Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Weekly post

BLACK FAIRY (Fantasy) Chapter 6




TENTANG VANESSA
            Hiro mendapati dirinya dalam keadaan bingung saat keluar dari bagian Administrasi Mahasiswa. Anjani benar-benar menghilang tanpa menyisakan jejak sedikitpun, baik dalam semua dokumen mahasiswa  maupun dalam ingatan semua orang. Hiro merasakan setengah hatinya di landa kehampaan, Anjani adalah Kandidat Black Fairy paling unggul diantara semua gadis di kampusnya. Jika dia hilang secara misterius seperti ini. bagaimana Hiro bisa melanjutkan perncariannya?
            Apa mungkin Anjanilah sang Black Fairy? Ia menghilang karna sudah ketahuan olehku.
            Untuk kesekian kalinya Hiro memijit pelipisnya sendiri, hari sudah semakin sore namun tak satu pun dari ribuan pertanyaan dikepalanya bisa terjawab.
            Samudra.. Tiba-tiba Hiro teringat pemuda berbaju besi itu. Dialah satu-satunya orang yang bisa memberiku jawaban.
            Dengan langkah lebar, Hiro memutar haluan menuju Fakultas Pertanian. Saat ini ia tidak memikirkan apapun selain keinginan mendapatkan petunjuk.
            “Kau mau kemana buru-buru begitu?” Kata suara dengan nada khas yang sangat dikenali Hiro.
Hiro menghentikan langkahnya seketika, saat berbalik ia mendapati Vigo dan Pery ada di belakangnya. Dari sana Hiro merasakan hatinya lebih lega dengan kemunculan mereka.
            “Vigo... Pery..” Hiro tak kuasa menahan pilu untuk berlari menghambur ke arah mereka. “Aku kira kalian tak akan menjenguk-ku lagi”.
            “Bagaimana bisa kami setega itu padamu.” Pery dengan nada bewibawanya bicara sambil menepuk-nepuk bahu Hiro.
            “Pery, bawa aku pulang ke tempat kita. Aku sudah tidak bisa lagi tinggal di dunia manusia, Black Fairy telah pergi dari tempat ini. Dia menghilang.” Rengek Hiro.
            “Apa maksudmu..” Vigo tampak terkejut.
            “Coba ceritakan pada kami!” Pery mempersiapkan telinganya untuk mendengar penjelasan Hiro.
            Hiro menghirup nafas dalam-dalam lalu mulai bercerita panjang lebar dari mulai merasakan keanehan cuaca sampai akhirnya melihat Black Fairy secara langsung.
            “Kau yakin bahwa Black Fairy itu asli?” Tanya Vigo ragu, mengingat kejadian terakhir saat Hiro membawa pulang Black Fairy yang salah.
            “Aku sangat yakin Vigo, untuk kali ini percayalah padaku.”
            “Sepertinya kali ini Hiro benar.” Ucap Pery, Vigo langsung mengangguk percaya ketika Pery yang menyatakannya.
“Lalu hubungan Black Fairy dengan gadis bernama Anjani yang kau ceritakan itu bagaimana?” Lanjut Pery.
            “Setelah Black Fairy menghilang aku langsung mencari Anjani. Tapi anehnya aku tak bisa menemukan dia dimanapun, padahal tadi pagi saat bertemu denganya ia masih baik-baik saja.”
            “Bagaimana bisa kau langsung menghubungkanya dengan Black Fairy, siapa tau gadis itu sedang tidak berada di kampus saat kau mencarinya.” Sanggah Vigo.
            “Aku tidak seceroboh itu sekarang.” Hiro mendelik tak terima. “Bagian teraneh nya adalah, Anjani bukan hanya tidak bisa di temukan dimanapun tapi dia juga menghilang dari ingatan semua orang. Dia seperti tidak pernah ada sebelumnya, tidak ada seorangpun yang mengingatnya selain aku.”
            Vigo dan Peter sama-sama memasang wajah kebingungan, mereka kemudian saling pandang dan mengangguk satu sama lain.
            “Kau bilang sebelumnya cuaca menjadi aneh dan kabut misterius turun dari langit?” Selidik Pery.
            Hiro mengangguk. “Apa kau tau sesuatu.”
            “Tidak salah lagi, itu adalah ulah Vampire.”
            Hiro tersentak kaget. “Vampire?”
            “Vampire termasuk kaum kita, hanya saja mereka tidak mau bergabung dan memisahkan diri pada saat pemidahan tempat.” Pery menjelaskan dengan tenang.
            “Mengapa kaum kita tidak mempertahankan mereka?”
            “Vampir adalah jenis yang cerdik, cepat, kuat dan tidak terkendali. Cenderung menuruti insting jenis mereka sendiri dan tidak suka di perintah. Agak sulit jika harus berbaur dengan mereka, untuk itulah kaum kita memilih setuju agar mereka memisahkan diri.”
            “Kemarin ayah mendapatkan informasi bahwa pembunuhan yang terlupakan di Universias ini melibatkan jenis Vampire.” Vigo menambahkan.
            “Pembunuhan yang terlupakan?” Hiro mengulang dengan eskpresi seakan baru menyadari sesuatu. “Aku hampir melupakan tentang hal itu. Ya, Ramon pernah menjelaskanya.”
            “Karena semua orang tidak akan mengingatnya lagi, di sebutlah pembunuhan yang terlupakan.”
            “Tapi aku mengingatnya.” Hiro menyanggah ucapan Pery. “Aku mengingatnya dengan jelas.”
            “Tentu saja, kau mengingatnya karna kau bukan manusia tetapi bagian dari kami.”
            Hiro tersanjung, matanya berbinar-binar. “Kau benar Pery, tentu saja aku adalah bagian dari kalian. Tapi apakah korban dari pembunuhan yang terlupakan itu akan benar-benar mati?”
            “Tak ada yang bisa menjamin ia masih hidup, kemungkinan besarnya ia akan mati.”
            Hiro merasakan hatinya mencelos saat mengingat wajah Anjani, senyum gadis itu yang menawan, perawakan yang seperti model, kebaikan hatinya, Hiro tidak akan melupakan semua itu. Sayang hanya dia seorang yang bisa mengingatnya.
            “Karena sebelumnya kita sudah mengadakan gencatan senjata dengan jenis Vampir, kaum kita tidak di perbolehkan untuk mencampuri segala urusan mereka. Oleh karena itu usahakan jangan sekali-kali terlibat sedikitpun dalam kasus pembunuhan yang terlupakan.” Pery mengingatkan.
            “Apakah ini alasan Black Fairy sering muncul disini?” Tanya Hiro.
            “Sepertinya begitu.”
            “Apa alasan jenis Vampir melakukan pembunuhan yang terlupakan?”
            Vigo menggeleng. “Itulah yang tidak kami ketahui. Tapi yang jelas, aktivitas mereka di dunia manusia pasti memiliki tujuan yang sama dengan kita.”
            “Menemukan Black Fairy?” Tebak Hiro.
            Vigo mengangguk sebagai jawaban. Hiro memutar bola matanya, memililki saingan untuk mendapatkan Black Fairy sungguh telah menambah beban hidupnya.
            Memikirkan tentang saingan yang sama-sama ingin menemukan Black Fairy, tiba-tiba saja Hiro mengingat Samudra. Apalagi setelah ia menyaksikan Samudra tampak serius mengarahkan mata panah ke langit tempat Black Fairy menghilang, hal itu semakin membuat Hiro yakin.
            “Apa mungkin Vampir itu adalah Samudra?” Kata Hiro terdengar bergumam.
            “Kau sudah mengetahuinya?” Vigo dan Pery terlihat sama-sama tertarik.
            “Entahlah, tapi sepertinya memang benar dia orangnya.”
            “Baguslah jika kamu sudah tau siapa Vampir itu, yang selanjutnya harus kau lakukan adalah menjauhinya. Jangan sampai terlibat apa pun denganya.” Pery mengingatkan kembali.
            Hiro mengangguk. “Aku mengerti.”
            “Ngomong-ngomong dimana tempat tinggalmu sekarang? Ayah sempat khawatir, dia bilang akan memberikan kelonggaran bila keadaanmu benar-benar buruk.” Ujar Vigo.
            “Sebenarnya aku sudah punya tempat tinggal yang layak dan juga uang saku, hanya saja konsekuensinya aku harus menikahi gadis buruk rupa.” Jawab Hiro dengan wajah malas.
            “APAA? MENIKAH?”
            Pery dan Vigo sama-sama membulatkan mata mereka terkejut sekaligus tak percaya.
            “Aku pun terpaksa melakukanya.”
            “Kami butuh penjelasan yang serinci-rincinya. Ada apa sebenarnya? Mengapa hidupmu jadi sekacau ini hanya dalam hitungan hari?”
            “Begini ceritanya.” Hiro menarik nafas panjang, dan untuk kedua kalinya bercerita panjang lebar kepada Vigo dan Pery.
*          *          *
Setelah matahari terbenam dalam peraduanya, selimut hitam sang malam menyelimuti langit Kota Tasikmalaya yang tenang. Waktu menunjukan pukul 19.00 ketika mobil manipulasi yang ceritanya di kemudikan Pery tiba di halaman rumah baru Hiro. Sepanjang itu mereka membahas semua tentang pernikahanya dengan Vanessa.
“Tidak masalah selama gadis itu memperlakukanmu dengan baik.” Kata Pery.
“Baik pantatku! Dia sangat datar bahkan kadang-kadang cenderung mengabaikanku, semalam saja aku dibiarkan tidur di lantai. Aku selalu dibuat kesal hanya dengan melihat waajahnya, intinya aku benar-benar membencinya.”
“Sepertinya dia telah menyita banyak perhatianmu.” Goda Vigo. “Aku jamin kau akan menyukainya suatu saat.”
“APAA? Uhekkkkk..... Lihatlah wajah buruk rupanya dan baru bicara.” Gerutu Hiro tak terima. “Wajahnya membuatku mual, bicaranya selalu bikin kesal, dan sikapnya benar-benar menyebalkan. Kau pikir aku akan menyukai orang seperti itu? Oh ayolah, aku masih punya akal sehat.”
“Baiklah-baiklah, aku hanya bercanda kenapa kau serius sekali.” Kata Vigo seraya terkekeh, Pery ikut-ikutan mentertawakan ekspresi marah Hiro.
“Sudahlah, aku malas melihat wajah kalian.” Kata Hiro kesal seraya keluar dari mobil dan membanting pintunya cukup keras. Tak lama kemudian ia terkejut saat melihat Vanessa berdiri di belakang mobil sambil menenteng keresek belanjaan.
Hiro tergagap ketika melihat wajah datar Vanessa, Vigo dan Pery turun dari mobil sebelum Hiro sempat mengeluarkan sepatah kata.
“Apa kamu adalah adik ipar kami?” Seru Vigo dengan wajah menahan tawa sambil menghampiri Vanessa lalu menjabat tanganya.”Aku Vigo, kakak ketiga Hiro.”
“Pery.” Kali ini Pery menyodorkan lenganya, ketika itu ia menatap lekat-lekat wajah Vanessa dengan serius.
“Vanessa.” Ujar Vanessa memperkenalkan diri. “Terimakasih karena sudah menyempatkan waktu berkunjung kemari. Aku sudah dengar bahwa Hiro memiliki banyak saudara, tapi aku tidak menyangka saudara-saudaranya setampan ini.” Puji Vanessa tersipu.
“Kami juga tidak menyangka bahwa adik ipar kami ternyata secantik ini.” Kata Vigo menahan tawa sambil melempar pandangan mengejek ke arah Hiro, Pery sempat menyikutnya.
Hiro tidak berdiam diri, ia mengambil tindakan dengan menyeret kedua saudaranya masuk kedalam mobil. “Pergilah kalian... Titip salam rinduku pada ayah dan yang lainya.”
“Tapi kami ingin berbincang lebih lama dengan istrimu.” Goda Vigo.
“Dia sibuk, cepatlah pergi!” Tegas Hiro.
“Baiklah, kami akan pergi.” Kata Pery ketika ia dan Vigo sudah ada di dalam mobil. “Kami pasti akan datang mengunjungimu lagi.”
“Selamat tinggal adik ipar, kami pasti akan kembali.” Teriak Vigo mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. Vanessa hanya membalasnya dengan tersenyum kecil.
Dengan tanpa rasa hormat, Hiro mendorong kepala Vigo masuk kembali kedalam mobil sehingga komunikasinya dengan Vanessa berakhir. “Khusus untukmu tidak datang kesini lagi juga tidak apa-apa.”
“Kau ini tega sekali pada kakakmu.” Gerutu Vigo sambil membetulkan tatanan rambutnya.
“Kami berangkat.” Kata Pery tepat ketika terdengar suara mesin menderu, tak lama kemudian mobil mereka pun melaju meninggalkan area perumahan.
Vanessa tidak mengatakan apa-apa dan langsung melangkahkan kakinya menuju rumah. Hiro menatap ke arahnya dengan perasaan bersalah.
“Apa kau mendengarkan percakapan kami tadi?” Tanya Hiro takut-takut.
Vanessa menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Hiro. “Percakapan yang mana?”
“Percakapan tadi, saat aku mengatakan hal yang tidak mengenakan tentangmu.”
Vanessa terdiam sesaat, ia kemudian menjawab seraya meneruskan langkahnya. “Tidak masalah meskipun aku mendengarnya, santai saja.”
Pembawaan Vanessa yang biasa saja justru malah membuat Hiro semakin merasa bersalah. Aku selalu mengatakan bahwa ia menyebalkan, tapi sebenarnya akulah yang lebih menyebalkan. Meskipun merasa tidak enak, Hiro memutuskan untuk tidak terlalu memikirkanya dan bersikap biasa saja seperti yang dilakukan Vanessa.
“Oiyaa, tadi saat di kampus kau bilang kakek ingin bertemu dengan kita. Ada apa?”
“Kakek ingin mengajak kita membeli perabotan rumah, karena kamu tidak ada aku yang memilihnya sendiri.” Jawab Vanessa datar.
“Oh..” Hiro mengangguk, ia kemudian berpikir untuk mencari topik pembicaraan yang lain.
“Kau habis darimana?” Tanya Hiro basa-basi.
“Ke toko, membeli makanan. Teman-temanku mampir kesini.”
“Teman-temanmu? Siapa?”
“Gisel, Hani dan Yesi. Ingat mereka? Teman-temanku yang waktu di penginapan.”
“Oh, teman-temanmu yang menjebak kita itu.”
“Jangan mengatakan hal yang sembarangan tentang teman-temanku.” Tegas Vanessa tepat ketika memegang kenop pintu.
“Kenapa? Kau takut kehilangan mereka? karena hanya mereka yang sudi berteman denganmu, iya kan?”
Vanessa mendelik sebelum akhirnya membuka kenop pintu.
“Nes, jam berapa suamimu pulang. Mengapa dia lama sekali?” Keluh suara yang ada di dalam.
Saat Hiro muncul, dua dari tiga teman Vanessa menghambur ke arahnya dengan mata berbinar-binar dan saling berebutan menyalami tangan Hiro. Vanessa membiarkan Yesi dan Gisel mengerumuni suaminya sementara dirinya sendiri melengos ke dapur.
“Aku Gisel.” Gadis berkulit gelap dengan perawakan kurus mengenalkan diri dalam keadaan terpesona menatap Hiro.
“Aku... Yesi..” Kini giliran gadis gendut yang terdapat tompel di pelipisnya menyalami Hiro.
Menatap mereka membuat Hiro berfikir. Benar-benar geng buruk rupa, mereka cocok.
“Hiro..” Ucap Hiro sambil tersenyum setengah hati.
“Bagaimana kalau kita berbincang sambil duduk?” Usul Yesi sambil mengapit tangan Hiro.
Gisel tak mau kalah dengan mengapit lengan Hiro yang satunya lagi, kemudia mereka berdua menyeret Hiro agar duduk di sofa. Hiro baru menyadari bahwa saat ini rumahnya sudah di lengkapi perabotan rumah, seperti sofa, TV dan perabotan yang lainya.
“Tidak usah sekaku itu, Vanessa sudah memberitahu semuanya.” Kata Yesi meihat gelagat Hiro yang kebingungan harus berbuat apa.
“Kami sudah mengetahui semuanya, tentang pernikahan palsu ini. Kami sangat memahaminya.” Kata Gisel.
“Maafkan kami karena waktu itu memberi kesaksian yang menyudutkan kalian.” Sesal Yesi. “Kami benar-benar tidak tahu dan kami sangat menyesalinya.”
“Kami sempat tidak punya keberanian menemui Vanessa lagi, dan berpikir bahwa tidak pantas bersahabat denganya. Tapi setelah ia mengatakan hidupnya lebih baik ketika terjebak pernikahan denganmu, kamipun merasa lega.”
Hiro membulatkan matanya ketika mendengar hal tersebut.
“Aihhhh kau benar-benar tampan sekali, betapa beruntungnya Vanessa meskipun kalian hanya menikah untuk sementara.” Gumam Yesi menangkup kedua pipinya dengan wajah merona.
“Kau bahkan lebih tampan dari Samudra, aku tidak mengerti kenapa Vanessa tidak berpaling saja kepadamu.” Kata Gisel.
Mendengar ia lebih tampan dari Samudra, Hiro menarik sudut bibirnya bangga.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA, lihat senyumnya itu. Aku bisa gila..” Jerit Yesi membuat Hiro terperanjat kaget.
“Sebenarnya ibumu mengidam apa saat ia mengandung, aku ingin mendapatkan resepnya. Ah tidak, aku ingin mendapatkan gen nya langsung darimu. Bagaimana jika kita membuat anak yang selucu dan setampan dirimu” Goda Gisel seraya menutup wajahnya yang kemerahan.
Hiro seketika merinding dan langsung menggeleng kuat-kuat.
“Berhentilah merayu suami teman kalian sendiri.” Kata seorang gadis pendek berkulit sawo matang, di tanganya ia membawa nampan berisi minuman.
Gisel dan Yesi mendelik ke arah Hani yang kini tengah mengatur minuman diatas meja.
“Ini jus jambu, aku buatkan khusus untukmu. Jus ini bisa menjaga kesehatan kulitmu, minumlah..” Kata Hani lembut seraya menyodorkan segelas jus jambu pada Hiro.
Seketika Gisel dan Yesi meneriaki Hani. “Kau sendiri merayunya, dasar cebo.”
Hani tertawa melihat tingkah kesal kedua temanya.
“Sekalipun dia suami aslinya Vanessa, aku tetap ingin merayunya.” Kata Yesi sambil memeluk erat lengan Hiro. Hiro segera menampiknya tidak suka.
“Kami minta maaf Hiro, sudah membuat bising rumahmu dan sedikit mengotorinya.” Kata Hani, sepertinya ia adalah tipikal paling dewasa diantara geng buruk rupa itu menurut pandangan Hiro.
“Karena kalian adalah teman Vanessa, kurasa itu tidak masalah..”
“Aaaaaaaaaaaaaa, betapa baik dan pengertianya. Bukan hanya mengizinkan Vanessa tinggal di rumah ini, tapi ia juga memperlakukan Vanessa seperti seorang istri sungguhan.” Kata Yesei.
“Apa?” Kata Hiro menatap tidak mengerti ke arah Yesi.
“Bukankah begitu? Kau menginginkan kebebasan dari keluargamu dan kamu memberikan kehidupan yang layak untuk Vanessa dengan konsekuensi pernikahan palsu ini.”
Hiro semakin terheran-heran. “Sebentar, seprtinya ada kesalahpahaman.”
“Itu benar..” Vanessa angkat bicara, ia baru saja kembali dari dapur membawa nampan berisi makanan. “Aku harus mengucapkan banyak terimakasih pada Hiro, ia sudah mengizinkan aku tinggal di rumah ini dan memberikan kehidupan yang layak.”
Saat melewati sofa untuk duduk di sebrang mereka, Vanessa memberi isyarat pada Hiro melalui pandangan matanya dengan pesan, Jangan menyela ucapanku!
“Tidak hanya tampan, tapi kau juga punya hati yang baik..” Puji Hani. Gisel dan Yesi membenarkan dengan anggukan kepala mereka.
Hiro memandang Vanessa dengan tatapan menuntut penjelasan, namun bahasa tubuh Vanessa mengisyaratkan bahwa ia akan menjelaskan nanti.
*          *          *
            “Jadi mereka tidak tahu tentang keluargamu?” Tanya Hiro sepeninggal teman-teman Vanessa dari rumah mereka.
            “Yup.” Vanessa membenarkan. “Mereka hanya tau bahwa aku anak orang miskin.”
“Mengapa?”
“Karena aku hanya ingin berteman dengan mereka.” Jawab Vanessa datar lalu melengos masuk kedalam rumah.
Hiro terdiam, ia menatap kosong jalanan di depan rumahnya. Vanessa, ia semakin tidak mengerti gadis itu. Tapi yang jelas ia menyadari sesuatu, hatinya bertambah resah ketika mengingat ucapannya tadi.
Kenapa? Kau takut kehilangan mereka? karena hanya mereka yang sudi berteman denganmu, iya kan? Hiro harus membenarkan perkataanya itu. Bukan, bukan karena hanya mereka yang sudi berteman dengan Vanessa, tapi karena Vanessa lah yang hanya ingin berteman dengan dengan gadis-gadis itu saja.
Ia kaya tapi berusaha tidak terlihat kaya.
Apakah sebenarnya dia juga cantik, tapi berusaha agar tidak terlihat cantik?
Hiro berpikir selagi berjalan memasuki rumahnya. Ketika di dalam ia melihat Vanessa menyimpan selimut di atas sofa, ia kemudian memperhatikan gadis itu tanpa berkedip. Tiba-tiba saja ia penasaran dengan jalan pikiran Vanessa.
Benar, apa yang membuatnya tidak ingin berdandan mempebaiki penampilanya?
“Apa kau sering mendengar orang lain mengejek penampilanmu?” Selidik Hiro seraya menempatkan bokongnya di sofa.
Vanessa mengikuti jejak Hiro dengan duduk di sofa yang bersebrangan. “Terlalu sering, bahkan mungkin sudah menjadi makanan sehari-hari.”
“Lalu mengapa kau tidak mengubah gaya penampilanmu? Orang-orang sering meremehkanmu, memandang sebelah mata ke arahmu, mengejekmu, mengumpat tentang penampilan kumalmu..” Termasuk aku orangnya, aku melakukanya juga.
“Jika mereka mengejek biarkan saja. Yang penting aku nyaman dengan pakaianku.”
Hiro menggeram “Kau benar-benar...... Yakk, siapa tau Samudra akan memperhatikanmu jika kau punya penampilan menarik.”
“Untuk apa? Sekarang saja dia sudah mulai melihat ke arahku.”
Menyebut nama Samudra sontak membuat Hiro mengingat sosok berbaju besi tadi siang, pikiranya dengan sangat yakin menyimpulkan bahwa dialah Vampire yang di singgung Pery.
“Ngomong-ngomong, Samudra itu orang seperti apa?” Tanya Hiro penasaran.
Vanessa menatap Hiro bingung. “Kenapa tiba-tiba saja mananyakan tentang dia?”
“Entahlah, aku hanya....”
“Jangan sampai kau mengganggunya.” Kata Vanessa dengan wajah mengancam.
Hiro mendelik tajam. “Untuk apa aku mengganggunya?”
“Aku tidak tahu, yang jelas jangan sampai kau menampakan wajah di hadapanya. Aku tidak ingin Samudra mengetahui tentang suamiku. Aku ingin terus mengejarnya dengan tenang.”
“Lakukan sesuka hatimu, lagipula aku juga tidak ingin berurusan dengan si SAMUDRA kesayangamu itu.”
Hiro memonyongkan bibir kesal kemudian meraih selimut dan mulai membentangkanya, ia berbaring di atas sofa memunggungi Vanessa.
“Sofa ini terlalu sempit, ganti dengan yang lebih lebar.” Kata Hiro.
“Ganti saja dengan uangmu sendiri.” Celoteh Vanessa sebelum akhirnya beranjak pergi ke kamarnya.
“Gadis buruk rupa menyebalkaaaaaaaaaaaaaaaan.” Umpat Hiro merasakan tanganya gatal ingin melempar bantal ke arah Vanessa.
*          *          *
Pagi itu Hiro menangkap sosok Samudra berjalan dari parkiran mobil di Sebelah Barat menuju Fakultas Pertanian yang arahnya berlawanan, otomatis dia akan selalu melewati gerbang utama kampus jika ingin menuju ke kelasnya. Samudra tampak seperti manusia normal yang lain, rambutnya di tata rapih dengan gaya cepak, perawakannya tinggi dan berisi, kulitnya putih, alisnya tebal dengan hidung mancung dan bibir yang tipis. Singkatnya, perwujudan fisik Samudra jauh di atas rata-rata.
“SAMUDRA... AAAA... TUNGGGU AKU!!! Aku akan mengawalmu ke gedung fakultas Pertanian.”
Hiro tersentak dan baru tersadar kembali saat Vanessa mendahului langkahnya dengan berlari ke arah Samudra. Ia sempat mengumpat pada Vanessa karena sudah membuatnya kaget, meski begitu dia tetap membiarkan Vanessa mengejar Samudra dengan tenang.
Samudra tak berpaling sedikitpun saat Vanessa meneriakan namanya, ia tetap berjalan lurus dengan ekspresi datar.
“Yah, jika aku menjadi Samudra akupun akan melakukan hal yang sama.” Kata Hiro sambil menganggu-anggukan kepala melihat Samudra yang tetap acuh. Tapi sekali lagi ia melihat ke arah Vanessa, kali ini seraya menghentikan langkahnya.
“Tapi meskipun dia menyebalkan, Vanessa adalah gadis yang baik. Dia seharusnya medapatkan penghargaan karena sudah mengejar Samudra sampai sejauh ini.” Hiro menatap kepergian Vanessa sambil berpikir. “Andai saja gadis itu adalah orang yang patuh, aku pasti bisa menolongnya. Hmm tapi sudahlah, harus menunggu dunia terbalik dulu baru Vanessa akan mematuhi ucapanku.”
Tepat ketika Hiro akan meneruskan langkahnya, seseorang menahan bahu kananya. Hiro lantas menoleh seketika dan menjumpai Ramon tersenyum di belakangnya. Gellar yang berada di samping Ramon menyunggingkan senyum lebar seraya bersiap merangkul Hiro.
“Adik bungsuku....” Seru Gellar saat merangkul Hiro sebentar. “Aku senang sekali bisa mengunjungimu. Apa kau baik-baik saja?”
Hiro mengangguk dengan wajah luar biasa terkejut bercampur bahagia. “Aku baik-baik saja, aku juga senang kalian datang kesini.”
“Kesebelas saudaramu ngotot ingin datang mengunjungimu, mereka merindukan suasana bawah tanah yang ramai karena ulahmu.” Ramon terkekeh.
“Tapi tunggu, ini aneh.”Hiro terdiam. “Baru kamarin Vigo dan Pery datang kesini, dan sekarang kalian. Ini tidak seperti biasanya, kalian tidak pernah berkunjung dalam selang waktu yang sebentar, ada apa?”
“Dunia bawah tanah heboh mendengar soal pernikahanmu dari Vigo..”
“Mengapa harus heboh, padahal pernikahan itu hanya sementara.” Potong Hiro risih.
“Karena kau telah masuk ke lingkungan yang baru, ayah mengutus Gellar untuk membantumu supaya dapat beradaptasi dengan mudah.” Kata Ramon tanpa menghiraukan kicauan Hiro.
“Mungkin saja kau membutuhkan mantra manipulasi pikiran.” Ucap Ramon. “Ya supaya manusia-manusia disini tidak terlalu menyusahkanmu.”
Hiro mengerutkan kening sambil menerawang, detik selanjutnya tampak wajahnya berbinar saat terbayang wajah Vanessa dalam pikiranya. “Gellar, aku ingin meminta mantra manipulasi pikiran yang bisa membuat manusia mematuhi perintahku.” Katanya bersemangat.
TBC
*          *          *
Ini April dkk, sudah di share chapter 6 nya. Sebagai ganti karena chapter ini telat di share, chapter 7 akan di selesaikan secepatnya. Hope u like itu ;)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar