Bagian teraneh nya adalah,
Anjani bukan hanya tidak bisa di temukan dimanapun tapi dia juga menghilang
dari ingatan semua orang. Dia seperti tidak pernah ada sebelumnya, tidak ada
seorangpun yang mengingatnya selain aku.”
Vigo dan Peter
sama-sama memasang wajah kebingungan, mereka kemudian saling pandang dan
mengangguk satu sama lain.
“Kau bilang
sebelumnya cuaca menjadi aneh dan kabut misterius turun dari langit?” Selidik
Pery.
Hiro mengangguk.
“Apa kau tau sesuatu.”
“Tidak salah lagi,
itu adalah ulah Vampire.”
Hiro tersentak
kaget. “Vampire?”
“Vampire termasuk
kaum kita, hanya saja mereka tidak mau bergabung dan memisahkan diri pada saat
pemidahan tempat.” Pery menjelaskan dengan tenang.
“Mengapa kaum kita
tidak mempertahankan mereka?”
“Vampir adalah
jenis yang cerdik, cepat, kuat dan tidak terkendali. Cenderung menuruti insting
jenis mereka sendiri dan tidak suka di perintah. Agak sulit jika harus berbaur
dengan mereka, untuk itulah kaum kita memilih setuju agar mereka memisahkan
diri.”
“Kemarin ayah
mendapatkan informasi bahwa pembunuhan yang terlupakan di Universias ini
melibatkan jenis Vampire.” Vigo menambahkan.
“Pembunuhan yang
terlupakan?” Hiro mengulang dengan eskpresi seakan baru menyadari sesuatu. “Aku
hampir melupakan tentang hal itu. Ya, Ramon pernah menjelaskanya.”
“Karena semua
orang tidak akan mengingatnya lagi, di sebutlah pembunuhan yang terlupakan.”
“Tapi aku
mengingatnya.” Hiro menyanggah ucapan Pery. “Aku mengingatnya dengan jelas.”
“Tentu saja, kau
mengingatnya karna kau bukan manusia tetapi bagian dari kami.”
Hiro tersanjung,
matanya berbinar-binar. “Kau benar Pery, tentu saja aku adalah bagian dari
kalian. Tapi apakah korban dari pembunuhan yang terlupakan itu akan benar-benar
mati?”
“Tak ada yang bisa
menjamin ia masih hidup, kemungkinan besarnya ia akan mati.”
Hiro merasakan
hatinya mencelos saat mengingat wajah Anjani, senyum gadis itu yang menawan,
perawakan yang seperti model, kebaikan hatinya, Hiro tidak akan melupakan semua
itu. Sayang hanya dia seorang yang bisa mengingatnya.
“Karena sebelumnya
kita sudah mengadakan gencatan senjata dengan jenis Vampir, kaum kita tidak di
perbolehkan untuk mencampuri segala urusan mereka. Oleh karena itu usahakan
jangan sekali-kali terlibat sedikitpun dalam kasus pembunuhan yang terlupakan.”
Pery mengingatkan.
“Apakah ini alasan
Black Fairy sering muncul disini?” Tanya Hiro.
“Sepertinya
begitu.”
“Apa alasan jenis
Vampir melakukan pembunuhan yang terlupakan?”
Vigo menggeleng. “Itulah
yang tidak kami ketahui. Tapi yang jelas, aktivitas mereka di dunia manusia
pasti memiliki tujuan yang sama dengan kita.”
“Menemukan Black
Fairy?” Tebak Hiro.
Vigo mengangguk
sebagai jawaban. Hiro memutar bola matanya, memililki saingan untuk mendapatkan
Black Fairy sungguh telah menambah beban hidupnya.
Memikirkan tentang
saingan yang sama-sama ingin menemukan Black Fairy, tiba-tiba saja Hiro
mengingat Samudra. Apalagi setelah ia menyaksikan Samudra tampak serius
mengarahkan mata panah ke langit tempat Black Fairy menghilang, hal itu semakin
membuat Hiro yakin.
“Apa mungkin
Vampir itu adalah Samudra?” Kata Hiro terdengar bergumam.
“Kau sudah
mengetahuinya?” Vigo dan Pery terlihat sama-sama tertarik.
“Entahlah, tapi
sepertinya memang benar dia orangnya.”
“Baguslah jika
kamu sudah tau siapa Vampir itu, yang selanjutnya harus kau lakukan adalah
menjauhinya. Jangan sampai terlibat apa pun denganya.” Pery mengingatkan
kembali.
Hiro mengangguk.
“Aku mengerti.”
“Ngomong-ngomong
dimana tempat tinggalmu sekarang? Ayah sempat khawatir, dia bilang akan memberikan
kelonggaran bila keadaanmu benar-benar buruk.” Ujar Vigo.
“Sebenarnya aku
sudah punya tempat tinggal yang layak dan juga uang saku, hanya saja
konsekuensinya aku harus menikahi gadis buruk rupa.” Jawab Hiro dengan wajah
malas.
“APAA? MENIKAH?”
Pery dan Vigo
sama-sama membulatkan mata mereka terkejut sekaligus tak percaya.
“Aku pun terpaksa
melakukanya.”
“Kami butuh
penjelasan yang serinci-rincinya. Ada apa sebenarnya? Mengapa hidupmu jadi
sekacau ini hanya dalam hitungan hari?”
“Begini ceritanya.”
Hiro menarik nafas panjang, dan untuk kedua kalinya bercerita panjang lebar
kepada Vigo dan Pery.
* * *
Setelah
matahari terbenam dalam peraduanya, selimut hitam sang malam menyelimuti langit
Kota Tasikmalaya yang tenang. Waktu menunjukan pukul 19.00 ketika mobil
manipulasi yang ceritanya di kemudikan Pery tiba di halaman rumah baru Hiro.
Sepanjang itu mereka membahas semua tentang pernikahanya dengan Vanessa.
“Tidak
masalah selama gadis itu memperlakukanmu dengan baik.” Kata Pery.
“Baik
pantatku! Dia sangat datar bahkan kadang-kadang cenderung mengabaikanku,
semalam saja aku dibiarkan tidur di lantai. Aku selalu dibuat kesal hanya
dengan melihat waajahnya, intinya aku benar-benar membencinya.”
“Sepertinya
dia telah menyita banyak perhatianmu.” Goda Vigo. “Aku jamin kau akan
menyukainya suatu saat.”
“APAA?
Uhekkkkk..... Lihatlah wajah buruk rupanya dan baru bicara.” Gerutu Hiro tak
terima. “Wajahnya membuatku mual, bicaranya selalu bikin kesal, dan sikapnya
benar-benar menyebalkan. Kau pikir aku akan menyukai orang seperti itu? Oh
ayolah, aku masih punya akal sehat.”
“Baiklah-baiklah,
aku hanya bercanda kenapa kau serius sekali.” Kata Vigo seraya terkekeh, Pery
ikut-ikutan mentertawakan ekspresi marah Hiro.
“Sudahlah,
aku malas melihat wajah kalian.” Kata Hiro kesal seraya keluar dari mobil dan
membanting pintunya cukup keras. Tak lama kemudian ia terkejut saat melihat
Vanessa berdiri di belakang mobil sambil menenteng keresek belanjaan.
Hiro
tergagap ketika melihat wajah datar Vanessa, Vigo dan Pery turun dari mobil
sebelum Hiro sempat mengeluarkan sepatah kata.
“Apa
kamu adalah adik ipar kami?” Seru Vigo dengan wajah menahan tawa sambil
menghampiri Vanessa lalu menjabat tanganya.”Aku Vigo, kakak ketiga Hiro.”
“Pery.”
Kali ini Pery menyodorkan lenganya, ketika itu ia menatap lekat-lekat wajah
Vanessa dengan serius.
“Vanessa.”
Ujar Vanessa memperkenalkan diri. “Terimakasih karena sudah menyempatkan waktu
berkunjung kemari. Aku sudah dengar bahwa Hiro memiliki banyak saudara, tapi
aku tidak menyangka saudara-saudaranya setampan ini.” Puji Vanessa tersipu.
“Kami
juga tidak menyangka bahwa adik ipar kami ternyata secantik ini.” Kata Vigo
menahan tawa sambil melempar pandangan mengejek ke arah Hiro, Pery sempat
menyikutnya.
Hiro
tidak berdiam diri, ia mengambil tindakan dengan menyeret kedua saudaranya
masuk kedalam mobil. “Pergilah kalian... Titip salam rinduku pada ayah dan yang
lainya.”
“Tapi
kami ingin berbincang lebih lama dengan istrimu.” Goda Vigo.
“Dia
sibuk, cepatlah pergi!” Tegas Hiro.
“Baiklah,
kami akan pergi.” Kata Pery ketika ia dan Vigo sudah ada di dalam mobil. “Kami
pasti akan datang mengunjungimu lagi.”
“Selamat
tinggal adik ipar, kami pasti akan kembali.” Teriak Vigo mengeluarkan kepalanya
dari jendela mobil. Vanessa hanya membalasnya dengan tersenyum kecil.
Dengan
tanpa rasa hormat, Hiro mendorong kepala Vigo masuk kembali kedalam mobil
sehingga komunikasinya dengan Vanessa berakhir. “Khusus untukmu tidak datang
kesini lagi juga tidak apa-apa.”
“Kau
ini tega sekali pada kakakmu.” Gerutu Vigo sambil membetulkan tatanan
rambutnya.
“Kami
berangkat.” Kata Pery tepat ketika terdengar suara mesin menderu, tak lama
kemudian mobil mereka pun melaju meninggalkan area perumahan.
Vanessa
tidak mengatakan apa-apa dan langsung melangkahkan kakinya menuju rumah. Hiro
menatap ke arahnya dengan perasaan bersalah.
“Apa
kau mendengarkan percakapan kami tadi?” Tanya Hiro takut-takut.
Vanessa
menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Hiro. “Percakapan yang mana?”
“Percakapan
tadi, saat aku mengatakan hal yang tidak mengenakan tentangmu.”
Vanessa
terdiam sesaat, ia kemudian menjawab seraya meneruskan langkahnya. “Tidak
masalah meskipun aku mendengarnya, santai saja.”
Pembawaan
Vanessa yang biasa saja justru malah membuat Hiro semakin merasa bersalah. Aku
selalu mengatakan bahwa ia menyebalkan, tapi sebenarnya akulah yang lebih
menyebalkan. Meskipun merasa tidak enak, Hiro memutuskan untuk tidak
terlalu memikirkanya dan bersikap biasa saja seperti yang dilakukan Vanessa.
“Oiyaa,
tadi saat di kampus kau bilang kakek ingin bertemu dengan kita. Ada apa?”
“Kakek
ingin mengajak kita membeli perabotan rumah, karena kamu tidak ada aku yang
memilihnya sendiri.” Jawab Vanessa datar.
“Oh..”
Hiro mengangguk, ia kemudian berpikir untuk mencari topik pembicaraan yang
lain.
“Kau
habis darimana?” Tanya Hiro basa-basi.
“Ke
toko, membeli makanan. Teman-temanku mampir kesini.”
“Teman-temanmu?
Siapa?”
“Gisel,
Hani dan Yesi. Ingat mereka? Teman-temanku yang waktu di penginapan.”
“Oh,
teman-temanmu yang menjebak kita itu.”
“Jangan
mengatakan hal yang sembarangan tentang teman-temanku.” Tegas Vanessa tepat
ketika memegang kenop pintu.
“Kenapa?
Kau takut kehilangan mereka? karena hanya mereka yang sudi berteman denganmu,
iya kan?”
Vanessa
mendelik sebelum akhirnya membuka kenop pintu.
“Nes,
jam berapa suamimu pulang. Mengapa dia lama sekali?” Keluh suara yang ada di
dalam.
Saat
Hiro muncul, dua dari tiga teman Vanessa menghambur ke arahnya dengan mata
berbinar-binar dan saling berebutan menyalami tangan Hiro. Vanessa membiarkan
Yesi dan Gisel mengerumuni suaminya sementara dirinya sendiri melengos ke
dapur.
“Aku
Gisel.” Gadis berkulit gelap dengan perawakan kurus mengenalkan diri dalam
keadaan terpesona menatap Hiro.
“Aku...
Yesi..” Kini giliran gadis gendut yang terdapat tompel di pelipisnya menyalami
Hiro.
Menatap
mereka membuat Hiro berfikir. Benar-benar geng buruk rupa, mereka cocok.
“Hiro..”
Ucap Hiro sambil tersenyum setengah hati.
“Bagaimana
kalau kita berbincang sambil duduk?” Usul Yesi sambil mengapit tangan Hiro.
Gisel
tak mau kalah dengan mengapit lengan Hiro yang satunya lagi, kemudia mereka
berdua menyeret Hiro agar duduk di sofa. Hiro baru menyadari bahwa saat ini
rumahnya sudah di lengkapi perabotan rumah, seperti sofa, TV dan perabotan yang
lainya.
“Tidak
usah sekaku itu, Vanessa sudah memberitahu semuanya.” Kata Yesi meihat gelagat
Hiro yang kebingungan harus berbuat apa.
“Kami
sudah mengetahui semuanya, tentang pernikahan palsu ini. Kami sangat
memahaminya.” Kata Gisel.
“Maafkan
kami karena waktu itu memberi kesaksian yang menyudutkan kalian.” Sesal Yesi.
“Kami benar-benar tidak tahu dan kami sangat menyesalinya.”
“Kami
sempat tidak punya keberanian menemui Vanessa lagi, dan berpikir bahwa tidak
pantas bersahabat denganya. Tapi setelah ia mengatakan hidupnya lebih baik
ketika terjebak pernikahan denganmu, kamipun merasa lega.”
Hiro membulatkan matanya ketika mendengar hal tersebut.
“Aihhhh
kau benar-benar tampan sekali, betapa beruntungnya Vanessa meskipun kalian
hanya menikah untuk sementara.” Gumam Yesi menangkup kedua pipinya dengan wajah
merona.
“Kau
bahkan lebih tampan dari Samudra, aku tidak mengerti kenapa Vanessa tidak
berpaling saja kepadamu.” Kata Gisel.
Mendengar
ia lebih tampan dari Samudra, Hiro menarik sudut bibirnya bangga.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA,
lihat senyumnya itu. Aku bisa gila..” Jerit Yesi membuat Hiro terperanjat
kaget.
“Sebenarnya
ibumu mengidam apa saat ia mengandung, aku ingin mendapatkan resepnya. Ah
tidak, aku ingin mendapatkan gen nya langsung darimu. Bagaimana jika kita
membuat anak yang selucu dan setampan dirimu” Goda Gisel seraya menutup
wajahnya yang kemerahan.
Hiro
seketika merinding dan langsung menggeleng kuat-kuat.
“Berhentilah
merayu suami teman kalian sendiri.” Kata seorang gadis pendek berkulit sawo
matang, di tanganya ia membawa nampan berisi minuman.
Gisel
dan Yesi mendelik ke arah Hani yang kini tengah mengatur minuman diatas meja.
“Ini
jus jambu, aku buatkan khusus untukmu. Jus ini bisa menjaga kesehatan kulitmu,
minumlah..” Kata Hani lembut seraya menyodorkan segelas jus jambu pada Hiro.
Seketika
Gisel dan Yesi meneriaki Hani. “Kau sendiri merayunya, dasar cebo.”
Hani
tertawa melihat tingkah kesal kedua temanya.
“Sekalipun
dia suami aslinya Vanessa, aku tetap ingin merayunya.” Kata Yesi sambil memeluk
erat lengan Hiro. Hiro segera menampiknya tidak suka.
“Kami
minta maaf Hiro, sudah membuat bising rumahmu dan sedikit mengotorinya.” Kata
Hani, sepertinya ia adalah tipikal paling dewasa diantara geng buruk rupa itu
menurut pandangan Hiro.
“Karena
kalian adalah teman Vanessa, kurasa itu tidak masalah..”
“Aaaaaaaaaaaaaa,
betapa baik dan pengertianya. Bukan hanya mengizinkan Vanessa tinggal di rumah
ini, tapi ia juga memperlakukan Vanessa seperti seorang istri sungguhan.” Kata
Yesei.
“Apa?”
Kata Hiro menatap tidak mengerti ke arah Yesi.
“Bukankah
begitu? Kau menginginkan kebebasan dari keluargamu dan kamu memberikan
kehidupan yang layak untuk Vanessa dengan konsekuensi pernikahan palsu ini.”
Hiro
semakin terheran-heran. “Sebentar, seprtinya ada kesalahpahaman.”
“Itu
benar..” Vanessa angkat bicara, ia baru saja kembali dari dapur membawa nampan
berisi makanan. “Aku harus mengucapkan banyak terimakasih pada Hiro, ia sudah
mengizinkan aku tinggal di rumah ini dan memberikan kehidupan yang layak.”
Saat
melewati sofa untuk duduk di sebrang mereka, Vanessa memberi isyarat pada Hiro
melalui pandangan matanya dengan pesan, Jangan menyela ucapanku!
“Tidak
hanya tampan, tapi kau juga punya hati yang baik..” Puji Hani. Gisel dan Yesi
membenarkan dengan anggukan kepala mereka.
Hiro
memandang Vanessa dengan tatapan menuntut penjelasan, namun bahasa tubuh
Vanessa mengisyaratkan bahwa ia akan menjelaskan nanti.
* * *
“Jadi mereka tidak
tahu tentang keluargamu?” Tanya Hiro sepeninggal teman-teman Vanessa dari rumah
mereka.
“Yup.” Vanessa
membenarkan. “Mereka hanya tau bahwa aku anak orang miskin.”
“Mengapa?”
“Karena
aku hanya ingin berteman dengan mereka.” Jawab Vanessa datar lalu melengos
masuk kedalam rumah.
Hiro
terdiam, ia menatap kosong jalanan di depan rumahnya. Vanessa, ia semakin tidak
mengerti gadis itu. Tapi yang jelas ia menyadari sesuatu, hatinya bertambah
resah ketika mengingat ucapannya tadi.
Kenapa? Kau takut kehilangan mereka? karena hanya mereka yang sudi
berteman denganmu, iya kan? Hiro
harus membenarkan perkataanya itu. Bukan, bukan karena hanya mereka yang sudi berteman
dengan Vanessa, tapi karena Vanessa lah yang hanya ingin berteman dengan dengan
gadis-gadis itu saja.
Ia kaya tapi berusaha tidak terlihat kaya.
Apakah sebenarnya dia juga cantik, tapi berusaha agar tidak
terlihat cantik?
Hiro
berpikir selagi berjalan memasuki rumahnya. Ketika di dalam ia melihat Vanessa
menyimpan selimut di atas sofa, ia kemudian memperhatikan gadis itu tanpa
berkedip. Tiba-tiba saja ia penasaran dengan jalan pikiran Vanessa.
Benar, apa yang membuatnya tidak ingin berdandan mempebaiki
penampilanya?
“Apa
kau sering mendengar orang lain mengejek penampilanmu?” Selidik Hiro seraya
menempatkan bokongnya di sofa.
Vanessa
mengikuti jejak Hiro dengan duduk di sofa yang bersebrangan. “Terlalu sering,
bahkan mungkin sudah menjadi makanan sehari-hari.”
“Lalu
mengapa kau tidak mengubah gaya penampilanmu? Orang-orang sering meremehkanmu,
memandang sebelah mata ke arahmu, mengejekmu, mengumpat tentang penampilan
kumalmu..” Termasuk aku orangnya, aku melakukanya juga.
“Jika
mereka mengejek biarkan saja. Yang penting aku nyaman dengan pakaianku.”
Hiro
menggeram “Kau benar-benar...... Yakk, siapa tau Samudra akan memperhatikanmu
jika kau punya penampilan menarik.”
“Untuk
apa? Sekarang saja dia sudah mulai melihat ke arahku.”
Menyebut
nama Samudra sontak membuat Hiro mengingat sosok berbaju besi tadi siang,
pikiranya dengan sangat yakin menyimpulkan bahwa dialah Vampire yang di
singgung Pery.
“Ngomong-ngomong,
Samudra itu orang seperti apa?” Tanya Hiro penasaran.
Vanessa
menatap Hiro bingung. “Kenapa tiba-tiba saja mananyakan tentang dia?”
“Entahlah,
aku hanya....”
“Jangan
sampai kau mengganggunya.” Kata Vanessa dengan wajah mengancam.
Hiro
mendelik tajam. “Untuk apa aku mengganggunya?”
“Aku
tidak tahu, yang jelas jangan sampai kau menampakan wajah di hadapanya. Aku
tidak ingin Samudra mengetahui tentang suamiku. Aku ingin terus mengejarnya
dengan tenang.”
“Lakukan
sesuka hatimu, lagipula aku juga tidak ingin berurusan dengan si SAMUDRA
kesayangamu itu.”
Hiro
memonyongkan bibir kesal kemudian meraih selimut dan mulai membentangkanya, ia berbaring
di atas sofa memunggungi Vanessa.
“Sofa
ini terlalu sempit, ganti dengan yang lebih lebar.” Kata Hiro.
“Ganti
saja dengan uangmu sendiri.” Celoteh Vanessa sebelum akhirnya beranjak pergi ke
kamarnya.
“Gadis
buruk rupa menyebalkaaaaaaaaaaaaaaaan.” Umpat Hiro merasakan tanganya gatal
ingin melempar bantal ke arah Vanessa.
* * *
Pagi
itu Hiro menangkap sosok Samudra berjalan dari parkiran mobil di Sebelah Barat
menuju Fakultas Pertanian yang arahnya berlawanan, otomatis dia akan selalu
melewati gerbang utama kampus jika ingin menuju ke kelasnya. Samudra tampak
seperti manusia normal yang lain, rambutnya di tata rapih dengan gaya cepak,
perawakannya tinggi dan berisi, kulitnya putih, alisnya tebal dengan hidung
mancung dan bibir yang tipis. Singkatnya, perwujudan fisik Samudra jauh di atas
rata-rata.
“SAMUDRA... AAAA... TUNGGGU AKU!!! Aku akan mengawalmu ke gedung
fakultas Pertanian.”
Hiro tersentak dan baru tersadar kembali saat Vanessa mendahului
langkahnya dengan berlari ke arah Samudra. Ia sempat mengumpat pada Vanessa
karena sudah membuatnya kaget, meski begitu dia tetap membiarkan Vanessa
mengejar Samudra dengan tenang.
Samudra tak berpaling sedikitpun saat Vanessa meneriakan namanya,
ia tetap berjalan lurus dengan ekspresi datar.
“Yah, jika aku menjadi Samudra akupun akan melakukan hal yang
sama.” Kata Hiro sambil menganggu-anggukan kepala melihat Samudra yang tetap
acuh. Tapi sekali lagi ia melihat ke arah Vanessa, kali ini seraya menghentikan
langkahnya.
“Tapi meskipun dia menyebalkan, Vanessa adalah gadis yang baik. Dia
seharusnya medapatkan penghargaan karena sudah mengejar Samudra sampai sejauh
ini.” Hiro menatap kepergian Vanessa sambil berpikir. “Andai saja gadis itu
adalah orang yang patuh, aku pasti bisa menolongnya. Hmm tapi sudahlah, harus
menunggu dunia terbalik dulu baru Vanessa akan mematuhi ucapanku.”
Tepat
ketika Hiro akan meneruskan langkahnya, seseorang menahan bahu kananya. Hiro
lantas menoleh seketika dan menjumpai Ramon tersenyum di belakangnya. Gellar
yang berada di samping Ramon menyunggingkan senyum lebar seraya bersiap
merangkul Hiro.
“Adik
bungsuku....” Seru Gellar saat merangkul Hiro sebentar. “Aku senang sekali bisa
mengunjungimu. Apa kau baik-baik saja?”
Hiro
mengangguk dengan wajah luar biasa terkejut bercampur bahagia. “Aku baik-baik
saja, aku juga senang kalian datang kesini.”
“Kesebelas
saudaramu ngotot ingin datang mengunjungimu, mereka merindukan suasana bawah
tanah yang ramai karena ulahmu.” Ramon terkekeh.
“Tapi
tunggu, ini aneh.”Hiro terdiam. “Baru kamarin Vigo dan Pery datang kesini, dan
sekarang kalian. Ini tidak seperti biasanya, kalian tidak pernah berkunjung
dalam selang waktu yang sebentar, ada apa?”
“Dunia
bawah tanah heboh mendengar soal pernikahanmu dari Vigo..”
“Mengapa
harus heboh, padahal pernikahan itu hanya sementara.” Potong Hiro risih.
“Karena
kau telah masuk ke lingkungan yang baru, ayah mengutus Gellar untuk membantumu
supaya dapat beradaptasi dengan mudah.” Kata Ramon tanpa menghiraukan kicauan
Hiro.
“Mungkin
saja kau membutuhkan mantra manipulasi pikiran.” Ucap Ramon. “Ya supaya
manusia-manusia disini tidak terlalu menyusahkanmu.”
Hiro
mengerutkan kening sambil menerawang, detik selanjutnya tampak wajahnya
berbinar saat terbayang wajah Vanessa dalam pikiranya. “Gellar, aku ingin
meminta mantra manipulasi pikiran yang bisa membuat manusia mematuhi
perintahku.” Katanya bersemangat.
TBC
* * *
Ini April dkk, sudah di share chapter 6 nya. Sebagai ganti karena
chapter ini telat di share, chapter 7 akan di selesaikan secepatnya. Hope u
like itu ;)









0 komentar:
Posting Komentar